Pidie Jaya: Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) membangun 110 unit hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana hidrometeorologi di Desa Pohroh, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pembangunannya kini telah mencapai 10 persen.
“Saat ini progres pembangunan sudah mencapai 10 persen,” kata Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pidie Jaya Mahyaruddin di Pidie Jaya, dilansir Antara, Rabu, 21 Oktober 2026.
Pembangunan rumah yang ditargetkan rampung pada Desember mendatang tersebut menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) untuk menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman bagi masyarakat terdampak bencana.
Baca Juga :
Mendagri Instruksikan Pemda Percepat Penyediaan Lahan Hunian Korban Bencana SumatraLokasi pembangunan huntap berada di lahan seluas lebih dari tiga hektare. Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan aspek keselamatan karena kawasan itu berada di dataran yang relatif tinggi, jauh dari sungai, serta telah memperoleh rekomendasi badan geologi sebagai lokasi yang dinilai aman dari ancaman bencana geologi.
Kawasan tersebut sebelumnya juga telah digunakan untuk membangun sekitar 100 unit rumah bagi masyarakat terdampak gempa bumi pada 2016. Rumah-rumah tersebut hingga kini masih ditempati warga.
“Lokasi ini sudah mendapat rekomendasi dari badan geologi. Selain berada di kawasan yang relatif tinggi dan jauh dari sungai, lokasi ini juga sebelumnya telah ditempati masyarakat terdampak gempa pada 2016,” tambah Mahyaruddin.
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan hunian tetap di Desa Pohroh, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (21/10/2026). (ANTARA FOTO/Akramul Muslim)
Pembangunan 110 unit huntap tersebut merupakan tahap pertama penyediaan hunian terpusat bagi penyintas bencana di Pidie Jaya, Aceh.
Berdasarkan data yang disampaikan, kebutuhan hunian tetap terpusat di kabupaten itu diperkirakan mencapai 739 unit. Sementara kebutuhan hunian yang dibangun secara mandiri mencapai sekitar 2.000 unit.
Penyediaan hunian tetap diharapkan dapat memberikan kepastian tempat tinggal bagi warga yang rumahnya rusak akibat bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025.
Selain menyediakan tempat tinggal yang lebih aman, pembangunan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemulihan kehidupan masyarakat setelah kehilangan atau tidak lagi dapat menempati rumah mereka.





Komentar (0)