Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap hasil awal uji coba penggunaan dry ice atau es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Uji coba pada 15-16 Oktober menggunakan total 2,4 ton dry ice dan menunjukkan peningkatan jarak pandang di wilayah terdampak.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan evaluasi penggunaan teknologi tersebut masih berada pada tahap awal. Meski demikian, hasil pemantauan menunjukkan adanya perubahan jarak pandang setelah penyemaian dilakukan.
“Bisa kami sampaikan bahwa ini masih evaluasi sangat awal sebenarnya,” kata Berton dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa 20 Oktober 2026.
Berton menjelaskan, pada uji coba 15-16 Oktober di Sumatra Selatan, BNPB menggunakan 2,4 ton dry ice dengan total waktu terbang sekitar tujuh jam.
“Dan kita mendapati bahwa adanya peningkatan apa namanya, jarak pandang dari 650 kemarin itu menjadi 2.800 meter. Jadi ini signifikan, sangat luar biasa sebenarnya.,” katanya.
Menurut Berton, uji coba kembali dilakukan pada 17-18 Oktober dengan penyebaran bahan yang sama. Upaya tersebut juga mendukung pelaksanaan penyemaian natrium klorida (NaCl) untuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
“Kita lihat bahwa penerbangan kemarin itu tanggal 18 normal ya, relatif normal dan yang tadinya itu sama sekali tidak bisa terbang ke keluar masuk dari Palembang atau ke Palembang,” ujar Berton.
Berton menjelaskan, penggunaan dry ice diarahkan untuk membantu mengatasi lapisan inversi di atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan. Dalam kondisi tersebut, pesawat melakukan penyemaian di atas lapisan asap untuk membantu mengubah kondisi atmosfer sehingga asap dapat bergerak ke lapisan yang lebih tinggi.
“Dry ice ini yang kami tangkap adalah dia ketika terjadi asap yang tebal itu membentuk yang disebut dengan inversi. Inversi ini kemudian di atasnya relatif kosong. Nah, pesawat tersebut terbang di atas inversi lapisan tersebut,” jelasnya.
Baca Juga :
Pemerintah Fokus Modifikasi Cuaca dengan Dry Ice Menangani KarhutlaBerbeda dengan operasi modifikasi cuaca yang menggunakan bahan semai untuk mendukung pembentukan hujan, penggunaan dry ice dalam uji coba ini difokuskan pada upaya mengurangi penumpukan asap.
BNPB juga mengandalkan kombinasi pemadaman darat dan udara dalam menangani karhutla. Berton mengatakan, petugas darat berperan penting untuk menjangkau titik api sekaligus melakukan pendinginan hingga ke bagian dalam lahan, sedangkan operasi udara diperlukan ketika api membesar atau sulit dijangkau dari darat.
“Evaluasi kami itu kinerja atau efektivitas dari teman-teman yang bekerja di lapangan itu jauh lebih efektif, lebih tinggi mengingat mereka itu bisa langsung ke api, titik apinya dan mereka bisa sampai mendinginkan. Kalau dari udara kan memang menyiram dan kemudian mati. Ini ini membantu teman-teman di satgas darat untuk segera bisa memadamkan lebih lebih dalam lagi di bawah tanah,” ujarnya.
Selain mengevaluasi teknologi dry ice, BNPB mengkaji penambahan armada dan personel bersama TNI dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi serta kesiapan dukungan di lapangan.
Berton menyebut Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah masih menghadapi titik api yang belum sepenuhnya padam. Sementara itu, hujan alami di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi, mulai membantu mengurangi jumlah titik api.
Untuk mencegah karhutla berulang, BNPB mendorong penguatan peta risiko, patroli dan pelaporan oleh warga desa, sistem peringatan dini, serta penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran.
Berton menegaskan koordinasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan organisasi nonpemerintah diperlukan untuk memperkuat pencegahan hingga penanganan karhutla.





Komentar (0)