PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah BEI untuk meningkatkan transparansi dan menyajikan gambaran pergerakan pasar saham yang lebih wajar.
Berdasarkan data BEI per 19 Oktober 2026, terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC. Saham-saham tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, energi, properti, hingga teknologi.
Lantas, apa yang dimaksud dengan saham HSC?Berdasarkan laman resmi IDX, HSC merupakan kondisi ketika kepemilikan saham suatu perusahaan terkonsentrasi pada segelintir pemegang saham tertentu. Kondisi tersebut membuat porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas di publik atau free float menjadi terbatas.
Terbatasnya saham yang beredar di publik dapat memengaruhi likuiditas perdagangan. Dalam kondisi tertentu, jumlah saham yang relatif sedikit di pasar juga berpotensi membuat harga lebih mudah berfluktuasi.
Meski demikian, status HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran yang dilakukan perusahaan. Kategori ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan investor dalam menilai karakteristik dan risiko perdagangan suatu saham.
Saham HSC Tak Lagi Diperhitungkan dalam IHSGDirektur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, saham yang masuk kategori HSC tidak akan dihapus dari bursa. Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap pergerakan IHSG setelah kebijakan diterapkan.
Sebelumnya, BEI telah mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari sejumlah indeks unggulan, yakni IDX30, LQ45, dan IDX80. Ke depan, kebijakan tersebut akan diperluas dengan mengeluarkan seluruh saham HSC dari perhitungan IHSG.
“Ke depannya seluruh saham dalam High Shareholding Concentration itu juga akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Tetap bisa diperdagangkan tetapi pergerakan harganya tidak akan memengaruhi pergerakan IHSG,” jelas Jeffrey.
Menurut Jeffrey, saham-saham HSC saat ini mencakup sekitar 18 persen dari IHSG. Karena itu, pengecualian saham tersebut diharapkan membuat indeks lebih mencerminkan kondisi pasar secara wajar.
“Oleh karena itu, untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG,” tutur Jeffrey.
Selain kebijakan tersebut, BEI juga akan menambahkan keterangan mengenai status afiliasi atau nonafiliasi pada publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan sebesar 1 persen.
Daftar 80 Saham yang Masuk Kategori HSCBerikut daftar 80 saham yang masuk kategori HSC berdasarkan data BEI:
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
PT Golden Flower Tbk (POLU)
PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
PT Bank Permata Tbk (BNLI)
PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
PT FAP Agri Tbk (FAPA)
PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Bank Mega Tbk (MEGA)
PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
PT Siantar Top Tbk (STTP)
PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR)
PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA)
PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP)
PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)
PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)
PT Steady Safe Tbk (SAFE)
PT Charnic Capital Tbk (NICK)
PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA)
PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE)
PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO)
PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD)
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)
PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS)
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)
PT Akasha Wira International Tbk (ADES)
PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME)
PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)
PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT)
PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI)
PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA)
PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)
PT Temas Tbk (TMAS)
PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND)






Komentar (0)