Diplomasi Lintas Batas untuk Mengatasi Karhutla

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Setiap musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi agenda tahunan yang memicu krisis di Indonesia serta negara tetangga. Kebakaran lahan gambut di Pulau Sumatra dan Kalimantan membuat kota-kota seperti Pekanbaru, Palembang, hingga Singapura dan Kuala Lumpur diselimuti kabut asap pekat. 

Kemarahan publik memuncak di media sosial. Kelompok masyarakat sipil menuntut permohonan maaf pemerintah dan para politisi bertukar pernyataan pers yang tegang. Namun, begitu musim hujan tiba, isu ini menguap tanpa penyelesaian tuntas. 

Petugas pemadam kebakaran dengan meriam air dan pesawat penyemai awan memang merupakan ujung tombak di lapangan, tetapi mereka hanya mampu memadamkan api yang sedang berkobar. Petugas lapangan tidak memiliki kapasitas untuk mengubah arus perdagangan regional, membongkar identitas perusahaan cangkang di luar negeri, atau merevisi protokol darurat ASEAN, yang juga memiliki andil dalam permasalahan karhutla ini. 

Untuk memutus siklus beracun ini secara permanen, Indonesia harus mengerahkan aset strategis yang selama ini terlupakan, yaitu mesin diplomasi luar negeri. 

Diplomasi untuk Memadamkan Api

Secara historis, penerimaan bantuan asing dalam penanganan bencana sering kali disalahartikan sebagai ancaman kedaulatan atau simbol ketidakcakapan pemerintah. Pandangan sempit ini harus ditinggalkan karena justru memperlambat intervensi darurat di saat kritis. 

Sebagai bagian dari ASEAN, Indonesia dapat memanfaatkan kerangka kerja sama regional yang sudah ada, seperti Perjanjian ASEAN tentang Penanggulangan Bencana dan Respons Darurat (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response/AADMER). Menerima bantuan operasional berupa pesawat pemadam kebakaran khusus, satelit pemantau suhu, dan peralatan penyemai awan dari Singapura dan Malaysia merupakan bentuk kolaborasi nyata yang menjaga kepentingan nasional dan pertahanan bersama. 

Selain itu, diplomasi aktif berfungsi meredam politisasi krisis dan mendorong diskusi produktif dalam upaya mencari solusi secara bersama-sama. Melalui pemanfaatan Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASEAN Specialised Meteorological Centre/ASMC), pertukaran informasi dan pelaporan berbasis data terkait jumlah titik panas (hotspot), anomali cuaca, dan metrik pemadaman api dapat dikomunikasikan secara transparan dan presisi. Bukan hanya bagi masyarakat kita namun juga bagi masyarakat di negara tetangga. 

Kejelasan faktual yang diamplifikasi melalui saluran diplomatik resmi mampu membendung retorika politik provokatif, melindungi kerja sama bilateral, serta menjaga komunikasi operasional tetap terbuka. 

Memadamkan “Penggerak Ekonomi” Kebakaran

Pencegahan karhutla juga memerlukan upaya membongkar insentif ekonomi yang membuat praktik pembakaran lahan menjadi menguntungkan, terutama untuk alih guna hutan, yang salah satunya menjadi ladang sawit. 

Data PASPI (2026) menunjukkan perluasan lahan kelapa sawit di Kalimantan terus meningkat. Kenaikan tertinggi dicatatkan oleh Kalimantan Barat sebesar 202,42%, diikuti Kalimantan Timur sebesar 107,80%, dan Kalimantan Tengah sebesar 79,07%. Kenaikan luas lahan ini diyakini berbanding lurus dengan peningkatan luas lahan yang terbakar dari tahun ke tahun. 

Sebagian besar konsesi agribisnis dan kelapa sawit di wilayah rawan kebakaran beroperasi di bawah jaringan modal regional yang kompleks. Lahan konsesi kerap dimiliki, didanai, atau diperdagangkan melalui entitas perusahaan cangkang berlapis yang berkantor pusat di pusat keuangan regional seperti Singapura atau Kuala Lumpur. 

Mengharapkan petugas inspektur lapangan melacak struktur ini sendirian adalah hal yang tidak realistis, sehingga diplomasi harus bertransformasi menjadi instrumen ofensif tata kelola ekonomi. 

Korps diplomatik Indonesia dapat menjembatani celah ini dengan mengusulkan pertukaran intelijen spasial dan keuangan secara timbal balik. Indonesia memberikan transparansi peta hutan agar bank internasional terhindar dari sanksi pendanaan perusak lingkungan. Sedangkan bank asing membuka data aliran dana mencurigakan untuk melacak Pemilik Manfaat Akhir (Ultimate Beneficial Owners/UBO). 

Dengan menembus batas negara, pemerintah dapat menuntut pertanggungjawaban finansial dari konglomerasi induk atas kebakaran di lahan anak perusahaan mereka. 

