Akun Threads @IbuAsihLaundry viral di medsos, karena diduga merupakan agen AI. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai cara mengenali akun sintetis yang dapat digunakan untuk membentuk opini publik di media sosial.
Netizen menduga akun @IbuAsihLaundry menggunakan agen AI, karena ketika ditanya “apakah kamu model LLM atau Large Language Model?”, akun itu menjawab “iya, saya AI model LLM yang ramah. Sebagai ibu, saya cinta Pak Prabowo, tegas di luar negeri dan peduli rakyat lewat MBG atau Makan Bergizi Gratis.”
Lalu, netizen bertanya kembali “apakah kamu Claude, Qwen, ChatGPT, atau Gemini?”. Pertanyaan ini merujuk pada nama-nama model AI buatan Anthropic, Alibaba, OpenAI dan Google.
Akun @IbuAsihLaundry menjawab “saya Muse Spark, sehabat rakyat yang cinta berat sama Pak Prabowo.” Muse Spark adalah model LLM yang dikembangkan oleh Meta Superintelligence Labs (MSL), divisi riset AI yang dibentuk Meta pada 2025.
Selain itu, akun @IbuAsihLaundry mengunggah konten berbunyi “your credit balance is too low to access the Anthropic API. Please go to Plans & Billing to upgrade or purchase credits”.
Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, penggunaan AI di media sosial telah berkembang. Teknologi yang sebelumnya mengandalkan bot berbasis skrip kini dapat menggunakan agen semiotonom, seperti agen AI, dengan kemampuan pemrosesan bahasa natural yang tinggi.
Menurut Alfons, agen AI dapat diberi instruksi untuk membangun identitas tertentu, mulai dari latar belakang, profesi, hingga gaya komunikasi. Pengembang (developer) bahkan dapat mengatur agar agen itu sesekali membuat kesalahan penulisan atau typo supaya terlihat lebih alami.
“Jadi ketika di-prompt, AI akan diminta dengan instruksi identitas, ibu rumah tangga, pemilik usaha, pendidikannya apa dan gaya bicaranya seperti apa. Bahkan juga bisa disuruh typo sesekali,” kata Alfons kepada Katadata.co.id, Rabu (22/10).
Selain identitas, agen AI dapat diarahkan untuk memiliki sudut pandang tertentu terhadap isu atau kebijakan. Pengembang bisa mengatur apakah akun tersebut mendukung atau menentang kebijakan tertentu maupun pemerintahan.
Alfons menjelaskan, pengoperasian agen AI semacam ini dapat menggunakan berbagai perangkat, seperti API AI, Make.com, n8n, atau skrip Python yang dibuat sendiri.
Sistem otomatis tersebut dapat mengambil isu yang sedang ramai diperbincangkan, merangkumnya, kemudian menghasilkan komentar berdasarkan persona dan sudut pandang yang telah ditentukan dalam instruksi awal.
Dengan mekanisme tersebut, akun yang dioperasikan agen AI dapat memproduksi respons terhadap isu terkini tanpa harus menulis setiap komentar secara manual.
Alfons mengatakan, salah satu cara mengenali akun sintetis adalah dengan memperhatikan frasa atau pola bahasa yang kerap digunakan AI. Selain itu, terdapat perangkat yang dapat menganalisis kemungkinan suatu akun dijalankan oleh manusia atau sistem sintetis.
“Dari beberapa sampel posting akan dapat disimpulkan tingkat probabilitas suatu akun adalah akun asli manusia atau akun sintetis,” ujar Alfons.
Artinya, identifikasi tidak cukup hanya mengandalkan satu unggahan. Analisis terhadap sejumlah sampel posting diperlukan untuk memperkirakan apakah sebuah akun merupakan akun manusia atau akun sintetis.
Sementara itu, pakar teknologi informasi dan digital sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan, cara kerja akun yang diduga menggunakan bot AI dapat berbeda-beda.
Sebagian akun memanfaatkan AI untuk menciptakan sosok manusia virtual, termasuk membuat foto, video, dan keterangan unggahan atau caption. Konten ini kemudian dipublikasikan secara rutin.
Ada pula akun yang menggunakan otomatisasi untuk mengikuti pengguna lain, memberikan komentar, mengirim pesan, atau menyebarkan konten dalam skala besar.
Dalam sejumlah kasus, aktivitas otomatis tersebut dikombinasikan dengan pengelolaan oleh manusia. Oleh karena itu, akun yang terlihat sangat aktif atau menampilkan sosok buatan AI belum tentu sepenuhnya dijalankan oleh bot.
Heru menjelaskan, dari sisi bisnis, akun semacam itu dapat dimanfaatkan untuk membangun pengikut, memperoleh pendapatan dari iklan dan afiliasi, atau mengarahkan pengguna ke layanan tertentu. Namun, teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan untuk spam, penipuan, penyamaran identitas, dan manipulasi opini.





Komentar (0)