Ringkasan Berita
- Jamilah (36), warga Desa Datengan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, merasakan manfaat Program JKN saat mendampingi ibunya menjalani perawatan intensif.
- Ngatmi (68) mengalami infeksi luka pada kaki yang berkaitan dengan diabetes melitus, disertai gangguan fungsi jantung dan ginjal.
- Setelah mendapat penanganan medis, kesadaran Ngatmi dilaporkan kembali pulih dan kondisinya berangsur membaik.
- Jamilah menyebut biaya pelayanan medis yang diterima ibunya dijamin JKN tanpa iur biaya tambahan selama perawatan yang dijalaninya.
Kediri (beritajatim.com) – Rasa cemas menyelimuti Jamilah (36), warga Desa Datengan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, ketika kondisi kesehatan ibunya, Ngatmi (68), tiba-tiba memburuk. Pembengkakan kaki yang telah berlangsung sekitar dua bulan berkembang menjadi luka terbuka. Situasi semakin mengkhawatirkan ketika sang ibu kehilangan kesadaran dan tidak mampu berdiri.
Keluarga kemudian membawa Ngatmi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Di tengah kekhawatiran terhadap kondisi ibunya, Jamilah mengaku terbantu dengan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menanggung biaya pelayanan kesehatan sesuai ketentuan program.
Jamilah menceritakan, keluhan awal ibunya hanya berupa pembengkakan pada kaki. Namun, seiring waktu, pembengkakan tersebut pecah dan menimbulkan luka yang semakin parah.
“Pada awalnya, keluhan yang tampak di rumah hanyalah pembengkakan pada area kaki ibu. Lama-kelamaan, bengkak tersebut pecah hingga menimbulkan luka terbuka yang cukup parah. Kondisi tersebut sebenarnya sudah berlangsung sekitar dua bulan,” ujar Jamilah.
Selama periode tersebut, keluarga mengaku hanya memberikan obat pereda nyeri. Kondisi Ngatmi kemudian menurun drastis hingga mengalami penurunan kesadaran. Keluarga pun segera membawanya ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Diagnosis Diabetes Disertai Komplikasi
Setibanya di instalasi gawat darurat (IGD), tim medis melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, termasuk tes laboratorium darah serta foto rontgen.
Berdasarkan penjelasan dokter kepada keluarga, Ngatmi mengalami infeksi luka berat yang berkaitan dengan penyakit diabetes melitus yang sebelumnya tidak diketahui. Kondisinya juga diperberat oleh gangguan fungsi jantung dan ginjal.
Jamilah mengaku keluarga tidak menyadari penyakit tersebut karena sebelumnya tidak ada keluhan yang dianggap mengarah pada diabetes.
“Sebelumnya kami sama sekali tidak mengetahui bahwa ibu mengidap penyakit diabetes melitus karena memang tidak pernah ada gejala atau keluhan tertentu yang dirasakan. Baru setelah ibu tidak sadarkan diri dan menjalani pemeriksaan medis secara mendalam di rumah sakit ini, dokter menyampaikan diagnosis bahwa ibu menderita diabetes serta mengalami gangguan fungsi pada organ jantung dan ginjal,” tuturnya.
Setelah mendapatkan tindakan medis dan perawatan intensif, kesadaran Ngatmi dilaporkan kembali pulih. Kondisinya juga berangsur membaik.
Tim dokter spesialis bedah selanjutnya menjadwalkan operasi pembersihan luka pada kaki untuk mengangkat jaringan yang telah mati dan membantu mengendalikan infeksi. Tindakan tersebut ditujukan untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut dan mendukung proses pemulihan pasien.
JKN Ringankan Beban Biaya Keluarga
Selain perkembangan kondisi kesehatan ibunya, kepastian pembiayaan menjadi hal penting bagi Jamilah dan keluarga. Ia merupakan peserta JKN dari segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), dengan iuran yang ditanggung pemerintah sesuai ketentuan program.
Menurut Jamilah, pelayanan yang diterima ibunya sejak masuk rumah sakit berjalan lancar. Ia juga mengapresiasi respons dokter, perawat, dan petugas rumah sakit selama proses perawatan.
“Pelayanan yang diberikan oleh para dokter, perawat, maupun staf rumah sakit sangat baik, ramah, dan sigap. Kami sama sekali tidak merasakan adanya perbedaan perlakuan layanan, meskipun kami menggunakan fasilitas jaminan dari pemerintah,” katanya.
Ia menyebut biaya pengobatan, perawatan di ruang intensif, obat-obatan, hingga rencana operasi pembersihan luka ditanggung melalui JKN tanpa pungutan biaya tambahan selama pelayanan yang diterima ibunya.
Bagi keluarga Jamilah, jaminan pembiayaan tersebut memberikan ruang untuk berfokus pada pemulihan kesehatan Ngatmi tanpa harus menghadapi kekhawatiran tambahan mengenai besarnya tagihan rumah sakit.
“Hal ini sungguh sangat membantu dan meringankan beban ekonomi keluarga kami, sebab jika harus menanggung biaya secara mandiri, nilainya pasti sangat besar,” ungkapnya.
Berharap Program JKN Terus Berlanjut
Pengalaman mendampingi ibunya menjalani perawatan membuat Jamilah semakin memahami pentingnya jaminan kesehatan bagi keluarga, terutama ketika menghadapi kondisi medis yang membutuhkan penanganan intensif dan berkelanjutan.
Ia berharap Program JKN dapat terus berjalan dan kualitas pelayanannya semakin meningkat agar masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang layak.
“Kesan kami terhadap Program JKN ini sangat luar biasa dan berasa sangat terbantu. Mulai dari penanganan gawat darurat hingga perawatan lanjutan ibu, semuanya dijamin dengan sangat baik. Saya berharap program jaminan kesehatan dari pemerintah ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan dan semakin sukses dalam melayani seluruh rakyat Indonesia,” tutup Jamilah.
Kisah tersebut menggambarkan arti penting perlindungan kesehatan ketika keluarga menghadapi situasi darurat. Di tengah proses pemulihan Ngatmi, kepastian pembiayaan menjadi salah satu hal yang membantu keluarga menjalani perawatan dengan lebih tenang.
Di sisi lain, pengalaman ini juga menjadi pengingat agar masyarakat segera mencari pertolongan medis ketika menemukan luka yang tidak kunjung sembuh, pembengkakan yang memburuk, atau perubahan kondisi kesadaran. Pemeriksaan dini dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi masalah dan menentukan penanganan yang sesuai. [nm/ian]





Komentar (0)