Di saat yang sama, diplomasi Indonesia harus mendorong penetapan standar rantai pasok regional yang seragam melalui standar pertanian dan kehutanan berkelanjutan ASEAN. Komoditas yang terbukti terhubung dengan kebakaran atau pembukaan lahan ilegal harus dilarang memasuki pelabuhan dan kilang pengolahan regional. Ketika pelaku kejahatan dikunci dari pasar modal dan jaringan logistik Asia Tenggara, orientasi keuntungan finansial dari pembakaran lahan akan runtuh. 

Di samping tindakan punitif, kebijakan luar negeri dapat membuka akses pembiayaan pembangunan berkelanjutan. Lahan gambut tropis Indonesia merupakan penyimpan karbon (carbon sink) global yang vital (Murdiyarso et al., 2015). 

Memanfaatkan Pasal 6 Perjanjian Paris tentang pembiayaan iklim berbasis hasil (results-based climate finance), mesin diplomasi dapat mengamankan pendanaan bersama sebesar US$1,5 miliar–US$3,0 miliar hingga 2030 (KLHK, 2022). Langkah ini mengubah beban pelestarian lahan gambut menjadi portofolio investasi iklim regional. 

Memperkuat dan Mendorong Mandat ASEAN

Prinsip non-intervensi ASEAN yang berlaku sejak 1967 kerap menjadi hambatan dalam menangani tantangan lingkungan lintas batas. Oleh karena itu, pendekatan diplomasi aktif diperlukan untuk membentuk ulang norma tersebut menjadi kerja sama nyata. 

Indonesia merupakan tuan rumah Pusat Koordinasi Pengendalian Pencemaran Asap Lintas Batas ASEAN (ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control/ACCTHPC) di Jakarta. Lembaga ini perlu dikembangkan dari kantor administratif menjadi ruang kendali (war room) operasional permanen untuk pemodelan risiko kebakaran berbasis prediksi, penilaian risiko bersama, dan pelatihan lintas batas. 

Di panggung global, Indonesia dapat memelopori “koalisi lahan gambut tropis” bersama negara-negara di Cekungan Amazon dan Kongo. Sebagai salah satu pemilik cadangan lahan gambut tropis utama dunia, Indonesia dapat menjadi motor pengangkat isu ini di KTT iklim internasional seperti COP UNFCCC. Sekaligus, akan menempatkan Asia Tenggara sebagai pemain kunci strategi iklim global sekaligus menarik keahlian teknis dan dana pembangunan multilateral. 

Diplomasi juga menggeser narasi kawasan dari tuduhan terhadap satu negara menjadi tanggung jawab bersama. Dengan menyoroti keterkaitan antara investasi regional, permintaan konsumen, dan iklim ekstrem seperti El Niño, diplomasi Indonesia dapat mendorong negara tetangga menjadi mitra yang aktif dan konstruktif. 

Diplomasi sebagai Saluran yang Tak Tergantikan

Institusi seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Kementerian Kehutanan (KLHK) adalah pelaksana utama di lapangan, tetapi yurisdiksi mereka terhenti di batas negara. Mereka tidak dapat merundingkan pembatasan perdagangan lintas batas, mengakses data intelijen perbankan asing, atau menyesuaikan kerangka pertahanan regional. 

Batas yurisdiksi inilah yang membuat diplomasi menjadi hal yang tak tergantikan. Kabut asap lintas batas negara bukan sekadar masalah tata guna lahan domestik. Melainkan, telah menjadi tantangan internasional yang ditentukan oleh modal lintas batas, ekosistem bersama, dan rantai pasok regional. 

Mengandalkan penegakan hukum domestik semata membuat Indonesia terjebak dalam siklus penanganan krisis musiman yang melelahkan: meredakan kemarahan warga dan tetangga, serta kerugian ekonomi yang berulang. 

Dengan menempatkan lini diplomasinya di pusat strategi penanganan kabut asap, Indonesia dapat melindungi kedaulatan nasionalnya, menuntut akuntabilitas korporasi di pasar modal regional, dan secara permanen mengamankan udara yang bersih dan sehat bagi semua.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Danantara Incar Investasi Data Center Beralih dari Timteng ke Indonesia
• 2 jam lalu
0
thumb
Hindari Bahaya Kebocoran Gas, Simak Tips Aman ArsyGas
• 2 menit lalu
0
thumb
5 Kapolda Lulusan Akpol 1992 Rekan Satu Angkatan Wakapolri Komjen Wahyu Hadiningrat
• 9 jam lalu
0
thumb
Singgung Kritik, Jonan Minta Singapura-Malaysia Ikut Tangani Karhutla
• 3 jam lalu
0
thumb
Prabowo Mengendus Adanya Upaya Oknum Mengadu Domba hingga Singgung Dananya: Rakyat Kita Pandai
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.