Elon Musk menyatakan dukungannya terhadap rencana penggabungan perusahaan antariksa SpaceX dan produsen kendaraan listrik Tesla. Kedua perusahaan telah membentuk komite khusus untuk membahas potensi merger, meskipun kesepakatan tersebut belum dipastikan akan terwujud.
“Saya pikir ini ide yang bagus, tetapi keputusan sepenuhnya bergantung pada komite khusus dari masing-masing perusahaan,” kata Elon Musk dalam konferensi pendapatan pada Selasa, dikutip dari Reuters, Rabu (21/10).
Elon Musk menilai penggabungan Space X dan Tesla berpotensi memberikan sejumlah keuntungan, terutama melalui kolaborasi pengembangan kecerdasan buatan (AI), desain cip, robotika, dan teknologi transportasi antariksa.
Menurut dia, sinergi tersebut dapat mencakup pengembangan perangkat lunak AI tingkat lanjut, manufaktur cip melalui Terafab, serta sistem transportasi untuk membawa muatan ke orbit. Musk juga menyoroti potensi integrasi teknologi konektivitas.
Elon Musk menyebut dirinya sebagai pihak yang memiliki konflik kepentingan sehingga tidak dapat terlibat dalam pembahasan komite khusus. Komite ini terdiri dari direktur independen dan dibentuk atas permintaan pemegang saham.
Komite khusus SpaceX dan Tesla belum menyepakati ketentuan transaksi. Elon Musk juga mengingatkan bahwa pembahasan ini belum tentu berujung pada kesepakatan. Jika merger direalisasikan, pemegang saham kedua perusahaan harus memberikan persetujuan.
Bisnis AI Dongkrak Kinerja SpaceXPembahasan merger berlangsung ketika bisnis AI SpaceX mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Berdasarkan laporan kinerja kuartal ketiga, pendapatan SpaceX mencapai sekitar US$ 14,6 miliar, meningkat 161% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
SpaceX juga membukukan laba bersih US$ 4,4 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu merugi US$ 1,1 miliar.
Pendapatan dari bisnis AI meningkat hampir sepuluh kali lipat menjadi US$ 7,56 miliar. Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari penyewaan kapasitas pusat data kepada pengembang AI, termasuk Anthropic, Google, dan Reflection AI.
Pertumbuhan tersebut menandai perubahan bisnis SpaceX yang sebelumnya banyak mengandalkan layanan internet satelit Starlink. Saat ini, bisnis perusahaan juga mencakup AI, platform media sosial X, dan pengembangan infrastruktur pusat data.
Namun, ekspansi infrastruktur komputasi membutuhkan investasi besar. Reuters melaporkan belanja modal SpaceX meningkat hampir tiga kali lipat menjadi US$ 19,6 miliar pada kuartal ketiga. Perusahaan juga memperkirakan belanja modal kuartal keempat mencapai US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar.
Salah satu bidang yang berpotensi menjadi bagian dari sinergi SpaceX dan Tesla yakni pengembangan cip melalui Terafab, perusahaan patungan manufaktur cip kedua perusahaan tersebut.
Elon Musk mengatakan Terafab dijadwalkan memproduksi cip uji pertama sekitar Mei atau Juni 2027. Produksi massal ditargetkan dimulai pada kuartal ketiga 2028.
Orang terkaya di dunia itu juga menyoroti potensi kerja sama di bidang robotika dan pengembangan sistem transportasi antariksa. SpaceX tengah mengembangkan Starship, sistem roket generasi baru yang dapat digunakan kembali dan diharapkan mendukung peluncuran satelit Starlink berkapasitas lebih besar serta infrastruktur komputasi AI di orbit. Meski begitu, Starship belum memasuki layanan komersial.
Wacana merger turut diikuti kenaikan saham kedua perusahaan dalam perdagangan setelah jam bursa. Reuters menyebut, saham SpaceX naik sekitar 8% dalam perdagangan di luar jam bursa setelah kabar pembahasan merger mencuat. Sementara itu, saham Tesla naik 1,8%.
Meski Elon Musk menilai penggabungan kedua perusahaan memiliki banyak manfaat, realisasi merger masih bergantung pada pembahasan komite khusus dan persetujuan pemegang saham. Hingga saat ini, belum ada ketentuan transaksi yang disepakati.





Komentar (0)