Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memimpin upacara dan ziarah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menjadi awal rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar dan menjadi momentum untuk mengenang jasa para tokoh yang berkontribusi terhadap partai berlambang pohon beringin itu.
Turut hadir mendampingi Bahlil, Menteri Perindustrian sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji, Wakil Ketua DPR sekaligus Bendahara Umum Golkar Sari Yuliati, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, hingga Wakil Ketua Umum Golkar Wihaji.
Sesampainya di TMP Kalibata, Bahlil memimpin jalannya upacara untuk memberikan penghormatan ke arwah pahlawan yang telah mendahului.
“Alhamdulillah, hari ini kami dari DPP Partai Golkar melakukan ziarah di Taman Makam Pahlawan dalam rangka memperingati HUT Golkar yang ke-62,” kata Bahlil di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (20/10).
“Kita melakukan ziarah para pahlawan yang mendahului kami, khususnya kepada pendiri, ketua-ketua umum Partai Golkar, kemudian presiden-presiden terdahulu,” lanjutnya.
Bahlil berharap, memasuki usia ke-62 tahun, Partai Golkar dapat terus berkontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Ia menegaskan, partainya ingin tetap menjalankan pengabdian kepada rakyat dengan berpegang pada nilai-nilai karya dan kekaryaan.
“Dan kita doakan semoga di usia yang ke-62 ini, Partai Golkar selalu berada pada bagian terpenting dalam rangka memberikan kontribusi, pengabdiannya kepada rakyat, bangsa dan negara dengan nilai-nilai daripada karya-kekaryaan,” katanya.
Bahlil mengatakan, ziarah merupakan kegiatan penting bagi Golkar karena partai tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik Indonesia. Menurutnya, perjalanan itu tidak terlepas dari peran para tokoh bangsa yang telah lebih dahulu merintis dan membangun partai.
“Partai Golkar adalah partai yang lahir dari sebuah proses panjang. Dan dari proses panjang itu selalu diinisiasi dan dipelopori oleh para tokoh bangsa pendahulu,” kata Bahlil.
“Dan sebagai partai yang mengerti sejarah, sebagai partai yang mengerti tentang tata krama dalam peradaban berbangsa dan bernegara, sudah sewajarnya, sudah sepantasnya dan wajib hukumnya untuk selalu berada dalam memberikan penghormatan dan doa kepada para senior-senior kami dan semua tokoh-tokoh bangsa yang ada pada di TMP ini,” sambung dia.
Selain menjelaskan makna ziarah, Bahlil juga menanggapi pelaksanaan peringatan HUT ke-62 Golkar yang akan digelar secara sederhana, tanpa mengadakan acara di hotel.
Ia mengatakan, Golkar telah memilih untuk tidak menggelar perayaan di hotel sejak tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, kesederhanaan acara berkaitan dengan musibah yang menimpa masyarakat di Sumatra. Saat itu, Golkar juga menggelar doa bersama.
Tahun ini, Golkar kembali memilih perayaan sederhana. Bahlil menegaskan, keputusan tersebut sejalan dengan pandangan partainya bahwa Golkar lahir dari rakyat dan harus mengarahkan program-programnya untuk semakin dekat dengan masyarakat.
“Sekarang kita lakukan juga sederhana, tapi memang Golkar itu lahirnya dari rakyat. Golkar ini kan lahir bukan dilahirkan dari kelompok masyarakat tertentu atau keluarga tertentu. Golkar dilahirkan di tengah rakyat. Karena itu Golkar selalu berpikir bagaimana program-programnya mendekatkan diri pada rakyat,” kata dia.
Tabur Bunga di Makam BJ Habibie hingga SoedharmoniDalam rangkaian ziarah, Bahlil juga mengikuti prosesi tabur bunga di makam Presiden Indonesia ke-3 B.J. Habibie dan Wakil Presiden ke-5 Soedharmono.
Adapun BJ Habibie pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar. Soedharmono juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Golkar periode 1983–1989.
Saat berada di makam Soedharmono, Bahlil menyinggung perjalanan politik tokoh tersebut yang menurutnya memiliki posisi tersendiri dalam sejarah Golkar. Ia menyebut Soedharmono sebagai satu-satunya ketua umum Golkar yang kemudian menjabat sebagai wakil presiden.
“Satu-satunya Ketum Golkar yang menjadi Wapres, Ketua Umum dulu baru jadi Wapres. Kalau Pak JK itu justru Wapres dulu baru Ketua Umum. Beda itu. Jadi ini Wapres perjuangan, asli ini. Ini Golkar benar ini,” kata Bahlil.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily turut menyinggung capaian suara tertinggi saat itu.
“Peroleh suaranya tertinggi sepanjang sejarah,” kata Ace.
“Tertinggi ya?” tanya Bahlil.
“Iya 88 persen,” jawab Ace.
“Nah yang tau sejarah Gubernur Lemhannas,” pungkas Bahlil.






Komentar (0)