REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini menghadirkan tekanan politik yang semakin berat bagi Presiden Donald Trump. Lonjakan harga bahan bakar, meningkatnya inflasi, dan melemahnya daya beli masyarakat menjadi persoalan serius menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) pada 3 November 2026. Di tengah tekanan ekonomi tersebut, tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Trump merosot menjadi 31 persen, terendah sepanjang masa kepresidenannya.
Survei Reuters/Ipsos yang dipublikasikan pada Senin (19/10/2026) menunjukkan sebanyak 68 persen responden tidak menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump. Ketidakpuasan itu muncul ketika masyarakat Amerika menghadapi harga bensin yang tetap tinggi, sementara perang Iran yang telah berlangsung hampir delapan bulan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Baca Juga
Bursa Efek Indonesia Perbarui Ketentuan Auto Reject Bawah untuk Saham Harga Rendah
Sucorinvest Gandeng BCA Perluas Akses Reksa Dana
Harakah Majelis Taklim Luncurkan Delapan Modul Pembelajaran, Bahas KDRT hingga Pinjol
Survei yang melibatkan 1.679 responden dewasa tersebut juga memperlihatkan tekanan terhadap Partai Republik menjelang pemilu sela. Di antara pemilih terdaftar, sebanyak 47 persen menyatakan akan memilih kandidat Partai Demokrat untuk Kongres, sedangkan 35 persen memilih Partai Republik.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Trump yang selama ini menjanjikan penurunan harga energi dan perbaikan ekonomi domestik. Konflik di Timur Tengah kini memberikan konsekuensi ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat Amerika.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat mencapai 4,30 dolar AS per galon pada 19 Oktober 2026, meningkat dari 3,04 dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan lebih tajam terjadi pada harga solar yang mencapai 6,32 dolar AS per galon, dibandingkan 3,63 dolar AS setahun sebelumnya. Tingginya harga bahan bakar tersebut menambah beban biaya transportasi dan distribusi barang di berbagai wilayah Amerika.
Tekanan terhadap masyarakat semakin besar karena kenaikan harga energi berlangsung bersamaan dengan percepatan inflasi. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) mencatat inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026, meningkat dari 3,4 persen pada Agustus.
Harga energi naik 20,4 persen secara tahunan, sedangkan harga bensin melonjak 34,2 persen. Kenaikan harga minyak pemanas bahkan mencapai 74,2 persen.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Ekonomi Global
Salah satu sumber utama tekanan harga energi adalah gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan gas yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi kawasan tersebut pada 2024, setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk minyak dunia.
Perang yang dimulai dengan serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengakibatkan gangguan besar terhadap aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Serangan terhadap kapal dan meningkatnya risiko keamanan membuat distribusi minyak menghadapi hambatan serius.
Meskipun pengiriman minyak dari sejumlah negara Teluk mulai pulih, volume perdagangan energi belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang.
Data perusahaan analisis energi Vortexa yang dikutip Reuters pada 6 Oktober menunjukkan ekspor minyak dan produk energi dari negara-negara Teluk, tidak termasuk Iran, mencapai rata-rata 19,2 juta barel per hari sepanjang September. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 81 persen tingkat sebelum perang, yakni 23,6 juta barel per hari.
Namun, pemulihan tersebut berlangsung tidak merata. Ekspor minyak mentah dan kondensat telah mencapai sekitar 91 persen dari tingkat sebelum perang. Sebaliknya, ekspor bahan bakar olahan baru pulih hingga sekitar 60 persen.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pengiriman minyak mentah belum sepenuhnya mengatasi gangguan pasokan bahan bakar olahan, termasuk solar dan bahan bakar penerbangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih mempertahankan blokade terhadap ekspor minyak Iran. Reuters pada 13 Oktober melaporkan bahwa berdasarkan data Vortexa, ekspor minyak mentah Iran tercatat nihil sepanjang periode Oktober yang diamati perusahaan tersebut.
Kondisi keamanan di Selat Hormuz juga masih bergejolak. Pada Senin (19/10/2026), sebuah kapal tanker dilaporkan mengalami ledakan di kawasan selatan selat tersebut. Garda Revolusi Iran menyatakan kapal itu menabrak ranjau laut.
Peristiwa tersebut kembali menambah kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di kawasan Teluk. Sementara itu, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Senin masih berada di kisaran 108 dolar AS per barel, jauh di atas tingkat harga sebelum perang.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan sebagian pasokan energi belum menghilangkan tekanan terhadap pasar minyak global.
Komentar (0)