Wilayah Kalimantan Tengah masih diselimuti polusi udara hingga level berbahaya pagi ini, Rabu (21/10). Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), polusi udara paling buruk terpantau berada di Kota Palangka Raya, dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tembus 4.221.
Menurut KLH, kondisi tersebut dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan membutuhkan penanganan cepat. Oleh karenanya, setiap orang dianjurkan untuk menghindari aktivitas luar ruangan.
"Kelompok sensitif tetap berada di dalam ruangan dan hanya melakukan sedikit aktivitas. Setiap orang menghindari semua aktivitas di luar ruangan," demikian keterangan KLH, dikutip pada Rabu (21/10).
Tidak hanya di Palangka Raya, kualitas udara serupa dijumpai di wilayah lainnya. Berikut daftarnya:
- Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 4.221 dengan polutan utama PM10
- Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 1.877 dengan polutan utama PM10
- Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 1.537 dengan polutan utama PM10
- Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, nilai ISPU 1.139 dengan polutan utama PM10
- Kota Palembang, Sumatra Selatan, nilai ISPU 1.091 dengan polutan utama PM10
Kondisi ini terjadi seiring masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah-wilayah tersebut. Asap karhutla mengandung berbagai zat berbahaya, seperti partikel halus PM2,5 dan PM10, karbon monoksida (CO), karbon dioksida, serta senyawa lain hasil pembakaran tidak sempurna. Partikel halus memiliki ukuran sangat kecil hingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan, menyebabkan iritasi, peradangan, atau gangguan fungsi pernapasan.
Sebagai informasi, nilai ISPU tergolong "baik" berada dalam rentang 0-50. Artinya, tidak memberi efek negatif bagi kesehatan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan di luar ruangan. Nilai ISPU "sedang" berada pada rentang 51-100, menjadi tanda agar kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung dan paru untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, nilai ISPU untuk level "tidak sehat" berada dalam rentang 101-200. Di tingkat ini, semua orang diminta waspada dan mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan. Nilai ISPU akan mencapai level "sangat tidak sehat" pada rentang 201-300. Di taraf ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan.
Kualitas udara menjadi tergolong berbahaya ketika nilai ISPU-nya lebih dari 300. Pada level ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Sebab, tingkat kualitas udara berbahaya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius dan membutuhkan penanganan yang cepat.
Modifikasi Atmosfer dengan Es KeringSebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama lembaga terkait telah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dry ice atau es kering untuk mengurai asap kebakaran hutan dan lahan.
Tolok ukur keberhasilan operasi ini adalah peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2,5 (ukurannya lebih kecil daripada PM10).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, pelaksanaan OMC dry ice menunjukkan hasil cukup baik, termasuk yang terjadi di Palembang, Sumatra Selatan, beberapa waktu lalu. Meski begitu, BMKG menilai pemantauan dan analisis data untuk mengukur perkembangan dampak operasi secara berkelanjutan tetap diperlukan.
Teknik OMC dry ice menargetkan lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan. Cara ini dapat dilakukan terutama ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.
Seto menjelaskan, lapisan inversi seperti penutup yang menghambat pergerakan udara secara vertikal. Sementara, proses sublimasi dry ice dapat memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak, sehingga membuka kembali aliran konveksi.
Dengan demikian, asap bisa bergerak naik dan terurai ke atmosfer. Harapannya, hasil operasi tersebut juga bisa mendukung upaya penanggulangan karhutla dari jalur udara, seperti patroli dan pemadaman api.
"Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC," ujar dia.





Komentar (0)