Perdana Menteri (PM) Prancis Sebastien Lecornu menyerukan pemberlakuan jam malam di wilayah-wilayah tertentu buntut demonstrasi biaya hidup yang berujung menjadi salah satu aksi kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pihak berwenang berupaya keras meredam ketidakpuasan publik pada akhir pekan lalu.
Dilansir AFP, Senin (19/10/026), Sebastien Lecornu mengadakan rapat darurat dengan para menteri setelah menteri dalam negeri menyatakan bahwa polisi telah kehilangan kendali selama kerusuhan akhir pekan tersebut.
Menyusul seruan dari gerakan Rompi Kuning atau Yellow Vests, kelompok yang mengorganisasi aksi akhir pekan lalu, untuk kembali menggelar unjuk rasa pada Sabtu (24/10), Lecornu meminta otoritas daerah untuk menerapkan jam malam yang bersifat parsial dan terlokalisasi. Langkah ini bertujuan melindungi sektor usaha setelah ratusan toko mengalami kerusakan dan penjarahan.
"Saya bertekad penuh untuk memulihkan ketertiban umum," tegasnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah siap memberlakukan status darurat jika diperlukan.
Negara-negara Eropa lainnya, di mana kemarahan akibat kenaikan harga juga memicu protes, turut memantau situasi dengan cemas. Bentrokan dalam skala lebih kecil sempat terjadi di Milan dan Belgia selama akhir pekan, sementara aksi protes juga mulai muncul di Spanyol dan Portugal.
Sekitar setengah juta orang turun ke jalan di seluruh Prancis pada Sabtu (17/10), untuk memprotes lonjakan biaya hidup. Aksi ini merupakan puncak dari rangkaian protes selama empat minggu, yang awalnya dimulai oleh para siswa sekolah menengah yang menuntut perbaikan kondisi di sekolah mereka.
Apa yang bermula sebagai demonstrasi damai berubah menjadi kekerasan di sejumlah lokasi. Kelompok-kelompok bertopeng yang menyusup ke dalam aksi protes menyerang aparat penegak hukum, membobol dan membakar balai kota serta bangunan publik lainnya, menjarah toko-toko, serta membakar mobil, sepeda, dan skuter di jalanan.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengajukan pengunduran dirinya, menyusul penangkapan lebih dari 2.500 orang dan cederanya hampir 1.000 personel aparat keamanan. Para pengunjuk rasa pun turut menjadi korban, salah satu demonstran kehilangan tangannya akibat ledakan granat pengendali massa milik polisi.
(rfs/azh)






Komentar (0)