UB dan Komdigi Kembangkan AI untuk Deteksi Dini Potensi Perundungan di Sekolah Rakyat

beritajatim.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memitigasi potensi perundungan, kekerasan, dan intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat. Inovasi ini menyasar siswa jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Batch 2 Tahun 2026.

Pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu fokus Workshop 2 AITF Batch 2 yang digelar di Auditorium Algoritma, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguji sekaligus mematangkan prototipe teknologi yang dirancang untuk mendukung pencegahan dini terhadap potensi masalah sosial di lingkungan sekolah.

Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menjelaskan AITF merupakan wadah akselerasi talenta digital. Dalam program Batch 2, pengembangan telah memasuki tahap peninjauan capaian Fase 2, yang meliputi pengembangan model aset AI, finalisasi dataset, hingga integrasi aplikasi untuk mendukung pengawasan di lingkungan Sekolah Rakyat.

Menurut Imam, kolaborasi UB dan Komdigi yang telah berjalan selama dua tahun tersebut merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam merespons persoalan penting di dunia pendidikan. Data yang dipetakan secara komprehensif, mulai dari kondisi ekonomi siswa hingga program sekolah, digunakan sebagai landasan untuk menyusun langkah mitigasi.

“Kita ingin tentu memecahkan persoalan, melakukan akselerasi, termasuk memitigasi hal-hal yang kemungkinan bisa terjadi seperti perundungan, kekerasan, atau hal negatif lainnya. Dengan data yang sangat lengkap, kita pelajari dan petakan untuk kemudian merumuskan langkah mitigasinya,” ujar Prof. Imam Santoso.

Suasana AITF Batch 2 Tahun 2026 (Foto: Dani Alifian)

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Gunawan Hutagalung, ST., MM., menjelaskan pengembangan teknologi AITF Batch 2 melanjutkan capaian program sebelumnya. Jika Batch 1 berfokus pada pembangunan Learning Management System (LMS) untuk mempercepat proses belajar mengajar, Batch 2 diarahkan pada pengembangan Boarding Management System yang dilengkapi fitur early detection atau deteksi dini.

Sistem tersebut dirancang menggunakan teknologi Smart CCTV berbasis AI yang mampu membaca gestur serta mendeteksi potensi perilaku menyimpang sebelum insiden terjadi. Teknologi ini dikembangkan untuk mendukung pemantauan di lingkungan Sekolah Rakyat yang dikelola Kementerian Sosial (Kemensos).

Gunawan menjelaskan, luas area Sekolah Rakyat yang mencapai sekitar 7 hingga 8 hektare menjadi salah satu tantangan dalam pengawasan. Dengan cakupan area yang besar, pemantauan secara konvensional dinilai belum tentu dapat menjangkau seluruh lokasi secara optimal.

“CCTV ini sudah pintar, sudah AI. Dia bisa langsung mendeteksi pergerakan orang ke arah mana. Ini adalah mitigasi dan deteksi dini, bukan berarti sudah ada kasus perundungan, tetapi potensi itu selalu ada bahkan di sekolah biasa. Kita membangun prototipenya dan menyiapkan talenta dari mahasiswa terbaik UB untuk nantinya diimplementasikan oleh Kemensos,” urai Gunawan.

Ia menegaskan, pengembangan teknologi tersebut merupakan upaya antisipasi, bukan respons terhadap kasus perundungan yang telah terjadi di Sekolah Rakyat. Prototipe yang sedang disiapkan diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebelum diterapkan untuk mendukung kebutuhan pengawasan di lingkungan sekolah.

Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menambahkan model AI yang dikembangkan dalam AITF Batch 2 dirancang secara khusus untuk menjawab persoalan sosial yang berpotensi muncul pada kelompok usia rentan, terutama siswa SD dan SMP.

Menurut Sabriansyah, pengembangan pada Batch 2 memiliki fokus berbeda dibandingkan program sebelumnya. Pada Batch 1, tim berfokus pada dukungan terhadap proses belajar mengajar dan telah mengunggah model AI ke platform open source. Kali ini, pengembangan diarahkan pada solusi untuk memitigasi potensi perundungan dan intoleransi.

“Kalau di Batch 1 fokus pada proses belajar mengajar dan model AI-nya sudah kita upload ke platform open source, untuk hari ini kita mencoba menciptakan solusi pencegahan potensi perundungan dan intoleransi. Kita uji prototipenya dulu, agar model ini selanjutnya bisa dikembangkan secara spesifik sesuai kebutuhan administratif maupun pengawasan masyarakat di Sekolah Rakyat,” kata Sabriansyah saat memberi keterangan. [dan/beq]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Berhasil Lampaui Target Medali Emas di Asian Para Games 2026, NPC Indonesia Apresiasi Perjuangan Seluruh Atlet Merah Putih
• 1 jam lalu
0
thumb
Lupa Jumlah Rakaat Salat? Simak Bacaan dan Tata Cara Sujud Sahwi
• 11 jam lalu
0
thumb
Atasi Asap Karhutla, 3,2 Ton Dry Ice Ditabur di Langit Sumsel dan Kalteng
• 21 jam lalu
0
thumb
Kehilangan Impian sebagai Atlet Renang, Choo Young Woo Temukan Tujuan Hidup Baru di Drakor Between Steps
• 23 jam lalu
0
thumb
Singgung FIFA, I.League Minta Komite Disiplin PSSI Lebih Tegas Soal Imbas Kericuhan Suporter
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.