JAKARTA, KOMPAS - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) berkomitmen turut membenahi struktur pasar modal dalam negeri guna meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global. Hal ini disampaikan sebagai respons terhadap gejolak pasar yang terjadi menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International terkait klasifikasi pasar modal Indonesia.
Ketua Umum AEI, Armand Hartono, melalui siaran pers, Minggu (18/10/2026), menyatakan, pasar modal kelas dunia adalah pasar modal yang terpercaya. Pasar modal dengan kapitalisasi besar perlu didampingi dengan kualitas tata kelola (good governance), transparansi, likuiditas yang sehat, dan kepastian hukum yang melindungi seluruh investor.
Pasar yang kuat bukan hanya menarik investasi, tetapi juga mampu menjaga integritas dan melindungi kepentingan seluruh pelaku pasar
”Pasar yang kuat bukan hanya menarik investasi, tetapi juga mampu menjaga integritas dan melindungi kepentingan seluruh pelaku pasar, ” ujar Armand.
Menurut AEI, penguatan pasar modal Indonesia perlu ditopang oleh empat pilar utama. Pertama, transparansi berkualitas untuk meningkatkan aksesibilitas investor. Kedua, keterbukaan struktur kepemilikan dan free float yang sehat untuk mencerminkan ketersediaan saham oleh publik serta meningkatkan daya tarik emiten.
Ketiga, penguatan infrastruktur dan mekanisme perdagangan, kliring, serta transaksi yang efisen dan andal. Keempat, mewujudkan penegakan hukum, pembenahan regulasi, dan tata kelola pasar untuk melindungi seluruh pelaku pasar secara konsisten, proporsional, dan akuntabel.
AEI menyampaikan komitmen tersebut memerlukan sinergi yang kuat antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan para pemangku kepentingan dalam mendorong transformasi pasar modal Indonesia. AEI berharap pasar modal Indonesia dapat menjadi sumber pembiaayan dunia usaha sekaligus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negeri yang berkelanjutan.
Salah satu upaya nyata komitmen tersebut telah dieksekusi oleh PT Bank Central Asia yang akan melaksanakan kembali program pembelian kembali ”buyback” saham perseroan pada 19-21 Oktober 2026.
Sebelumnya, BCA telah melakukannya pada Maret 2026 sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan Tahun Buku 2025. BCA menyampaikan aksi korporasi ini adalah lanjutan realisasi program sebelumnya sekaligus langkah mendukung stabilisasi pasar modal indonesia.
Buyback merupakan aksi perusahaan tengah memasang jaring pengaman saat keadaan pasar sedang tidak stabil. Ketika harga saham terancam jatuh akibat banyak yang menjual, perusahaan masuk sebagai pembeli besar guna menyerap over-supply tersebut sekaligus menenangkan kepanikan pasar.
Analisi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai, keputusan emiten melakukan buyback dapat menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar. Aksi itu menunjukkan bahwa perusahaan memiliki keyakinan terhadap fundamental, prospek bisnis, dan pitensi valuasi sahamnya pada masa mendatang.
Menurut Nico rencana buyback dapat memberikan sentimen positif dalam jangka pendek. Ini bisa terjadi bila suatu perusahaan merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Namun, dampaknya terhadap pergerakan saham tetap bergantung pada persepsi pelaku pasar dan investor terhadap rencana tersebut.
Nico mengingatkan bahwa sentimen positif dari buyback tidak spontan menjamin pemulihan pasar secara keseluruhan. Pegerakan pasar modal juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi global, inflasi, arah suku bunga. Tentunya hal-hal ekonomi yang fundamental seperti kebijakan fiskal dan situasi politik dalam negeri.
Sementara itu, perihal upaya pembenahan struktur pasar modal, Nico menyatakan, perlu langkah konkret dai regulator dan penyelenggara bursa. Ia berharap proses reformasi pasar modal dapat dipercepat, disertai keterbukaan memperoleh gambaran yang jelas mengenai perkembangan reformasi tersebut.
Pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot hingga level 4.961,88 turun sebesar 223,22 poin atau 4,31 persen dari penutupan perdangan pekan lalu dari posisi 5.185,10.
Pada penutupan perdagangan hari Senin (19/10/2026) tepat pukul 16.00 WIB, levelnya sedikit meningkat menjadi 5.003,31 atau naik 41,43 poin atau 0,83 persen.






Komentar (0)