Kesehatan Mental Bukan Kemewahan, tetapi kebutuhan

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

 
Oleh: Novita Maulidya Jalal SPsi MPsi Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi UNM, Mahasiswa Program Doktor PPI UMY

Individu dalam menjalani kehidupan dapat menghadapi berbagaitantangan yang tidak sedikit dianggap tekanan. Tantangan yang dianggap sebagai suatu tekanan jika berlangsung secaraberkepanjangan dalam menjalani kehidupan terbuktimemengaruhi berbagai aspek fungsi psikologis individu, antaralain konsentrasi, kualitas tidur, kestabilan emosi, dan relasisosial.

Dalam konteks ini, diperlukan adanya strategi penanganan yang memegang peran penting dalam menjembatanihubungan antara stres yang dipersepsikan dan kesejahteraanpsikologis.

Dengan demikian, kesehatan mental tidak dapatdipahami semata-mata sebagai ketiadaan gangguan, melainkansebagai kapasitas untuk mengelola tekanan secara adaptif.

Resiliensi sebagai Kapasitas Adaptif
Salah satu kemampuan fundamental dalam menghadapi tekananadalah resiliensi, yaitu kemampuan seseorang untuk beradaptasidan bangkit kembali ketika menghadapi kesulitan. Perluditegaskan bahwa resiliensi bukan berarti individu bebas darikesedihan, ketakutan, atau kegagalan.

Sebaliknya, resiliensimemungkinkan seseorang menerima pengalaman yang sulittanpa kehilangan kemampuan untuk melanjutkan kehidupannya. Pemahaman ini penting untuk mengoreksi anggapan kelirubahwa ketangguhan identik dengan menekan emosi.

Mengelola Pikiran dan Merawat Diri
Tantangan khas kehidupan modern adalah pikiran yang terusaktif meskipun tubuh sedang beristirahat. Kekhawatiranterhadap masa depan dan penyesalan atas masa lalu kerapmerenggut ketenangan individu pada saat ini.

Oleh karena itu, langkah-langkah sederhana seperti berhenti sejenak, mengaturnapas, mengenali emosi, dan memberikan jeda sebelummerespons persoalan layak diintegrasikan dalam keseharian.

Dukungan ilmiah terhadap praktik ini ditunjukkan oleh penelitian Balban dan rekan-rekannya yang dipublikasikandalam Cell Reports Medicine. Studi tersebut menemukan bahwalatihan pernapasan terstruktur berdurasi singkat dapatmemperbaiki suasana hati sekaligus menurunkan aktivasifisiologis.

Selain itu, Penelitian Fitriah M. Suud dan rekan-rekanmenunjukkan bahwa resiliensi memiliki hubungan kuat dengankesejahteraan mental. Penelitian yang dipublikasikan dalamjurnal Afkaruna tersebut juga menemukan bahwa perilakumerawat diri berhubungan positif dengan resiliensi dan kesejahteraan mental.

Temuan ini menegaskan bahwamenghadapi tekanan hidup bukan sekadar persoalan berpikirpositif, melainkan juga kemampuan membangun ketahananpsikologis melalui kebiasaan merawat diri secara berkelanjutan.

Dengan demikian, menjaga kesehatan mental perlu dipandangsebagai kebutuhan mendasar, bukan kemewahan yang hanyadilakukan ketika seseorang memiliki waktu luang.

Perawatan diri tidak berarti harus mencapai hidup yang mewahuntuk mampu merawat diri.Akan tetapi, merawat diri mencakupmenjaga pola tidur, melakukan aktivitas fisik, menyediakanwaktu istirahat, dan membatasi paparan informasi yang melelahkan.

Istirahat tidak semestinya dipandang sebagaikemalasan, melainkan sebagai kebutuhan esensial untukmempertahankan keseimbangan psikologis.

Dukungan Sosial sebagai Sumber Kekuatan
Kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh kemampuanindividu mengelola dirinya, tetapi juga oleh kualitas relasi sosialyang dimilikinya. Penelitian Wang dan rekan-rekannyamenyoroti pentingnya dukungan orang tua dan strategi kopingdalam kesejahteraan psikologis remaja. Temuan inimengindikasikan bahwa keluarga dan lingkungan sosialberperan strategis ketika individu menghadapi tekanan.

Meskipun demikian, mencari pertolongan sering kali membuatindividu merasa malu karena dianggap sebagai suatukelemahan.Padahal, mencari bantuan atau dukungan social adalah wujud kesadaran akan kebutuhan diri.

Untuk itu, keluarga perlu menyediakan ruang komunikasi yang aman, sementara sekolah dan tempat kerja perlu membangunlingkungan yang tidak hanya menuntut prestasi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis anggotanya.

Apabilatekanan telah mengganggu aktivitas sehari-hari secaraberkepanjangan, berkonsultasi dengan psikolog atau tenagakesehatan mental merupakan langkah yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Bertumbuh di Tengah Tekanan
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak berartimenghilangkan seluruh persoalan hidup. Setiap individu perlubelajar membedakan tiga hal: masalah yang dapat diselesaikan, keadaan yang perlu diterima, dan situasi yang membutuhkanpertolongan pihak lain.

Kemampuan membedakan ini menjadilandasan pengambilan keputusan yang sehat.
Di sisi lain, masyarakat perlu mengubah cara pandangnya. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh produktivitasnya, kekuatan tidak identik dengan senyuman yang selaluterpasang, dan tidak ada keharusan bagi siapa pun untukmenanggung seluruh persoalannya seorang diri.

Dengan demikian, kesehatan mental bukanlah tentang hiduptanpa tekanan, melainkan tentang kemampuan untuk tetapbertumbuh, menemukan makna, dan menjaga harapan di tengah ketidakpastian kehidupan. Upaya mewujudkannyamerupakan tanggung jawab bersama, yang menuntut peranaktif individu, keluarga, institusi pendidikan, tempat kerja, dan masyarakat secara luas. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK Sebut Ada 2 TNI Aktif dalam Konstruksi Perkara Korupsi Dana Bencana BNPB
• 1 jam lalu
0
thumb
Sudah Menang 5-1, Maresca Tetap Kesal Manchester City Kebobolan, Pelatih AEK Athens: Kami Cukup Berani
• 11 jam lalu
0
thumb
Khofifah Terbitkan SE Ajakan Salat Istisqa Agar Jatim Segera Hujan dan Karhutla Cepat Padam
• 7 jam lalu
0
thumb
Penyebab Pekerja Gagal Menerima BSU Rp900 Ribu 2026, Simak Penjelasannya
• 7 jam lalu
0
thumb
Mengenal Bahaya Jamur Kuku, Penyebab hingga Cara Atasinya!
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.