Jakarta (ANTARA) - Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan pendidikan bagi generasi muda Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan.
Pada hari keenam Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa menyampaikan seruan Indonesia terhadap penguatan kerja sama internasional untuk memastikan layanan pendidikan yang diselenggarakan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dapat terus berlangsung.
"Bagi Indonesia, pendidikan bukan sekadar kebutuhan selama masa konflik, melainkan fondasi bagi pemulihan, pembangunan, dan masa depan Palestina. Anak-anak Palestina tidak boleh kehilangan kesempatan belajar akibat konflik yang berkepanjangan," kata Satrya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.
Indonesia mengapresiasi dukungan UNESCO terhadap kegiatan pendidikan UNRWA sekaligus menyampaikan keprihatinan mendalam atas hancurnya fasilitas pendidikan, pembatasan mobilitas, dan hambatan operasional yang mengancam hak belajar anak-anak Palestina.
Krisis pendidikan Palestina telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. UNESCO mencatat sekitar 745.000 pelajar di Gaza kehilangan akses pendidikan sekolah selama lebih dari dua tahun akademik sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 88.000 mahasiswa pendidikan tinggi.
Sementara itu, UNRWA pada Maret 2026 memperingatkan sekitar 48.000 pelajar pengungsi Palestina di Tepi Barat juga menghadapi risiko gangguan pendidikan akibat pengungsian, penutupan sekolah, dan situasi yang tidak aman.
Indonesia menekankan pentingnya pendanaan UNRWA yang memadai dan berkelanjutan, dengan pengelolaan yang transparan dan akuntabel agar lembaga tersebut dapat terus memberikan pendidikan dan perlindungan bagi anak-anak pengungsi Palestina.
"UNRWA memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjamin akses pendidikan bagi pengungsi Palestina. Karena itu, solidaritas internasional harus diwujudkan melalui dukungan pendanaan dan kerja sama nyata yang berkelanjutan," katanya.
Indonesia juga berupaya memperluas akses pendidikan bagi warga Palestina. Pada 9 September Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan program beasiswa magister bagi 200 mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Indonesia dengan anggaran Rp22 miliar.
Jakarta juga memperkuat kerja sama di bidang reformasi pendidikan, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pembangunan sistem pendidikan inklusif melalui dialog Indonesia–Palestina pada April 2026 yang melibatkan Australia.
Dukungan RI juga mencakup bantuan kemanusiaan. Berdasarkan laporan KBRI Kairo, hingga Februari 2026, bantuan yang tercatat melalui Mesir mencapai sekitar 22,55 juta dolar AS (sekitar Rp405 miliar) dengan berat 2.580 ton.
Pada April 2026, konvoi 24 truk membawa tambahan bantuan seberat 500 ton senilai Rp20 miliar bagi 150.000 orang di Gaza.
Satrya mengatakan Indonesia mendukung langkah UNESCO untuk memperluas pembelajaran darurat, pelatihan guru, layanan psikososial, pendidikan inklusif Dan juga pendidikan tinggi dan vokasi.
Dalam laporan 15 Oktober 2026, UNESCO menyebut sekitar 40.000 mahasiswa telah memperoleh manfaat dari Jaringan Gaza Virtual Campus dan ruang pembelajaran sementara.
Inisiatif itu memperlihatkan bahwa pendidikan tetap dapat dipertahankan di tengah kerusakan infrastruktur, meskipun pemulihan sekolah dan perguruan tinggi secara fisik tetap mendesak.
Indonesia juga menegaskan bahwa pengembangan kurikulum dan pemulihan pendidikan harus menghormati kepemilikan nasional Palestina serta kewenangan Otoritas Palestina.
Kerja sama UNESCO-UNRWA perlu diperkuat dengan menempatkan kebutuhan masyarakat Palestina sebagai prioritas utama.
"Mempertahankan pendidikan Palestina berarti menjaga harapan sebuah generasi sekaligus memperkuat kemampuan bangsa Palestina membangun masa depannya sendiri. Indonesia akan terus mendukung upaya internasional agar hak atas pendidikan tidak menjadi korban konflik," katanya.
