Pantau - Danantara Indonesia mendorong pengembangan industri teknologi nasional melalui investasi nyata, penciptaan pasar domestik, dan pelatihan hingga 15.000 talenta Indonesia dalam bidang desain cip semikonduktor melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi global Arm.
Managing Director Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto menegaskan bahwa pengembangan teknologi dan talenta digital nasional tidak boleh berhenti pada penyusunan peta jalan atau roadmap, tetapi harus diwujudkan menjadi investasi yang menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Menurut Dwi, Indonesia telah memiliki berbagai rencana strategis pengembangan teknologi, tetapi tantangan terbesarnya adalah mengubah rencana tersebut menjadi kegiatan bisnis yang memiliki pengguna, mampu berkembang, dan layak secara komersial.
“Indonesia tidak kekurangan peta (jalan) teknologi, yang kita butuhkan bukan hanya peta jalan, tapi mengubah peta jalan itu menjadi investasi yang tumbuh, punya pengguna, punya skala, layak secara komersial, dan berdampak bagi bangsa dan negara,” kata Dwi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Danantara menilai keberhasilan pengembangan teknologi nasional harus diukur dari kemampuan produk teknologi menarik investasi, memperoleh pengguna, dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Danantara Dorong Pemerintah dan BUMN Jadi Pembeli Pertama Teknologi LokalDwi menjelaskan bahwa pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN) memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan industri teknologi dalam negeri.
Peran tersebut didukung oleh besarnya kebutuhan pemerintah dan BUMN terhadap produk serta layanan berbasis teknologi untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat.
Ia mencontohkan kebutuhan teknologi dalam penerbitan dokumen identitas yang menggunakan cip, seperti kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) dan paspor.
Selain dokumen identitas, kebutuhan teknologi juga terdapat dalam layanan publik lainnya, termasuk penyediaan listrik, telekomunikasi, dan perbankan.
Menurut Dwi, besarnya kebutuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pasar awal bagi produk teknologi yang dikembangkan perusahaan dan talenta Indonesia.
Pemerintah dan BUMN berpotensi menjadi pembeli pertama atau pengguna awal teknologi buatan dalam negeri apabila kebutuhan pengadaan dan pengembangannya dikoordinasikan secara terarah.
“Nah, jika kebutuhan pemerintah dan BUMN ini diarahkan, keduanya bisa menjadi pembeli pertama bagi teknologi buatan dalam negeri. Inilah yang ingin diorkestrasi oleh Danantara, bersama kementerian dan lembaga terkait, dan tentu saja swasta bisa kita ikutkan,” ujar Dwi.
Danantara berupaya mengoordinasikan kebutuhan teknologi bersama kementerian, lembaga terkait, dan sektor swasta agar produk teknologi nasional memiliki pasar yang jelas serta peluang pertumbuhan komersial.
Danantara Soroti Peluang Kecerdasan Buatan dan Keamanan DigitalSelain pengembangan teknologi untuk pelayanan publik, Danantara juga menyoroti pentingnya pengembangan kecerdasan buatan yang terpercaya dan bertanggung jawab atau trusted AI.
Dwi menjelaskan bahwa penggunaan teknologi tersebut telah menjadi kebutuhan dalam sejumlah sektor, terutama pelayanan publik, kesehatan, dan jasa keuangan.
Pengembangan trusted AI diarahkan untuk memastikan kecerdasan buatan dapat digunakan secara aman, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab dalam mendukung berbagai aktivitas masyarakat.
Danantara juga melihat peluang pengembangan teknologi post-quantum security, yakni sistem keamanan digital yang dirancang untuk menghadapi ancaman terhadap metode kriptografi akibat perkembangan komputasi kuantum.
Menurut Dwi, kebutuhan teknologi keamanan pascakuantum diperkirakan terus meningkat seiring dengan penetapan standar global di bidang tersebut.
“Untuk trusted AI, penggunaannya sudah ada di layanan publik, kesehatan, dan keuangan. Untuk post-quantum security, permintaannya pasti datang, karena standar globalnya sudah ditetapkan,” kata Dwi.
Pengembangan kedua bidang tersebut menjadi bagian dari peluang industri teknologi yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat kemampuan digital nasional.
Indonesia Pilih Desain Cip sebagai Pintu Masuk Industri SemikonduktorDalam pengembangan industri semikonduktor, Danantara melihat peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan keterlibatan talenta nasional melalui bidang desain cip.
Dwi menjelaskan bahwa desain cip merupakan salah satu pintu masuk yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk berpartisipasi dalam rantai industri semikonduktor global.
Menurutnya, pengembangan kemampuan desain cip tidak membutuhkan investasi awal bernilai miliaran dolar Amerika Serikat seperti pembangunan fasilitas manufaktur semikonduktor berskala besar.
Sebaliknya, industri desain cip lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya kemampuan teknis dan keahlian dalam merancang semikonduktor.
“Nah, di bidang semikonduktor bagaimana? Nah kita memilih masuk melalui pintu yang sudah terbuka, yaitu desain cip. Pintu ini tidak menuntut investasi bernilai miliaran dolar, tapi talenta yang harus kita bangun,” ujar Dwi.
Danantara menilai penguatan keterampilan talenta Indonesia menjadi salah satu langkah penting untuk membuka peluang keterlibatan nasional dalam industri semikonduktor.
Danantara Gandeng Arm untuk Latih 15.000 Talenta IndonesiaUntuk mendukung pengembangan industri desain cip, Danantara Indonesia menjalin kerja sama dengan Arm, perusahaan teknologi global yang dikenal melalui pengembangan arsitektur dan teknologi desain prosesor.
Kerja sama tersebut turut melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan dukungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Pada pertengahan 2026, Danantara bersama para mitranya telah meluncurkan gelombang pertama program pelatihan Arm sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam industri semikonduktor.
Program tersebut menjadi tahap awal dari inisiatif strategis untuk mengembangkan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki keterampilan dalam bidang desain cip.
Melalui ekosistem teknologi Arm, program ini menargetkan pelatihan hingga 15.000 talenta Indonesia agar mampu menguasai keterampilan perancangan cip semikonduktor.
Pelatihan intensif tersebut diharapkan dapat menghasilkan tenaga ahli dalam negeri yang mampu mengembangkan desain cip sesuai kebutuhan industri dan pelayanan publik nasional.
Cip Buatan Talenta Indonesia Diharapkan Penuhi Kebutuhan Dalam NegeriDwi berharap cip yang nantinya dikembangkan oleh talenta muda Indonesia dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan teknologi nasional.
Beberapa kebutuhan yang menjadi perhatian meliputi pengembangan sistem identitas digital yang aman, perangkat kesehatan, teknologi konektivitas, dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
“Kami mengharapkan bahwa cip mereka, anak-anak muda ini, ini bisa menjawab kebutuhan kita sendiri. Identitas yang aman, perangkat kesehatan, konektivitas dan sebagainya,” kata Dwi.
Danantara menempatkan pengembangan talenta digital, penciptaan pasar domestik, dan penguatan kemampuan desain cip sebagai bagian dari upaya mengubah peta jalan teknologi menjadi kegiatan industri yang memiliki nilai ekonomi.
Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, lembaga pendidikan, perusahaan teknologi global, dan sektor swasta diharapkan dapat mempercepat pengembangan ekosistem teknologi nasional.
Melalui langkah tersebut, Danantara menargetkan pengembangan teknologi Indonesia tidak hanya menghasilkan rencana strategis, tetapi juga produk yang digunakan secara nyata, memiliki skala komersial, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi perekonomian nasional.





Komentar (0)