Ringkasan Berita:
- ITS, BTI Defence, dan IRIDIUM Services & Logistic Consultancy LLC dari Uni Emirat Arab menandatangani nota kesepahaman pengembangan teknologi kelautan dan industri pertahanan.
- Salah satu rencana yang dibahas adalah pengembangan hovercraft dengan memanfaatkan pengalaman riset ITS.
- BTI Defence menyebut telah memperoleh komitmen pekerjaan awal di pasar pemeliharaan dan perbaikan industri pertahanan di UEA.
- Kerja sama ini juga membuka peluang keterlibatan lulusan ITS, termasuk lulusan D3, dalam pekerjaan teknis di sektor industri pertahanan.
Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjalin kerja sama dengan BTI Defence dan IRIDIUM Services & Logistic Consultancy LLC (Iridium) dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengembangkan teknologi kelautan dan industri pertahanan. Kolaborasi ini mencakup riset terapan, inovasi produk, pengembangan sumber daya manusia, hingga industrialisasi yang berorientasi pada kebutuhan pasar internasional.
Salah satu rencana konkret yang dibahas dalam kerja sama tersebut adalah pengembangan kapal hovercraft. ITS menyatakan memiliki pengalaman mendesain dan mewujudkan teknologi hovercraft pada 2015 bersama Kementerian Pertahanan, yang berpotensi menjadi referensi untuk pengembangan berikutnya.
Kerja sama tiga pihak itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut audiensi mengenai pengembangan teknologi kelautan dan industri kemaritiman.
Kehadiran Iridium sebagai mitra yang berbasis di UEA diharapkan membuka akses bagi produk riset dan kompetensi teknologi Indonesia untuk menjangkau pasar internasional, khususnya sektor pertahanan dan kemaritiman.
Direktur BTI Defence Peter Tjahjono mengatakan, kerja sama tersebut tidak hanya berorientasi pada pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menyasar layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO), yakni pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan menyeluruh. Menurut dia, peluang pasar MRO di UEA cukup besar dan BTI Defence telah memperoleh komitmen pekerjaan awal.
“Kita bekerja sama dengan Iridium untuk memasuki pasar di UEA, di mana pasar untuk maintenance dan overhaul sangat besar dan kita telah mendapatkan komitmen pekerjaan di sana. Langkah berikutnya adalah kita follow up langsung di UEA,” kata Peter.
Peter menjelaskan, rincian teknis kerja sama masih akan dibahas dalam pertemuan lanjutan di UEA. Dalam kolaborasi tersebut, Iridium diproyeksikan berperan sebagai mitra lokal yang membantu BTI Defence menjangkau kebutuhan industri pertahanan di negara tersebut.
Menurut Peter, kerja sama ini juga membuka peluang bagi tenaga ahli Indonesia untuk terlibat dalam industri pertahanan internasional. BTI Defence berencana memanfaatkan kompetensi lulusan ITS serta tenaga berpengalaman dari lingkungan Angkatan Laut untuk memenuhi kebutuhan teknis di bidang pemeliharaan dan perbaikan.
“Harapannya kita bisa menyuplai tenaga teknisi yang memiliki skill set dari ITS. Lulusan D3 bisa mendapatkan peluang bekerja di sektor industri pertahanan,” ujarnya.
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menyebut kolaborasi tersebut mempertemukan kapasitas industri BTI Defence dengan kekuatan riset dan sumber daya manusia ITS di bidang teknologi kelautan. Kompetensi ITS mencakup perkapalan, desain kapal, serta penelitian yang berpotensi dikembangkan menjadi produk industri.
“ITS punya kekuatan SDM di teknologi kelautan, termasuk perkapalan dan desain kapal. Ini ada kesempatan besar,” kata Bambang.
Dia menjelaskan, ITS juga memiliki Pusat Studi Pertahanan yang telah bekerja sama dengan BTI Defence dan Kementerian Pertahanan dalam pengembangan persenjataan. Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian perguruan tinggi diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut bersama mitra industri agar memiliki nilai guna dan peluang komersial.
“Mereka dari industri, kami dari sisi penelitian. Apa yang kami wujudkan bisa dimasuki oleh BTI Defence karena mereka dari industri,” ujarnya.
Bambang mengatakan, pengalaman ITS dalam pengembangan hovercraft dapat menjadi salah satu modal untuk mendukung rencana kerja sama. Teknologi tersebut sebelumnya telah dikembangkan melalui proses desain dan diwujudkan bersama Kementerian Pertahanan pada 2015.
“BTI Defence berkolaborasi dengan Iridium membangun hovercraft. Kami punya pengalaman membangun hovercraft pada 2015, sudah mendesain dan diwujudkan oleh Kemenhan,” tutur Bambang.
Dia menilai keberadaan Iridium di UEA menjadi peluang untuk menghubungkan kemampuan riset dan teknologi Indonesia dengan kebutuhan pasar internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang pengembangan produk kelautan yang sesuai kebutuhan pengguna sekaligus memiliki prospek untuk dipasarkan secara komersial.
“Ini kesempatan besar karena Iridium basisnya ada di UEA. Di sana banyak hal yang bisa kita lakukan bersama,” tambahnya.
Melalui MoU tersebut, ketiga pihak berupaya membangun kesinambungan antara kebutuhan pasar, kemampuan industri, serta kapasitas penelitian dan pengembangan teknologi ITS. Kolaborasi ini diarahkan untuk menghasilkan produk dan solusi yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan industri, serta berpotensi dikembangkan secara komersial.
Selain pengembangan teknologi, kerja sama ini membuka peluang penguatan kompetensi tenaga kerja Indonesia di sektor pertahanan dan kemaritiman. Keterlibatan lulusan perguruan tinggi dan tenaga ahli diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan sumber daya manusia nasional.
Penandatanganan MoU tersebut dihadiri Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati, Direktur BTI Defence Peter Tjahjono, Komisaris BTI Defence Iman Sulaiman, Chief Operating Officer Iridium Hmood Al Shkeili, Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha, Wakil Rektor IV ITS Prof. Mohammad Hatta, serta mantan Wakil Rektor IV ITS Prof. Eko Budi Djatmiko. [asg/beq]





Komentar (0)