Setop alkohol, bantu jaga daya ingat dan kualitas tidur

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) -

Mengurangi atau berhenti mengonsumsi alkohol dapat membantu menjaga kesehatan otak, mulai dari memperbaiki daya ingat hingga meningkatkan kualitas tidur.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif dan demensia.

Mengutip EatingWell, Senin (19/10) waktu setempat, ahli gizi Ana Reisdorf, M.S., RD, menjelaskan bahwa alkohol dapat mengganggu komunikasi antarsel otak, memengaruhi penilaian, serta menghambat pembentukan ingatan.

Konsumsi alkohol secara rutin juga dapat memengaruhi kemampuan mengingat, bahkan ketika seseorang tidak sedang berada dalam kondisi mabuk.

Sebuah tinjauan terhadap 16 penelitian menemukan bahwa orang dewasa dengan gangguan penggunaan alkohol mengalami perbaikan daya ingat, perhatian, fungsi eksekutif, dan persepsi setelah berhenti mengonsumsi alkohol selama enam hingga 12 bulan.

Baca juga: Ahli saraf sebut konsumsi alkohol secara rutin percepat penuaan otak

Ahli gizi Erin Person, M.S., RD, menjelaskan bahwa berhenti mengonsumsi alkohol dapat membantu pemulihan fungsi otak secara bertahap, antara lain dengan mengurangi peradangan yang berkaitan dengan kerusakan sel otak.

Selain memengaruhi daya ingat, alkohol juga dapat mengganggu kualitas tidur. Meski minuman beralkohol terkadang membuat seseorang lebih cepat terlelap, tidur dapat menjadi terputus-putus dan menyebabkan seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari.

Alkohol juga mengganggu fase tidur REM (rapid eye movement), yaitu tahap tidur yang berperan dalam pembentukan ingatan, fungsi kognitif, dan pengaturan emosi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi dua takaran standar alkohol saja dapat mengganggu fase tersebut.

Terkait risiko demensia, penelitian terbaru juga menantang anggapan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah kecil dapat melindungi otak. Analisis terhadap data genetik dari sekitar 2,4 juta orang menemukan bahwa risiko demensia meningkat seiring bertambahnya konsumsi alkohol, tanpa menunjukkan jumlah konsumsi yang memberikan perlindungan.

Meski demikian, hasil penelitian mengenai konsumsi alkohol dalam jumlah rendah masih beragam. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian observasional juga belum tentu menunjukkan sebab-akibat.

Mengurangi konsumsi alkohol dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang. Namun, orang yang terbiasa mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum berhenti, karena penghentian mendadak dapat memicu gejala putus alkohol yang berbahaya.

Baca juga: Obesitas dan alkohol jadi pemicu utama risiko kanker payudara

Baca juga: Minuman soda biasa maupun versi diet tingkatkan risiko penyakit hati

Baca juga: Minum bir bisa bikin perut buncit, mitos atau fakta?


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Naik Rp 2.000 Jadi Rp 2.574.000/Gram, Buyback di Rp 2.389.000
• 6 jam lalu
0
thumb
Dubes Inggris dan Unhas Perkuat Kolaborasi Ekonomi Sirkular, Dorong Pertumbuhan Hijau
• 2 jam lalu
0
thumb
Survei SMRC: Elektabiltas Prabowo Turun ke 9,8%, Tertinggal dari KDM dan Anies
• 14 jam lalu
0
thumb
Demo Rusuh di Prancis dan Italia, Kemlu RI: Belum Ada Laporan WNI Terdampak
• 4 jam lalu
0
thumb
Kakorlantas Polri Instruksikan Jajaran Antisipasi Kelangkaan BBM, Dirikan Posko di SPBU
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.