Jakarta, CNBC Indonesia - Industri keramik Indonesia berhasil naik peringkat menjadi produsen keramik terbesar kelima dunia, dari sebelumnya berada di posisi ketujuh. Capaian ini didukung kebijakan perlindungan industri dalam negeri, mulai dari pengenaan bea masuk anti dumping hingga pengetatan impor.
Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengatakan, industri keramik nasional memiliki kemampuan untuk memproduksi hampir seluruh jenis keramik, kecuali produk yang sangat khusus. Namun, industri masih membutuhkan dukungan pemerintah, terutama terkait kepastian pasokan gas dan perlindungan dari serbuan produk impor.
"Berita gembiranya, industri keramik kita berkembang sangat baik. Hampir semua jenis keramik bisa diproduksi, kecuali yang sangat khusus ya. Jadi kita punya kapasitas, kemampuan untuk memproduksi jenis keramik yang sangat banyak," kata Sarmuji saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, pemerintah terus memperketat keran impor melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan kebijakan lainnya. Pemerintah juga membuka peluang pengenaan bea masuk anti dumping terhadap produk impor yang terbukti melakukan praktik banting harga tidak sehat.
Industri Keramik RI Bidik Posisi Keempat Dunia
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengungkapkan, kenaikan peringkat Indonesia menjadi produsen keramik terbesar kelima dunia tercatat dalam publikasi Ceramic World Review, terbitan Italia yang memuat peringkat industri keramik global.
Indonesia kini berada di posisi kelima, di bawah China, India, Brasil, dan Vietnam.
Edy menilai, pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah, khususnya pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan pengetatan SNI impor. Kebijakan tersebut dinilai efektif meningkatkan utilisasi industri keramik dalam negeri.
"Menurut kami sangat efektif sehingga kami bisa meningkatkan utilisasinya," kata Edy dalam kesempatan yang sama.
Dia menyebut utilisasi industri keramik Indonesia justru menunjukkan tren peningkatan ketika sejumlah negara lain mengalami penurunan.
Kapasitas terpasang industri keramik nasional pada 2026 mencapai 686 juta meter persegi. ASAKI memperkirakan utilisasi produksi meningkat dari 73% pada 2025 menjadi 75% pada 2026, setara produksi sekitar 510 juta meter persegi.
Dengan pasokan gas yang lancar, Edy optimistis Indonesia berpeluang menggeser Vietnam dari posisi keempat dunia pada tahun depan.
"Sehingga tahun depan mungkin kita bukan nomor 5 nih, bisa nomor 4 dunia mengalahkan Vietnam," ujarnya.
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, industri keramik juga menyiapkan ekspansi tahap kedua pada 2026-2028 dengan tambahan kapasitas 110 juta meter persegi. Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp12 triliun dan berpotensi menyerap 7.000-7.500 tenaga kerja baru.
ASAKI juga memperkirakan permintaan keramik dapat meningkat seiring program pembangunan perumahan pemerintah. Jika program 3 juta rumah pada 2027 terealisasi dengan asumsi rumah tipe 36, kebutuhan keramik diperkirakan mencapai 108 juta meter persegi.
Menurut Edy, tambahan permintaan tersebut berpotensi mendorong utilisasi industri dari target 75% menjadi 90%.
"Artinya industri keramik ini saatnya menyiapkan diri untuk investasi terus, didukung sama program beliau," katanya.
Meski demikian, dia menegaskan kepastian pasokan gas tetap menjadi faktor penting untuk menopang ekspansi, meningkatkan produksi, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
"Jadi kita berikan bukti bahwa begitu regulasi kebijakannya tepat, produk dalam negeri dilindungi, industri keramik terlindungi dari praktik dumping yang tidak fair dari China, industri pasti akan bertumbuh," pungkasnya.
(wur)





Komentar (0)