Canberra: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mendorong penguatan tata kelola museum dan galeri seni di Indonesia melalui kerja sama internasional, pendanaan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan edukasi dan literasi seni bagi generasi muda.
Hal tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke National Gallery of Australia di Canberra, Australia. Kunjungan ini bertujuan mempelajari pengelolaan koleksi, pelestarian karya seni, pengembangan pameran, serta sistem kerja sama antara museum dan galeri dengan berbagai institusi kebudayaan di dunia.
Ibas menegaskan hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup dibangun melalui kedekatan geografis sebagai negara bertetangga, tetapi juga perlu diperkuat melalui kerja sama konkret, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk seni dan kebudayaan.
"Sebagai anggota parlemen, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan diplomasi antara kedua negara berjalan dengan baik dan semakin kuat. Kita tidak datang hanya untuk menyapa sebagai negara tetangga, tetapi juga untuk memastikan kerja sama, kolaborasi, dan pertukaran gagasan terus berkembang," ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Oktober 2026.
Baca Juga :
Menbud Dorong Revitalisasi Museum sebagai Motor Baru Pertumbuhan EkonomiMenurutnya, pengelolaan museum membutuhkan sistem yang profesional dan berkelanjutan. Proses kurasi harus dilakukan dengan memperhatikan nilai artistik, sejarah, keaslian, konteks budaya, serta relevansi karya bagi masyarakat.
Aspek keamanan juga menjadi bagian penting, mulai dari perlindungan fisik karya, pengendalian kondisi lingkungan penyimpanan, pengelolaan risiko, hingga dokumentasi dan pengamanan informasi koleksi.
Museum juga perlu memperhatikan aspek ramah lingkungan dalam operasionalnya,. Termasuk efisiensi energi, pengelolaan sumber daya, penggunaan material yang sesuai, serta penerapan praktik konservasi yang memperhitungkan keberlanjutan lingkungan.
"Bagi kami, menarik untuk mempelajari bagaimana sebuah galeri nasional mengelola koleksinya, menjaga karya seni, mengembangkan pameran, serta membangun kerja sama dengan berbagai institusi di dunia. Pengalaman seperti ini penting untuk menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan museum dan galeri di Indonesia," ungkapnya.
Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengunjungi National Gallery of Australia di Canberra. Istimewa. Pendanaan Berkelanjutan dan Penguatan Regulasi Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian Ibas adalah kebutuhan pendanaan berkelanjutan bagi museum dan galeri seni. Menurutnya, pengelolaan museum tidak berhenti ketika sebuah bangunan didirikan atau koleksi berhasil dihimpun.
Museum membutuhkan pembiayaan jangka panjang untuk konservasi, perawatan fasilitas, pengembangan koleksi, penelitian, penyelenggaraan pameran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, keamanan, dan pelayanan publik.
"Pendanaan yang berkelanjutan diperlukan agar museum dapat menjalankan fungsinya secara konsisten dan tidak hanya bergantung pada proyek atau program dalam jangka pendek," jelasnya.
Menurut dia, perlu pemikiran yang komprehensif mengenai model pendanaan museum. Termasuk, dukungan pemerintah, kemitraan yang bertanggung jawab dengan sektor swasta, kolaborasi dengan lembaga kebudayaan, serta mekanisme lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan prinsip pelindungan warisan budaya.
Ia juga menyoroti pentingnya kerangka regulasi yang mampu memberikan kepastian dalam pengelolaan, pemeliharaan, pengembangan, dan pelindungan koleksi museum maupun galeri.
Indonesia memiliki beragam museum, galeri, dan ruang pameran seni dengan karakteristik dan kapasitas yang berbeda-beda. Penguatan kebijakan perlu memperhatikan kebutuhan institusi di tingkat nasional maupun daerah agar pengembangan kebudayaan tidak terpusat pada kota-kota besar saja.
"Pengalaman Australia dapat dipelajari untuk mengidentifikasi praktik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan Indonesia," kata dia.





Komentar (0)