Sekolah Partai PDI Perjuangan Rangkul Gen Z, Tekankan Politik Berpijak pada Logika, Etika, dan Estetika

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Semangat itulah yang mewarnai pembukaan kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan di kompleks Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).

Ratusan anak muda dari berbagai daerah berkumpul untuk memperdalam wawasan kebangsaan, mengenal ideologi partai, serta mendiskusikan tantangan politik dan sosial di era digital.

Komarudin Watubun Kepala Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan secara resmi membuka kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, ia mengajak generasi Z untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa dan menjadikan nilai-nilai Sumpah Pemuda sebagai landasan dalam membangun Indonesia ke depan.

Menurut Komarudin, kehadiran generasi muda di Sekolah Partai bukan sekadar bagian dari kegiatan organisasi, melainkan kesempatan untuk merawat semangat persatuan yang telah diwariskan para pendiri bangsa.

Ia menilai, perbedaan latar belakang, suku, dan agama seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih inklusif.

“Tanpa cucuran keringat, air mata, dan perjuangan bersama dari para pendahulu yang luhur itu, kita tidak akan pernah mungkin, kita yang berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda agama, bisa duduk bersama-sama di tempat ini hari ini,” ungkap Komarudin di hadapan para peserta.

Pesan tersebut selaras dengan suasana aula utama Sekolah Partai yang menampilkan potret para proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, berdampingan dengan tokoh-tokoh lintas agama dan organisasi kemasyarakatan.

Kehadiran potret tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan bersama, bukan dari satu kelompok semata.

Dalam kesempatan itu, Komarudin juga menjelaskan bahwa pendidikan politik bagi generasi muda harus melampaui pemahaman mengenai pemilu dan perebutan kekuasaan.

Menurutnya, anak muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menjunjung nilai moral, serta mampu mengekspresikan gagasan melalui karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia memperkenalkan tiga pilar mendasar yang menjadi perhatian dalam kegiatan Sekolah Partai, yakni logika, etika, dan estetika.

Pilar logika diarahkan untuk membentuk kemampuan berpikir kritis dan solutif dalam merespons berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi. Melalui ruang diskusi dan dialektika, peserta didorong untuk memahami persoalan secara mendalam sekaligus mencari jalan keluar yang relevan.

Sementara itu, etika menjadi landasan untuk membangun sikap bertanggung jawab, menjaga kebersamaan, serta menghormati perbedaan pendapat.

Adapun estetika diwujudkan melalui kreativitas, apresiasi terhadap kebudayaan, dan pengembangan kemampuan generasi muda dalam menghasilkan karya digital.

Komarudin berharap, perpaduan ketiga pilar tersebut dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan kebangsaan secara kreatif dan bertanggung jawab.

“Generasi muda diharapkan mampu memproduksi konten digital yang tidak sekadar mengejar popularitas semata, melainkan konten yang bernilai ideologis, menjunjung moralitas, serta membawa semangat nasionalisme pemersatu bangsa,” jelasnya.

Pelatihan konten kreator dan apresiasi seni, termasuk pertunjukan Angklung Revolution, menjadi bagian dari pendekatan yang menggabungkan pemahaman ideologi dengan kreativitas anak muda.

Nida Zidny Paradisa Sekretaris Sekolah Partai PDI Perjuangan menjelaskan bahwa para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut telah melalui proses seleksi dari ribuan pendaftar daring.

Panitia melakukan verifikasi sejumlah dokumen, antara lain Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), serta meninjau rekam jejak media sosial peserta sebelum menetapkan peserta terpilih.

Antusiasme peserta terlihat dari kesediaan mereka menempuh perjalanan dari berbagai daerah untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Nida secara khusus mengapresiasi peserta dari Bandung yang menggunakan kereta cepat Whoosh dengan biaya sendiri demi menghadiri Sekolah Partai.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan PDI Perjuangan secara lebih dekat kepada generasi muda sekaligus memperluas pemahaman mereka tentang peran politik dalam kehidupan demokrasi.

“Ketika kita berbicara politik, kita enggak hanya cuman sekadar cerita soal elektoral, cerita soal kemenangan pemilu, tetapi juga ada amanah untuk menyampaikan edukasi ke masyarakat dan menjaga kewarasan demokrasi,” ujar Nida.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan politik tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan elektoral, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi masyarakat dan menjaga kualitas demokrasi.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan pemotongan pita secara simbolis oleh jajaran pengurus partai sebagai penanda dimulainya rangkaian program pendidikan politik bagi generasi muda.

Para peserta kemudian mengikuti tur keliling kompleks Sekolah Partai untuk mengenal fasilitas dan ruang kegiatan, mulai dari perpustakaan, klinik, koperasi, mes pria dan wanita, hingga aula Masjid At-Taufiq.

Dalam rangkaian pengenalan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai sejarah PDI Perjuangan, gagasan dan pemikiran Bung Karno, perjalanan sejarah Megawati Soekarnoputri, serta berbagai tantangan yang dihadapi partai.

Pemahaman mengenai gagasan dan filosofi Marhaenisme turut menjadi bagian dari pengenalan ideologis tersebut.

Pada siang hari, peserta mengikuti diskusi bersama sejumlah narasumber, di antaranya Melki Sedek Huang dan Virdian. Pembahasan mencakup berbagai isu sosial serta semangat pemikiran Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.(faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menteri LH Jumhur Ungkap Potensi Nilai Ekonomi Karbon RI Capai Rp4.500 Triliun
• 19 jam lalu
0
thumb
Dolar AS Ngegas ke Rp17.976, Rupiah Justru Perkasa Lawan Mayoritas Mata Uang Asia
• 8 jam lalu
0
thumb
Prancis Terapkan Jam Malam Antisipasi Kerusuhan Susulan, 100 Orang Lebih Dipidana
• 18 jam lalu
0
thumb
Kabut Asap Mengancam Industri Wisata Malaysia
• 4 jam lalu
0
thumb
Kerusuhan di Prancis: Muncul 54 Kelompok, Siapa yang Mengendalikan di Balik Layar?
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.