Riyadh: Pasukan Arab Saudi pada Selasa 20 Oktober menyatakan telah mencegat rudal balistik Houthi yang ditujukan ke ibu kota kerajaan, Riyadh.
Pencegatan ini terjadi setelah pihak berwenang mengeluarkan peringatan bahaya dan jurnalis AFP melaporkan mendengar suara ledakan.
“Kerajaan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah Riyadh," ujar Turki Al-Malki, juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, seperti dikutip dari AFP, Rabu 21 Oktober 2026.
Sementara menurut laporan jurnalis AFP yang berada di ibu kota tersebut menyebutkan bahwa Riyadh diguncang oleh dua ledakan.
"Peringatan telah dikeluarkan oleh Platform Peringatan Dini Nasional di Kota Riyadh untuk memberi tahu adanya potensi bahaya," demikian pernyataan pertahanan sipil Arab Saudi melalui X.
Namun, peringatan tersebut dicabut beberapa menit kemudian, dengan pihak pertahanan sipil menyatakan bahwa "bahaya telah berlalu."
Kemudian pada malam harinya, Al-Malki melaporkan adanya pencegatan pesawat nirawak (drone) di wilayah Riyadh.
Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi telah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memaksa penundaan sebuah konferensi investasi besar. Hal ini menjadi pukulan bagi harapan Riyadh untuk menarik lebih banyak modal asing dan mendiversifikasi ekonominya.
Serangan mematikan oleh kelompok Houthi telah memaksa bandara Riyadh untuk ditutup.
Angkatan Udara Arab Saudi secara rutin menargetkan kelompok tersebut sebagai tindakan balasan di tengah pertempuran di Yaman antara pihak Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung oleh Riyadh.
Pada bulan Juli, gencatan senjata rapuh yang disepakati tahun 2022 runtuh setelah kelompok Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di Sanaa, ibu kota Yaman. Tindakan ini menentang kendali Riyadh atas wilayah udara Yaman dan memicu serangkaian serangan.
Selanjutnya, kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mulai menyerang kapal-kapal, wilayah, serta fasilitas minyak milik kerajaan tersebut, sebelum akhirnya merebut wilayah yang dikuasai pemerintah di sepanjang garis pantai Laut Merah melalui operasi kilat pada bulan September.





Komentar (0)