“Saya mencoba mengambil foto Menara Kembar, Merdeka 118, dan pemandangan lainnya dengan bagus, tetapi hasilnya tidak memuaskan karena semuanya tertutup kabut asap,” ujar wanita asal Sydney tersebut dikutip dari Strait Times.
Baca Juga :
Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap Lintas Negara, Malaysia hingga Filipina Ikut TerdampakIa juga mengaku kesulitan bernapas akibat asap yang menyelimuti kawasan ini.Hamilton mengungkapkan seandainya bukan karena kejuaraan pemandu sorak (cheerleading) Asia, ICU Asian Cheerleading Championships, yang diikuti oleh putri-putrinya akhir pekan lalu, ia mungkin sudah membatalkan perjalanannya.
Ia bukan satu-satunya wisatawan yang mempertimbangkan kembali kunjungannya ke Malaysia di tengah kabut asap yang menyelimuti negara tersebut.
Para pelaku usaha pariwisata mencatat penurunan jumlah pemesanan untuk periode ini, bahkan terjadi pembatalan, akibat kabut asap yang mengganggu penerbangan, menutupi sejumlah objek wisata populer, serta mengancam sektor yang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Asia Tenggara ini.
Menurut data peringkat langsung dari perusahaan pemantau kualitas udara IQAir, pada 20 Oktober, Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta masuk dalam daftar 10 kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Buruknya kualitas udara ini bahkan menyebabkan sekolah-sekolah di beberapa wilayah Malaysia ditutup. Pembatalan Kunjungan ke Malaysia Menurut Presiden Asosiasi Pariwisata Inbound Malaysia (Malaysian Inbound Tourism Association), Mint Leong, sejumlah operator tur melaporkan adanya pembatalan untuk bulan November serta penurunan jumlah pemesanan grup.
Sementara itu, agen perjalanan luar negeri terus menanyakan perkembangan terkini mengenai kualitas udara di sana.
Penurunan ini terjadi di saat Malaysia menargetkan 47 juta pengunjung pada tahun 2026 melalui kampanye "Visit Malaysia 2026". Berdasarkan data Tourism Malaysia, negara tersebut mencatat 28,8 juta kunjungan wisatawan internasional dalam delapan bulan pertama tahun 2026.
Kementerian Pariwisata tidak memberikan tanggapan saat dimintai keterangan mengenai dampak kabut asap terhadap sektor ini.
“Kerugian pendapatan bisa mencapai jutaan” ringgit, kata Leong.
Data Departemen Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2025, pengunjung internasional membelanjakan 124,8 miliar ringgit (S$39,2 miliar) di negara tersebut, sementara wisatawan domestik membelanjakan 112,1 miliar ringgit.
Industri yang berkaitan dengan pariwisata menghasilkan nilai ekonomi sebesar 323 miliar ringgit pada tahun 2025, setara dengan 15,9% dari produk domestik bruto (PDB). Aktivitas ekonomi yang secara langsung berasal dari pengeluaran pariwisata menyumbang 6,8% terhadap PDB.
Meskipun kondisi diselimuti kabut asap, pada tanggal 19 Oktober sejumlah wisatawan tampak memadati kawasan Pecinan (Chinatown) di Kuala Lumpur untuk berburu barang murah. Namun, seorang pedagang bernama Wong Mei mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan mengalami penurunan selama bulan Oktober.
"Lebih sedikit orang yang keluar rumah dalam dua minggu terakhir," ujar pedagang tas berusia 62 tahun itu, seraya menyebut kabut asap sebagai penyebab penurunan tersebut.
James Wheatley, seorang wisatawan asal Inggris, mengatakan bahwa polusi udara tidak menghalangi kelompoknya untuk berkunjung ke Malaysia.
"Kami baru tiba kemarin dan akan tinggal hingga 27 Oktober. Kabut asapnya tidak terlalu parah dan kami bisa beradaptasi," kata pria berusia 60 tahun itu saat mencicipi buah-buahan lokal di sebuah kios pinggir jalan.
"Seandainya tahu lebih awal, mungkin kami akan menunda perjalanan, tetapi karena sudah sampai di sini, ya kami jalani saja." tambah James.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Kabut Asap Mengancam Industri Wisata Malaysia Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/ybJdq0aK-kabut-asap-mengancam-industri-wisata-malaysia
(SAW)





Komentar (0)