Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (21/10/2026), dengan pelemahan sebesar 44,53 poin atau 0,84 persen ke posisi 5.234,36 pada penutupan sesi pertama, setelah sebelumnya mencatatkan penguatan tajam pada perdagangan Selasa (20/10/2026).
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor menjadi salah satu faktor utama penyebab koreksi IHSG setelah mengalami penguatan atau rebound pada perdagangan sebelumnya.
Pada perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG tercatat melonjak 282,28 poin atau 5,65 persen hingga ditutup pada level 5.278,89.
Elandry mengatakan kenaikan tersebut dimanfaatkan sebagian investor untuk merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian sentimen pasar modal domestik.
"Sebagian investor memanfaatkan kenaikan tersebut untuk merealisasikan keuntungan. Di sisi lain, sentimen terkait MSCI dan kekhawatiran terhadap arus dana asing masih membayangi pergerakan pasar sehingga investor cenderung lebih berhati-hati," ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, pelaku pasar masih mempertimbangkan sejumlah faktor risiko sebelum kembali meningkatkan aktivitas pembelian saham.
Investor Cenderung Berhati-hati di Tengah Sentimen MSCI dan Arus Dana AsingElandry menjelaskan bahwa investor domestik maupun global saat ini cenderung lebih selektif dalam menentukan strategi investasi akibat tingginya volatilitas pasar saham.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar berupaya menjaga selera risiko atau risk appetite sambil mencermati perkembangan kebijakan dan kondisi pasar modal Indonesia.
Salah satu perhatian investor adalah kepastian mengenai reformasi transparansi pasar modal nasional serta respons investor asing terhadap perkembangan tersebut.
"Dalam kondisi ini, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan atau menunggu momentum yang lebih jelas sebelum kembali melakukan akumulasi," ujar Elandry.
Ia menilai kekhawatiran terhadap arus dana asing masih menjadi sentimen yang memengaruhi keputusan investasi di pasar saham domestik.
Selain itu, perkembangan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menjadi perhatian investor dalam menilai prospek pergerakan indeks.
Saham Perbankan, Energi, dan Komoditas Berpotensi Mengalami TekananElandry mengatakan pergerakan saham berkapitalisasi besar perlu diperhatikan untuk mengetahui faktor yang memberikan tekanan terhadap IHSG.
Sektor perbankan menjadi salah satu sektor penting karena memiliki bobot signifikan dalam pembentukan indeks saham gabungan.
Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga perlu dicermati karena berpotensi mengalami aksi ambil untung setelah mencatatkan kenaikan harga.
Saham-saham yang sebelumnya mengalami penguatan tajam dinilai berpotensi menghadapi tekanan jual ketika investor memilih merealisasikan keuntungan.
"Besarnya kontribusi setiap sektor terhadap pelemahan tetap bergantung pada pergerakan harga saham pada perdagangan hari ini," ujar Elandry.
Menurutnya, perubahan harga saham dari berbagai sektor akan menentukan besarnya tekanan terhadap pergerakan IHSG sepanjang perdagangan berlangsung.
IHSG Berpotensi Bergerak Volatil, Level 5.405 Jadi Batas PentingDalam jangka pendek hingga menengah, Elandry memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami pergerakan yang fluktuatif akibat ketidakpastian sentimen pasar.
Penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya dinilai belum cukup untuk memastikan bahwa pasar saham telah memasuki fase pembalikan tren atau reversal.
Ia mengingatkan bahwa risiko koreksi lanjutan masih terbuka apabila tekanan jual kembali meningkat.
Menurutnya, level 5.405 menjadi batas penting yang perlu diperhatikan investor sebagai indikasi awal perubahan arah pergerakan IHSG.
Selama indeks belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, penguatan yang terjadi masih perlu dipandang sebagai rebound teknikal.
"Investor sebaiknya tetap selektif, tidak mengejar harga saat rebound, dan menggunakan trading plan yang jelas dengan target keuntungan serta batas risiko yang terukur," ujar Elandry.
Ia menekankan pentingnya strategi perdagangan yang mempertimbangkan potensi keuntungan dan risiko agar investor tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga jangka pendek.
IHSG Melemah 0,84 Persen, Sebanyak 499 Saham Berakhir di Zona MerahBerdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi pertama Rabu (21/10/2026), IHSG ditutup turun 44,53 poin atau 0,84 persen ke level 5.234,36.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan, dengan penurunan sebesar 3,47 poin atau 0,65 persen ke posisi 526,88.
Aktivitas perdagangan saham tercatat mencapai 1,07 juta kali transaksi dengan volume sebanyak 16,93 miliar lembar saham.
Total nilai transaksi pada perdagangan sesi pertama tersebut mencapai Rp9,43 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 218 saham mengalami kenaikan harga, 499 saham melemah, dan 246 saham tidak mengalami perubahan nilai.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, terdapat tiga sektor yang berhasil menguat meskipun IHSG secara keseluruhan berada di zona merah.
Sektor barang konsumen nonprimer mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 0,38 persen, disusul sektor kesehatan yang menguat 0,36 persen dan sektor barang konsumen primer yang naik 0,02 persen.
Sementara itu, delapan sektor lainnya mengalami pelemahan dengan sektor industri mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 2,65 persen.
Sektor teknologi menyusul dengan pelemahan 2,06 persen, sedangkan sektor barang baku turun sebesar 1,60 persen.
Kondisi perdagangan tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar saham pada sesi pertama, sementara investor terus mencermati perkembangan sentimen domestik dan global sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.





Komentar (0)