JAKARTA, KOMPAS.TV - Selama 35 tahun beroperasi, McDonald’s Indonesia telah membangun ekosistem bisnis yang erat dengan pelaku usaha dalam negeri. Hal ini tercermin dari sekitar 86% dari total belanja pemasok yang dialokasikan langsung kepada mitra lokal.
Kemitraan ini tidak berhenti pada transaksi pembelian bahan baku, tetapi juga berkembang menjadi hubungan jangka panjang yang mendorong proses peningkatan kapabilitas melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, dan penerapan standar operasional, yang membantu pelaku usaha lokal memperkuat bisnisnya mengikuti standar industri.
Lebih jauh, kemitraan ini juga turut menghasilkan multiplier effect (efek berganda), dengan menggerakkan rantai ekonomi lokal dan menghadirkan ribuan lapangan kerja.
Sementara itu bagi pemasok, keberlanjutan permintaan juga berjalan beriringan dengan kesempatan untuk meningkatkan kualitas, proses kerja, dan kapasitas operasional sesuai standar yang terus berkembang.
Mochammad Mukti Ali, Guru Besar di bidang Strategic Management dan Marketing dari Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika menilai, hubungan jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal sebagai salah satu ruang terjadinya supplier upgrading.
Baca Juga: Bupati Deli Serdang Kunjungi Redaksi KompasTV, Bahas Kerja Sama Informasi Publik
Menurutnya, keberlangsungan industri Quick Service Restaurant (QSR) di Indonesia telah berhasil menciptakan multiplier effect.
Hal itu lantaran mendorong berbagai aktivitas ekonomi lintas sektor, yang tentunya sejalan dengan agenda strategis pembangunan ekonomi inklusif di Indonesia.
“Ketika pemasok memiliki hubungan jangka panjang dengan perusahaan, mereka tidak hanya mendapatkan akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dengan standar, pengetahuan, serta praktik operasional yang lebih tinggi," kata Mukti dalam keterangannya, yang diterima Kompas.TV, Senin (20/10/2026).
Dalam jangka panjang, proses tersebut, lanjut dia dapat memperkuat kapabilitas pemasok dan membantu dalam mengembangkan bisnis secara lebih berkelanjutan.
Tumbuh Bersama Pemasok Lokal Rendhiq Ramadhan, Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa, menjelaskan kepada tim McDonald’s Indonesia berbagai upaya untuk memastikan Standard Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan telah dijalankan secara tepat dan konsisten. (Sumber: Dok. McDonald's Indonesia.)Bagi McDonald’s Indonesia membangun rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 300 restoran, membutuhkan hubungan yang konsisten dan berkelanjutan dengan para pemasok.
Saat ini, sekitar 76 persen bahan baku McDonald’s Indonesia dibeli dari mitra dalam negeri, termasuk sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng. Bahkan, untuk bahan baku ayam, seluruhnya dipasok peternak lokal.
“Hubungan McDonald's Indonesia dengan para mitra bukan sekadar membeli, tapi diawali niat kuat agar dapat tumbuh bersama. Membawa semangat ‘Sepenuhnya Indonesia’, kami secara konsisten membina ratusan mitra melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, hingga study visit sampai ke luar negeri," ucap Ronni Rombe, Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food.
Dijelaskan dia, melalui proses ini, pihaknya berbagi praktik terbaik dan memperkenalkan standar kualitas bertaraf global yang harus dipenuhi, termasuk dalam aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan.
"Sebuah kebanggaan ketika para mitra terus mengembangkan kapabilitas mereka hingga bisa bersaing secara mandiri di pasar,” tuturnya.
Proses tersebut menjadi bagian dari upaya membantu pemasok memperkuat sistem dan kemampuan operasionalnya. Di antaranya, PT Ciomas Adisatwa, bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JAPFA Group), yang merupakan salah satu mitra pemasok ayam McDonald’s Indonesia.
Perusahaan yang bergerak di bidang budidaya unggas komersial ini, telah menjalin kerja sama selama lebih dari tiga dekade.
Bagi PT Ciomas Adisatwa, standar dan proses pembinaan yang diterapkan McDonald’s Indonesia tidak hanya menjadi persyaratan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi juga menjadi salah satu referensi dalam meningkatkan proses kerja dan kualitas produksi di peternakan ayam mereka.
Tak hanya mitra dengan skala besar, peluang untuk berkembang juga terbuka bagi mitra yang berawal dari skala lebih kecil. Seperti yang dialami petani asal Bali, Made Gunada.
Made memulai kerja sama dengan McDonald’s Indonesia sejak 1993. Dari sebidang lahan kecil, bisnisnya kini telah berkembang hingga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta memasok kebutuhan lebih dari 50 persen restoran McDonald’s Indonesia.
Made mengaku sejak awal kemitraan, dirinya merasakan bagaimana McDonald’s Indonesia memberikan kepercayaan sekaligus pendampingan, mulai dari pendampingan teknis hingga bantuan peningkatan fasilitas pertanian.
"Pertanian kami kini bisa konsisten memenuhi kuota dengan standar kualitas produk yang mampu bersaing hingga pasar global,” tuturnya.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya meningkatkan skala usahanya, tetapi juga memperluas kesempatan ekonomi bagi petani lain yang terlibat dalam ekosistemnya.
Dengan berkembangnya usaha ke beberapa wilayah, kini ratusan petani turut bergantung pada aktivitas pertanian yang dijalankan.
"Bahkan, beberapa anak petani mulai melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan pilihan untuk ditekuni,” tambah Made.
Baca Juga: KompasTV Raih Baznas Award 2026 Sebagai Media Pendukung Zakat Terbaik | KOMPAS SIANG
Pertumbuhan Pemasok Menciptakan Aktivitas Ekonomi Lebih Luas Di balik setiap produk yang dinikmati pelanggan, terdapat jaringan usaha dan tenaga kerja yang turut bergerak. (Sumber: Dok. McDonald's Indonesia.)Studi independen Oxford Economics periode April 2024-Maret 2025 mencatat aktivitas McDonald’s Indonesia turut mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor.
Temuan ini menunjukkan efek berantai dari penciptaan lapangan kerja, di mana setiap 100 karyawan McDonald’s Indonesia turut mendukung hingga 330 lapangan kerja tambahan di berbagai sektor ekonomi lokal. Mulai dari pertanian, distribusi, hingga jasa pendukung.
Seiring dengan pertumbuhan bisnis, para pemasok juga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan aktivitas pendukung di berbagai daerah.
Contohnya terlihat di fasilitas produksi Padahanten Farm milik PT Ciomas Adisatwa di Majalengka. Peternakan mempekerjakan 41 pekerja tetap dan membutuhkan lebih dari 50 pekerja tambahan pada periode tertentu, terutama untuk proses panen dan bongkar muat.
Sementara itu, fasilitas rumah potong ayam PT Japfa Food Indonesia bisa mempekerjakan sekitar 400–1.500 orang per fasilitas.
Rangkaian kemitraan tersebut menunjukkan dampak dari sebuah transaksi di restoran dapat bergerak jauh melampaui titik pembelian. Permintaan yang tercipta di restoran terhubung dengan pemasok, petani, pekerja, logistik, dan berbagai aktivitas usaha lain yang mendukungnya.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Isnaya Helmi Editor : Gading-Persada
Sumber : Mc Donald's
- kemitraan
- mc donalds indonesia
- pemasok lokal
- lapangan kerja
- kemitraan pemasok






Komentar (0)