Catur (42) susah payah merampungkan target lari 30 kilometer pada Minggu (18/10/2026) siang. Matahari terasa sangat terik. Keringat lebih banyak bercucuran, sementara panas menyengat kulit.
Dalam kondisi seperti itu, ada satu hal sederhana yang paling ia inginkan “Paling enak kalau kepala diguyur air dingin,” kata warga Kota Bandung, Jawa Barat, itu, Rabu (21/10/2026).
Catur memulai lari pukul 06.30 WIB dari Kota Bandung menuju Kabupaten Bandung Barat. Saat ia mulai berlari, merujuk aplikasi cuaca di telepon genggam, suhu udara di Bandung tercatat 20 derajat Celsius. Bagi wilayah dengan ketinggian 768 meter di atas permukaan laut, suhu di pagi hari itu terasa lebih panas dari yang biasa ia rasakan.
Tiba pukul 10.00 WIB di Padalarang, Bandung Barat, matahari kian tinggi. Panas tak hanya datang dari langit, tetapi juga terasa dari aspal jalanan. Suhunya melonjak, 29 derajat Celcius. Keringat yang terus mengucur membuatnya lebih cepat lelah.
Persediaan air dingin pun lekas habis. Ia akhirnya lebih sering keluar-masuk minimarket untuk membeli air minum dingin. Namun, air yang baru dibeli itu tak bertahan lama dalam kondisi sejuk.
“Awalnya beli air dingin dalam kemasan tapi setengah jam kemudian malah menjadi air hangat,” katanya.
Pengalaman itu membuat Catur waspada menghadapi perlombaan lari jarak jauh yang akan datang di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada pertengahan November 2026. Ia khawatir cuaca saat ajang lari sejauh 42 kilometer itu berlangsung akan lebih panas dibandingkan dengan kondisi yang dialaminya di Bandung sekarang. Tidak hanya memerhatikan jarak yang lebih jauh, ia harus memastikan tubuhnya sanggup menghadapi panas sepanjang perjalanan.
“Seperti kemarin, saya nanti akan pantau terus detak jantung di jam olahraga. Kalau sudah lebih dari 160, saya akan jalan saja. Baru lari lagi kalau mulai turun ke 150. Tidak ada target khusus. Asal finish saja. Takut heat stroke,” katanya.
Awalnya beli air dingin dalam kemasan tapi setengah jam kemudian malah menjadi air hangat
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Paparan panas berlebihan saat berolahraga dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan suhu normal. Dalam kondisi berat, seseorang bahkan bisa mengalami heat stroke, keadaan darurat ketika pengaturan suhu tubuh terganggu. Kondisi ini dapat mengancam jiwa.
Peringatan terhadap kondisi panas ekstrem juga disampaikan Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional Erma Yulihastin. Ia merujuk pada Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), indeks untuk menilai tekanan panas terhadap manusia dengan mempertimbangkan sejumlah faktor lingkungan, termasuk suhu, kelembapan, radiasi matahari, dan angin.
Menurut Erma, anomali WBGT di kawasan Jabar, khususnya Bogor, Depok, dan Bekasi, pada September dan Oktober 2026, tidak jauh berbeda. Nilai anomali positif menunjukkan kondisi yang lebih tinggi dibandingkan acuan yang digunakan. Ia juga mengingatkan periode berisiko tinggi pada dasarian ketiga Oktober, yakni 21–31 Oktober 2026.
“Efek super El Nino ini sungguh tak bisa dianggap panas biasa. Ini panas yang luar biasa dampaknya,” kata Erma.
Dalam kondisi tersebut, Erma menyarankan masyarakat membatasi aktivitas luar ruang yang menguras energi dan menghindari paparan matahari terlalu lama, terutama ketika suhu mencapai puncaknya.
Penyelenggara kegiatan olahraga, termasuk lomba lari jarak jauh, juga perlu mempertimbangkan risiko panas dalam menentukan waktu dan pelaksanaan acara.
Selain itu, meski tidak berada di luar ruang, warga tetap disarankan beristirahat 1 menit setiap satu jam kerja dan minum air untuk mencegah dehidrasi.
“Bahkan, bagi mereka yang tengah beraktivitas di luar ruang, masuk ke mal hingga gedung berpendingin udara adalah salah satu solusi yang ideal. Untuk warga Surabaya bisa melakukan ini,” ujar Erma.
Surabaya menjadi salah satu daerah dengan suhu tinggi di bulan Oktober. Data BMKG menyebutkan, suhunya pernah tercatat mencapai 36 derajat Celcius.
Bila mal terlalu jauh atau rawan menghabiskan banyak uang, Tari (30), warga yang tinggal di Jakarta, punya cara unik dan hemat biaya. Ketika kamar indekosnya terasa panas, ia pilih naik Transjakarta dan berkeliling kota 1-2 jam. Seperti Surabaya, suhu tertinggi Jakarta juga antara 35-36 derajat Celcius.
Dengan biaya perjalanan Rp 3.500, Tari mengatakan, dirinya bisa menikmati udara dari pendingin di bus. Rutenya tidak jadi soal. Semakin jauh perjalanan, semakin lama pula ia bisa bertahan di dalam bus yang sejuk. “Kalau sudah cukup puas, pulang lagi ke kost,” katanya.
Cara itu dipilih Tari karena kamar indekos yang disewanya Rp 1 juta per bulan hanya berukuran sekitar 3 x 3 meter dan dilengkapi kipas angin. Siang-malam, udara di dalam kamar terasa sangat gerah.
“Lebih nyenyak di Transjakarta ketimbang di kost,” ujar dia.
Saat suhu meningkat, beragam cara dilakukan untuk mencari kesejukan. Pelari mendapatnya saat mengguyurkan air dingin di tengah latihan. Namun, ada warga lain yang mencarinya lewat pendingin udara di dalam Transjakarta. Atau, bahkan Anda justru melakukan keduanya?






Komentar (0)