BI Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,9-5,7 Persen pada 2026

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Di tengah tingginya ketidakpastian global, BI terus memperkuat ketahanan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa penguatan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diperlukan untuk menopang ketahanan ekonomi nasional dari gejolak pasar global.

Dari sektor perdagangan, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencetak surplus USD 3,55 miliar, melonjak signifikan dibandingkan posisi Juli 2026 yang sebesar USD 120 juta.

Sementara itu, arus investasi portofolio asing sempat tertekan pada instrumen saham. Pada kuartal III 2026, investasi portofolio membukukan arus modal keluar bersih (net outflow) sebesar USD 80 juta atau setara Rp 1,44 triliun (dengan asumsi kurs Rp 18.022 per dolar AS).

Tekanan di pasar saham masih berlanjut hingga Oktober 2026. Namun, aliran modal masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mampu mendorong net inflow investasi portofolio sebesar USD 0,66 miliar hingga Senin, (19/10).

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar USD 146,3 miliar. Angka ini setara pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, BI memproyeksikan transaksi berjalan pada 2026 berada dalam rentang defisit 1,6 hingga 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Guna menahan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.985 per dolar AS per Selasa, (20/10)—atau melemah 0,61 persen secara point-to-point dibanding akhir September—BI terus mengoptimalkan bauran instrumen moneter.

"Perkembangan nilai tukar dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta dinamika sentimen investor asing di pasar saham," terang Destry.

Langkah stabilisasi tersebut mencakup perluasan insentif biaya lindung nilai (hedging) melalui transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Sejak diterapkan pada Juni 2026, kebijakan insentif ini telah berhasil menarik aliran modal asing sebesar USD 9,9 miliar hingga Selasa, (20/10).

"Ke depan, BI memperkirakan nilai tukar rupiah tetap stabil, didukung komitmen bank sentral, imbal hasil aset rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang baik," kata Destry.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Bali United vs Garudayaksa, Kick-off 15.30 WIB
• 15 jam lalu
0
thumb
Beasiswa Baznas Kota Semarang Masih Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftar!
• 11 jam lalu
0
thumb
Isu Prabowo Menentang MSCI Dibantah Ketua OJK, Ini Penjelasannya
• 7 jam lalu
0
thumb
Gubernur Andi Sudirman Perkuat Demokrasi Inklusif Demi Kedamaian Sulsel
• 2 jam lalu
0
thumb
Gerakan pangan murah di Pacitan, jaga harga bahan pokok
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.