Kebakaran hutan dan lahan yang tidak kunjung mereda di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua telah menyematkan keprihatinan mendalam. Berbagai narasi kecaman dan gugatan silih berganti mewarnai laman media dan media sosial. Di sisi lain, beragam bentuk solidaritas muncul bagi para korban terdampak.
Salah satu solidaritas dan keprihatinan itu menggema di Taman Budaya Jambi, Rabu (14/9/2026).
Ketika bencana tiba, ranting kering berkata:
"maaf! kami tak lagi mampu merayu Tuhan
lantaran doa kami terbakar bersama abu daunan"
(Bogor, September 2009)
Bait terakhir puisi yang dibawakan Rahmad Mulyadi selesai dibacakan, namun beberapa saat lamanya hadirin masih terdiam. Bagaikan ikut terluka mendengarkan karya puisi Asrizal Nur berjudul “Majelis Zikir Dedaunan” tersebut.
Mata batin tersentak. Amarah dan duka berbaur menyelimuti seisi ruangan. Membawa mereka yang hadir bagaikan sedang berada di sebuah hamparan hutan terbakar. Asap di mana-mana membuat setiap tarikan napas terasa berat. Mata perih tersapu jerebu.
Suasana duka belum lagi berakhir. Seniman Jambi, Ismet Raja, melanjutkannya lewat narasi teatrikal menyuarakan keprihantinan bersama.
Ia lantas mengajak para hadirin menyampaikan ekspresinya. Mereka dipandu sejumlah mahasiswa Jurusan Sendratasik Universitas Jambi yang menari dengan iringan musik bernuansa alam di tengah ruang teater.
Bagi Rahmad dan Ismet, musik dan puisu menjadi ungkapan keprihatinan mereka atas fenomena karhutla dan kabut asap yang tak kunjung berakhir. ”Hati ini marah ke pada para pembakar lahan itu. Kami suarakan keprihatinan ini lewat seni," ujar Rahmad.
Ia pun sangat berharap ada langkah cepat pemerintah menangani persoalan kabut asap yang berkepanjangan.
Ismet pun meminta agar kepolisian tegas menindak para pembakar lahan. Ia bilang, sangat miris ketika jutaan warga terdampak akibat menghirup racun jerebu, tetapi para pembakar lahan dibiarkan melenggang.
Ismet dan ratusan mahasiswa beserta aktivis lingkungan sempat berunjuk rasa di depan gerbang kompleks kantor Gubernur Jambi pada 9 Oktober lalu.
Namun, belum sempat mereka menyampaikan aspirasi kepada gubernur dan wakil rakyat, massa menuai penghadangan oleh aparat kepolisian. Saat massa akan melintas masuk, para polisi telah menutup gerbang setinggi 3 meter itu.
Akibatnya, penghadangan menyulut amarah para pendemo karena mereka jadi tak bisa menyuarakan langsung tuntutan. Saat itu, massa mendorong-dorong gerbang besi itu hingga rusak, sementara polisi menyemburkan air berkekuatan tinggi untuk membubarkan massa.
”Gugatan akan terus kami kumandangkan. Sebab, udara bersih dan lingkungan yang sehat adalah kebutuhan mendasar masyarakat. Negara harus memenuhinya,” ujarnya.
Ia pun mengecam pemerintah yang hingga kini tak kunjung menetapkan status bencana nasional. Padahal, korban jiwa dan sakit terus berjatuhan.
Di tengah beragam aksi dan gugatan publik, tak sedikit pula solidaritas bagi para korban terdampak kabut asap. Di Kota Jambi, misalnya, para pegiat literasi menggalang donasi. Hanya dalam waktu dua hari, terkumpul sejumlah dana yang lantas dibelikan untuk 3.000 lembar masker dan vitamin.
Pada 12-13 Oktober 2026, para relawan turun ke jalan untuk membagikan masker dan vitamin secara gratis. Pembagian itu antara lain di trotoar kawasan Kotabaru, Simpang Tugu Keris, hingga di Taman Konggow.
Pada hari kedua, para relawan membagian masker dan vitamin ke pada para penghuni di sejumlah panti asuhan di Kota Jambi. ”Ini menjadi bentuk solidaritas kami atas kabut asap yang melanda masyarakat,” ujar Febrianiko, Ketua Forum Pegiat Literasi Jambi.
Ia berharap, agar karhutla di seluruh Sumatera, Kalimantan, hingga Papua cepat mereda dan semua warga yang sakit agar mendapat kesembuhan. ”Semoga kami semua yang masih menghadapi dampak buruk kabut asap diberikan kekuatan dan kesehatan menghadapi situasi ini,” lanjutnya.
Pembagian masker gratis juga dilakukan aktivis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Mereka membagi-bagikan masker gratis kepada para pedagang kaki lima, pemulung, dan warga yang beraktivitas di sejumlah lokasi di Kota Jambi.
Rahmad, yang juga Ketua PKBI Jambi, mengatakan solidaritas itu dibuat karena rasa prihatin melihat situasi yang terjadi. Banyak warga beraktivitas di luar tanpa dilengkapi masker.
”Mereka tidak pakai masker karena tidak mampu membeli. Karena itu kami tergerak untuk bagi-bagi masker secara gratis,” katanya.
Baik Rahmad, Ismet, dan Febrianiko sangat berharap agar karhutla dan kabut asap segera usai. Jangan sampai tragedi lingkungan ini harus terus dialami masyarakat.
Pengamat sosial Universitas Islam Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Bahren Nurdin, mengatakan, kabut asap tidak semata-mata persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan. Ia mempersoalkan ada pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas yang berisiko menimbulkan karhutla dan ada masyarakat yang harus menanggung deritanya.
”Jika keuntungan dinikmati segelintir pihak, sementara masyarakat harus menghirup asap, anak-anak belajar dari rumah, aktivitas pekerja terganggu, dan negara mengeluarkan biaya penanganan, maka ada persoalan keadilan yang harus dibicarakan,” kata Bahren.
Ia mengkhawatirkan munculnya kelelahan sosial di tengah masyarakat akibat kabut asap yang berulang. Bahren mendorong agar pemerintah perlu memperkuat pencegahan sepanjang tahun dan membangun pengawasan berbasis risiko. Perusahaan juga harus menjadi bagian penting dari tanggung jawab pencegahan, sedangkan masyarakat perlu diberi ruang untuk ikut mengawasi.






Komentar (0)