2 Tahun Prabowo-Gibran: IHSG Ambruk 31,42% dan 5 Kali Trading Halt

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kinerja pasar saham Indonesia mendapat rapor merah pada dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selama periode tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok 31,42% dan mengalami penghentian sementara atau trading halt hingga 5 kali.

Prabowo-Gibran resmi dilantik menjadi pasangan presiden-wakil presiden Indonesia pada Ahad, 20 Oktober 2024. Berdasarkan data bursa, pada Senin, 21 Oktober 2024, IHSG bertengger di level 7.772. Dalam dua periode tersebut, IHSG sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa atau all time high di level 9.134 pada 20 Januari 2026. 

Namun, jika dikalkulasikan dengan level IHSG pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (21/10), IHSG ditutup di level 5.328. Arinya, IHSG telah terkoreksi 31,42% selama 2 tahun sejak Prabowo menjabat.

Selain itu, tercatat Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau trading halt sebanyak 5 kali selama pemerintahan Prabowo hingga 16 Oktober 2026.

Penghentian sementara perdagangan pertama terjadi pada 18 Maret 2025, ketika IHSG anjlok di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal. Peristiwa ini menjadi trading halt pertama di pasar saham Indonesia sejak pandemi Covid-19.

Penghentian perdagangan kedua terjadi pada 8 April 2025 seusai Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor baru sebesar 32% terhadap produk Indonesia. Sentimen tersebut memperburuk tekanan di pasar saham, yang juga diwarnai aksi jual panik (panic selling) investor setelah libur panjang Lebaran dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Memasuki 2026, BEI kembali menghentikan perdagangan saham pada 28 Januari setelah pengumuman MSCI mengenai pembekuan sejumlah perubahan terkait saham Indonesia di tengah persoalan transparansi pasar. Sehari kemudian, perdagangan kembali dihentikan setelah IHSG merosot 8%.

Trading halt kelima terjadi pada Jumat (16/10) pekan lalu, setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pasar saham Indonesia menghadapi tantangan berat selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Tantangan datang dari berbagai arah, baik dalam maupun luar negeri.

Menurut dia, penurunan IHSG sekitar 31% dan lima kali trading halt mencerminkan tingginya volatilitas pasar serta tekanan terhadap kepercayaan investor. Namun, kondisi tersebut tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan kebijakan pemerintah.

Ketidakpastian ekonomi global, arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing, serta perubahan persepsi investor internasional terhadap risiko pasar negara berkembang turut memengaruhi kinerja saham domestik.

“Namun, dinamika tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus mempercepat reformasi pasar modal agar lebih kredibel dan kompetitif,” kata Nafan kepada Katadata, Rabu (21/10).

Apa yang perlu Dibenahi Pemerintah?

Nafan menilai pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah strategis untuk memperbaiki kinerja IHSG sekaligus memulihkan kepercayaan investor.

Pertama, pemerintah perlu memperkuat kepastian hukum dan menjaga konsistensi kebijakan ekonomi. Dengan demikian, investor memiliki gambaran yang lebih jelas dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

Kedua, transparansi dan tata kelola emiten perlu ditingkatkan. Perbaikan mencakup kualitas keterbukaan informasi, struktur kepemilikan saham, serta porsi saham yang beredar di publik atau free float. Langkah ini penting untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global, terutama penyedia indeks internasional.

Ketiga, koordinasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Bank Indonesia (BI) perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi, nilai tukar rupiah, dan iklim investasi. Pemerintah juga perlu menjaga kredibilitas serta disiplin fiskal agar tidak memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan defisit anggaran dan risiko utang negara.

Keempat, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan sektor riil melalui investasi produktif, penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, serta pemberian insentif yang tepat sasaran. Dengan begitu, penguatan IHSG dapat ditopang oleh pertumbuhan laba emiten yang berkelanjutan, bukan sekadar sentimen pasar jangka pendek.

Kelima, pemerintah dan regulator pasar modal perlu memperkuat perlindungan investor minoritas, menindak tegas praktik manipulasi pasar, serta meningkatkan transparansi dan efisiensi mekanisme perdagangan. Upaya ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan investor ritel domestik sekaligus menarik kembali dana investor institusi asing.

Menurut Nafan, pemulihan IHSG ke depan akan bergantung pada kemampuan pemerintah membangun kembali kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten, reformasi struktural yang terukur, dan perbaikan fundamental ekonomi.

Dia menilai otoritas pasar sebaiknya tidak hanya mengejar kenaikan indeks dalam jangka pendek. Penguatan pasar saham perlu ditopang oleh peningkatan kualitas emiten, likuiditas pasar, pertumbuhan ekonomi, dan arus investasi yang sehat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bakal Cabut Izin Perusahaan Pelaku Karhutla, Prabowo: Mereka Membahayakan Kesehatan Jutaan Masyarakat
• 8 jam lalu
0
thumb
Trump Desak Zelensky Bikin Kesepakatan dengan Rusia
• 20 jam lalu
0
thumb
BMKG Ingatkan Potensi Awan Kumulonimbus di 9 Wilayah, Ini Daftarnya
• 19 jam lalu
0
thumb
Hasil Liga Champions: Man City Pesta Gol 5-1 atas PAE AEK
• 23 jam lalu
0
thumb
Karisma Evi Raih Emas Asian Para Games 2026, Klarifikasi Klaim Rekor Dunia yang Tercatat di Hasil Pertandingan
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.