Kenapa sih Player Escort Harus Anak-Anak?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Dalam pertandingan sepak bola, sebelum peluit kick-off dibunyikan, kita biasanya disajikan pemandangan yang menggemaskan. Para bintang sepak bola berjalan keluar dari lorong stadion sambil menggenggam jemari mungil anak kecil.

Anak-anak ini disebut sebagai player escort atau maskot pertandingan. Di balik senyum polos mereka yang kontras dengan riuh atmosfer stadion, ternyata ada sejarah menarik kenapa peran player escort lazimnya disematkan buat anak-anak.

Kenapa Harus Anak-Anak?

Tradisi ini bermula di Brasil pada 1976. Ronan Ramos Oliveira, yang saat itu menjabat sebagai direktur hubungan masyarakat Atletico Mineiro, mengusulkan agar anak-anak berjalan memasuki lapangan bersama para pemain.

Gimmick tersebut diterapkan dalam pertandingan antara Atletico Mineiro dan America Mineiro pada 5 September 1976. Kala itu anak-anak yang terpilih harus memiliki penampilan yang menyerupai pemain yang mereka dampingi.

Tradisi tersebut kemudian semakin dikenal di panggung sepak bola internasional. UEFA Euro 2000 menjadi salah satu turnamen besar pertama yang menghadirkan player escort untuk mendampingi setiap pemain memasuki lapangan. Inisiatif ini juga menjadi salah satu cara untuk menarik lebih banyak keluarga datang ke stadion

Meski membawa pesan positif, tradisi player escort juga tidak terlepas dari kepentingan komersial. Sejak 2002, anak-anak yang mendampingi pemain di Piala Dunia maupun kejuaraan Eropa dilipih melalui kompetisi yang diselenggarakan oleh McDonald's. Program ini disebut McDonald’s Player Escort. Melalui program ini, anak-anak yang beruntung dari berbagai negara dipilih untuk terbang mendampingi para bintang pesepak bola di lapangan.

Di level klub, kesempatan serupa bahkan bisa menjadi bagian dari paket berbayar. Sejumlah klub Premier League mengenakan biaya sampai 600 paun untuk anak-anak yang ingin menjadi maskot pertandingan. Tak semua, tentu saja, sebab banyak klub lainnya yang menyediakan kesempatan menjadi player escort secara gratis melalui kompetisi dan kegiatan amal.

Dongeng Takdir Wayne Rooney

Pada November 1996, di tengah riuhnya derbi Merseyside antara Everton dan Liverpool, seorang anak bernama Wayne Rooney melangkah ke lapangan sebagai maskot Everton. Saat itu, Rooney berjalan menuju ke lapangan sambil menggandeng sang legenda, Dave Watson.

Tapi cerita tak berhenti di situ. Malam itu, kala Everton tengah melakukan pemanasan, Rooney kecil justru ikut pemanasan dan membobol gawang kiper legendaris Everton, Neville Southall, sampai dua kali!

Aksi tersebut sempat membuatnya kena omel dari Southall. Tapi siapa yang menyangka bahwa anak kecil di laga derbi yang berakhir 1-1 itu, kelak akan menjadi salah satu penyerang terhebat dalam sejarah sepak bola Inggris.

Momen pada 1996 itu menjadi esensi kehadiran player escort: bahwa anak kecil yang hari ini menggandeng tangan sang idola di lapangan, mungkin saja menjadi seorang pesepak bola yang diidolakan di masa depan.

Say Yes to Children: Kampanye untuk Hak Anak

Sebelum 2000an, player escort anak-anak muncul sesekali dan terbatas. Selain Euro 2000 yang melibatkan player escort anak-anak di setiap pertandingan, kampanye yang lebih besar muncul pada Piala Dunia 2002.

Di Piala Dunia Jepang-Korea Selatan itu, FIFA dan UNICEF menggelar kampanye "Say Yes for Children" untuk mendukung terpenuhinya hak anak. Setiap pemain didampingi seorang anak ke lapangan sebagai simbol bahwa dunia yang layak bagi anak adalah tanggung jawab bersama.

Langkah ini bukan sekadar seremonial. Dalam rilis resminya, UNICEF menegaskan bahwa aliansi ini sengaja menempatkan anak-anak sebagai pusat dari ajang terbesar sejagat, tempat mereka memegang “a prime role at each match”.

“Aliansi ini menggandeng federasi olahraga paling global di dunia, dan menempatkan anak-anak sebagai pusat dari ajang andalannya, Piala Dunia. Dan di setiap pertandingan, anak-anak akan memimpin para pemain memasuki lapangan... memainkan peran utama di setiap laga." tegas Kofi Annan pada rilis resmi UNICEF saat itu.

Pendekatan Baru MilkLife Soccer Challenge

Di MilkLife Soccer Challenge (MLSC), tradisi ini dibalik. MLSC adalah turnamen sepak bola wanita yang digagas MilkLife dan Bakti Olahraga Djarum Foundation dengan kategori U-8, U-10, dan U-12 bagi siswi SD dan MI. Memasuki tahun ketiga, MilkLife Soccer Challenge terus konsisten melakukan tradisi unik ini.

Di liga profesional, pemain dewasa menggandeng anak kecil. Di MLSC, gantian pemain berusia U-10 dan U-12 itu ditemani orang tuanya untuk masuk ke lapangan saat laga final tiap regional.

Skalanya pun tidak kecil. Sepanjang seri 1 2025–2026, tercatat 17.365 siswi ikut serta. Di festival sepak bola wanita sebesar ini, keterlibatan orang tua dalam tiap pertandingan jadi cara membuat sepak bola wanita lebih dekat dengan keluarga.

Pengalaman orang tua di MLSC tersebut tergambar jelas dari pengakuan salah satu orang tua peserta yang menjadi player escort. Rasa bungah, bangga, dan haru jelas terlihat saat mereka mendampingi anaknya masuk lapangan. Apalagi ketika pemain mencium tangan mereka dan berlaga dengan bangga.

“Itu merupakan kesan yang sangat luar biasa buat kita orang tua bisa mendampingi anak. Sampai anak itu, apalagi anak itu dapat juara satu, ya itu luar biasa banget. Effort-nya sangat apa ya, bagi kita itu terharu, bangga, pokoknya campur aduk perasaannya di situ,” ujar Refni Yuniya pada kumparanBOLANITA soal perasaannya menjadi player escort anaknya di Bekasi International Soccer Field, Minggu, (18/10).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Karisma Evi Tiarani Bawa Emas Kelima Bagi Indonesia di Asian Para Games 2026
• 54 menit lalu
0
thumb
Kebakaran Gunung Lawu Meluas, Proses Pemadaman Masih Sulit
• 4 jam lalu
0
thumb
Gigi Bungsu Tumbuh, Kapan Harus Dicabut?-Tips Kesehatan
• 3 jam lalu
0
thumb
Paris Membara tapi Sepasang Kekasih Asyik Depan Kafe Bercengkerama
• 21 jam lalu
0
thumb
Pemprov Kaltim Percepat Hilirisasi Industri, Targetkan 50 Persen APBD Bersumber dari PAD dalam Tiga Tahun
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.