Jika Gelembung AI Pecah, Ekonomi Dunia Ambruk

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan peringatan paling serius hingga saat ini. Ledakan investasi kecerdasan buatan yang kini memacu pertumbuhan ekonomi berisiko berbalik menjadi bencana.

Jika cuan yang dinanti tak kunjung datang, pasar dapat runtuh dan guncangan itu akan menjalar ke seluruh perekonomian dunia, dikutip Selasa (20/10/2026).

Miliaran dolar telah digelontorkan untuk membangun data center, membeli chip, dan mengembangkan model AI. Namun hingga saat ini, pengembalian modal tersebut belum sebanding dengan jumlah yang dikeluarkan.

IMF memperingatkan bahwa jika investor mulai menyadari kenyataan ini sekaligus, harga saham perusahaan teknologi dapat anjlok, dan dampaknya tidak akan berhenti di bursa efek saja.

Pilihan Redaksi
  • Kerja Kantoran Tidak Manusiawi, Semua Gerak-Gerik Karyawan Dipantau
  • Airlangga Tuding Asing Tak Suka Industri Teknologi RI Maju

Salah satu pemicu keruntuhan ini adalah utang yang makin menumpuk. Pengelola data center raksasa makin banyak meminjam uang untuk ekspansi, sedangkan investor juga memakai pinjaman untuk ikut berinvestasi di sektor ini. Ketika keuntungan yang dijanjikan tidak terwujud, kemampuan membayar utang ikut hilang, dan sistem keuangan yang saling terhubung dapat runtuh secara berantai.

"Utang [leverage] yang makin membengkak bisa jadi katalis koreksi tersebut. Hyperscaler, operator data center terbesar, berutang makin lama makin bayak. Di sisi lain, investor membeli saham AI juga denganleverage," kata IMF.

Sistem keuangan industri AI ternyata berputar di antara pemain itu sendiri. Contohnya, NVIDIA menyepakati investasi miliaran dolar ke OpenAI, sedangkan OpenAI justru menjadi salah satu pembeli chip terbesar NVIDIA. Uang yang berputar tampak besar, teteapi sebenarnya berpindah dari satu kantong ke kantong lain dalam lingkaran yang sama. Jika satu pihak terganggu, pihak lain ikut terimbas.

IMF mencatat bahwa sejak 2023, transaksi semacam ini telah melibatkan ratusan miliar dolar investasi dan utang, dengan janji pendapatan masa depan yang nilainya berkali-kali lipat lebih besar. Keterkaitan sedemikian rupa membuat kesehatan keuangan perusahaan-perusahaan ini menyatu. Jatuh satu, berisiko menyeret yang lain.

Selain gelembung investasi yang bisa pecah, IMF juga mengingatkan ancaman lain yang dapat memperburuk keadaan. Naiknya suku bunga atau imbal hasil obligasi pemerintah dapat membebani biaya utang yang sudah tinggi. Di samping itu, serangan siber berskala besar yang dibantu oleh AI sendiri terhadap lembaga keuangan atau pemerintahan dapat memicu kekacauan yang jauh lebih luas.

Tanda-tanda keraguan mulai muncul. Belum lama ini pendapatan tahunan OpenAI dilaporkan jauh di bawah sasaran yang ditetapkan, menurunkan harapan bahwa perusahaan-perusahaan ini akan segera menghasilkan keuntungan sebesar yang dijanjikan.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gempa M 5,4 Guncang Laut Meulaboh, Terasa di 8 Kabupaten/Kota
• 3 jam lalu
0
thumb
Kemenhut Sebut Penegakkan Hukum Tetap Berjalan Bersamaan Penanganan Karhutla
• 17 jam lalu
0
thumb
Penyebab Kebakaran KMP Batu Mandi Masih Diselidiki
• 6 jam lalu
0
thumb
Telkom Siapkan Buyback Saham Rp4 Triliun, Sisa Dana Lebih dari Rp3 Triliun
• 15 jam lalu
0
thumb
Instruksi Tegas Prabowo ke PLN: Akselerasi 100 GW Panel Surya dan Pangkas Subsidi
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.