Presiden Prabowo Subianto menilai upaya menjaga persatuan nasional semakin mendesak dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
Ia menyinggung kondisi politik di sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Italia, sebagai pengingat bahwa demokrasi perlu dijalankan dengan tetap menjaga persatuan.
Prabowo menegaskan, perbedaan pandangan, kompetisi politik, hingga kritik merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, menurutnya, seluruh dinamika tersebut tidak boleh mengorbankan persatuan nasional.
“Jadi, Saudara-Saudara, politik yang saya yakini haruslah politik persatuan nasional. Saudara-Saudara, apa yang dicanangkan oleh Presiden pertama kita Bung Karno dulu dicemoohkan. Tapi saya kira ada satu benang merah, yaitu keyakinan beliau, usaha beliau untuk selalu menjaga persatuan nasional,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pemerintahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
“National unity, Saudara-Saudara sekalian. Demokrasi kita menurut keyakinan saya sekarang semakin urgent untuk kita memelihara national unity, persatuan nasional,” lanjutnya.
Prabowo kemudian menyinggung perkembangan politik di negara-negara Barat, termasuk demonstrasi yang terjadi di Prancis dan Italia.
“Perbedaan bagus, kompetisi perlu. Saling kritik, saling koreksi sangat perlu. Tapi di ujungnya kita harus menjaga persatuan. Kalau kita ikut demokrasi ala barat sekarang kita lihat. Lihatlah televisi, lihatlah berita tiap hari. Apa yang terjadi di Prancis? Apa yang terjadi di Itali? Apa yang terjadi di Eropa? Tempat lahirnya demokrasi yang mengajarkan kita HAM kita lihat. Ini perlu kita sadari,” ungkapnya.
Prabowo juga menjelaskan prinsip persatuan nasional menjadi salah satu alasan dirinya membangun koalisi pemerintahan yang besar. Ia mengakui koalisi yang dibentuknya melibatkan banyak kekuatan politik.
“Karena itu, inilah akibat dari politik yang saya jalankan. Koalisi kita besar, benar. Karena saya ingin sebanyak mungkin kekuatan bersatu untuk menjalankan perbaikan kehidupan rakyat kita,” ucapnya.
Prabowo mengatakan, dirinya tidak ingin terus-menerus memperdebatkan dinamika politik yang telah berlalu. Ia menyadari persaingan politik di Indonesia merupakan hal yang tidak terhindarkan, mengingat besarnya negara dan dinamika politik yang berlangsung.
“Saya tidak mau mengulangi-ulangi, mengutak-ngutik yang sudah lewat. Negara sebesar kita, dinamika politik sebesar kita, pasti persaingannya keras ya. Kursi terbatas. Kok ada yang senyum ya? Nih pemimpin partai ini sadar, kursi terbatas, presiden hanya satu,” kata dia.






Komentar (0)