Baca juga: WFP pangkas sepertiga bantuan pangan di Gaza akibat kekurangan dana
Baca juga: UNICEF: Israel tewaskan lebih dari 340 anak di Gaza
Pada hari keenam Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa menyampaikan seruan Indonesia terhadap penguatan kerja sama internasional untuk memastikan layanan pendidikan yang diselenggarakan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dapat terus berlangsung.
"Bagi Indonesia, pendidikan bukan sekadar kebutuhan selama masa konflik, melainkan fondasi bagi pemulihan, pembangunan, dan masa depan Palestina. Anak-anak Palestina tidak boleh kehilangan kesempatan belajar akibat konflik yang berkepanjangan," kata Satrya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.
Indonesia mengapresiasi dukungan UNESCO terhadap kegiatan pendidikan UNRWA sekaligus menyampaikan keprihatinan mendalam atas hancurnya fasilitas pendidikan, pembatasan mobilitas, dan hambatan operasional yang mengancam hak belajar anak-anak Palestina.
Krisis pendidikan Palestina telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. UNESCO mencatat sekitar 745.000 pelajar di Gaza kehilangan akses pendidikan sekolah selama lebih dari dua tahun akademik sejak Oktober 2023, termasuk sekitar 88.000 mahasiswa pendidikan tinggi.
Sementara itu, UNRWA pada Maret 2026 memperingatkan sekitar 48.000 pelajar pengungsi Palestina di Tepi Barat juga menghadapi risiko gangguan pendidikan akibat pengungsian, penutupan sekolah, dan situasi yang tidak aman.
Indonesia menekankan pentingnya pendanaan UNRWA yang memadai dan berkelanjutan, dengan pengelolaan yang transparan dan akuntabel agar lembaga tersebut dapat terus memberikan pendidikan dan perlindungan bagi anak-anak pengungsi Palestina.
"UNRWA memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjamin akses pendidikan bagi pengungsi Palestina. Karena itu, solidaritas internasional harus diwujudkan melalui dukungan pendanaan dan kerja sama nyata yang berkelanjutan," katanya.
Indonesia juga berupaya memperluas akses pendidikan bagi warga Palestina. Pada 9 September Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan program beasiswa magister bagi 200 mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Indonesia dengan anggaran Rp22 miliar.
Jakarta juga memperkuat kerja sama di bidang reformasi pendidikan, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pembangunan sistem pendidikan inklusif melalui dialog Indonesia–Palestina pada April 2026 yang melibatkan Australia.
Dukungan RI juga mencakup bantuan kemanusiaan. Berdasarkan laporan KBRI Kairo, hingga Februari 2026, bantuan yang tercatat melalui Mesir mencapai sekitar 22,55 juta dolar AS (sekitar Rp405 miliar) dengan berat 2.580 ton.
Pada April 2026, konvoi 24 truk membawa tambahan bantuan seberat 500 ton senilai Rp20 miliar bagi 150.000 orang di Gaza.
Satrya mengatakan Indonesia mendukung langkah UNESCO untuk memperluas pembelajaran darurat, pelatihan guru, layanan psikososial, pendidikan inklusif Dan juga pendidikan tinggi dan vokasi.
Dalam laporan 15 Oktober 2026, UNESCO menyebut sekitar 40.000 mahasiswa telah memperoleh manfaat dari Jaringan Gaza Virtual Campus dan ruang pembelajaran sementara.
Inisiatif itu memperlihatkan bahwa pendidikan tetap dapat dipertahankan di tengah kerusakan infrastruktur, meskipun pemulihan sekolah dan perguruan tinggi secara fisik tetap mendesak.
Indonesia juga menegaskan bahwa pengembangan kurikulum dan pemulihan pendidikan harus menghormati kepemilikan nasional Palestina serta kewenangan Otoritas Palestina.
Kerja sama UNESCO-UNRWA perlu diperkuat dengan menempatkan kebutuhan masyarakat Palestina sebagai prioritas utama.
"Mempertahankan pendidikan Palestina berarti menjaga harapan sebuah generasi sekaligus memperkuat kemampuan bangsa Palestina membangun masa depannya sendiri. Indonesia akan terus mendukung upaya internasional agar hak atas pendidikan tidak menjadi korban konflik," katanya.
Baca juga: WFP pangkas sepertiga bantuan pangan di Gaza akibat kekurangan dana
Baca juga: UNICEF: Israel tewaskan lebih dari 340 anak di Gaza






Komentar (0)