jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan Indonesia memiliki modal megadiversitas kebudayaan yang sangat besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia.
Penegasan tersebut disampaikan Fadli Zon dalam Kuliah Umum bertajuk ‘Indonesia sebagai Megadiversity Kebudayaan: Strategi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Warisan Budaya Bangsa’.
BACA JUGA: Menbud Fadli Zon Umumkan Delapan Artefak Papua Kembali ke Tanah Air
Menurut Fadli, predikat megadiversitas kebudayaan tersebut ditopang oleh kepemilikan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa atau kelompok etnis, serta 718 bahasa daerah yang tersebar di Nusantara.
"Kekayaan ini adalah modal strategis untuk memperkuat identitas nasional, membangun karakter bangsa, serta menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam perkembangan peradaban manusia,” ujar Fadli Zon di Jakarta, belum lama ini.
BACA JUGA: Menteri Fadli Zon Dorong Kolaborasi Teknologi dan Budaya Lewat Karya Raya FTUI 2026
Menbud menggarisbawahi keberagaman budaya harus diposisikan sebagai perekat sosial (binding power) untuk memperkokoh solidaritas antarmasyarakat sekaligus menjadi kekuatan diplomasi (soft power) di kancah internasional.
Dia menyoroti gagasan Out of Nusantara yang menempatkan wilayah kepulauan Indonesia bukan semata jalur persinggahan migrasi, melainkan habitat penting tempat manusia purba beradaptasi dan berevolusi dalam rentang sejarah yang panjang.
BACA JUGA: Hadiri SNGB di UI, Fadli Zon Sebut Afirmasi Pendidikan STEM Pemerintah Sudah Tepat
Perspektif sejarah peradaban itu didukung oleh berbagai temuan arkeologis penting di situs Sangiran, Trinil, Ngandong, hingga Flores.
Gagasan ilmiah tersebut juga telah menjadi bagian dari diskursus internasional dalam Konferensi Persatuan Ilmuwan Prasejarah dan Protosejarah (UISPP) pada Oktober 2025 di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
Fadli menilai upaya penguatan identitas budaya Indonesia perlu berjalan beriringan dengan intensifikasi riset, pemulihan narasi sejarah, dan pemeliharaan kedaulatan warisan budaya bangsa.
Kekayaan tradisi Nusantara itu tercatat melalui 2.727 elemen Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional dengan potensi hingga 30.000 elemen, serta 313 situs cagar budaya nasional yang beberapa di antaranya telah diakui Unesco.
Perlindungan terhadap beragam kekayaan seni, manuskrip, ritus, hingga kuliner lokal tersebut dinilai membutuhkan pendekatan menyeluruh mulai dari dokumentasi, penelitian, regenerasi pelaku, hingga perluasan ruang apresiasi publik.
Dia menegaskan pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjaga benda atau mendokumentasikan tradisi.
Namun, harus juga harus memastikan pengetahuan, nilai, keterampilan, dan praktik budaya tetap diwariskan serta dapat dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman.
"Dengan begitu, kebudayaan tetap hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” tuturnya.
Selain bernilai historis dan identitas, Fadly menjelaskan kebudayaan menyimpan potensi ekonomi berkelanjutan yang tidak akan habis dieksploitasi melalui sektor seni pertunjukan, kriya, fesyen, kuliner, dan aneka industri kreatif.
Pengembangan ekonomi budaya tersebut tetap harus dikelola secara bertanggung jawab dengan menghormati hak komunitas adat, serta didukung ekosistem riset, pendanaan, dan perlindungan kekayaan intelektual.
Dia mendorong generasi muda dan kalangan perguruan tinggi untuk mengambil peran strategis sebagai peneliti sekaligus inovator yang mampu mengolah inspirasi lokal menjadi karya berdaya saing global.
“Mereka tidak hanya bertugas menjaga warisan yang sudah ada, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menciptakan inovasi dan karya baru yang berakar pada budaya Indonesia," tutur Fadli Zon. (rom/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menbud Fadli Zon Merespons Polemik Gunung Kawi Dikaitkan Pesugihan, Begini
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah





Komentar (0)