Pelemahan tajam indeks saham domestik tersebut terjadi ketika pergerakan bursa Asia cenderung variatif. Sejumlah indeks di kawasan Asia Timur masih mampu mencatatkan penguatan, sementara bursa Jepang dan beberapa pasar saham Asia Tenggara bergerak di zona merah.
Baca Juga :
IHSG Ambles, Porto Merah, Harus Panik?Di kawasan Asia Timur, indeks Hang Seng Hong Kong memimpin penguatan dengan naik 0,52% atau 124,11 poin ke level 24.186,83. Indeks Shanghai juga menguat 0,26% ke posisi 3.726,05.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,19% ke level 5.678,77. Penguatan ketiga indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang berbeda dibandingkan tekanan jual yang terjadi di pasar saham Indonesia.
Sebaliknya, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 1,04% atau 676,29 poin ke posisi 64.648,00. Pelemahan juga terjadi pada indeks KLCI Malaysia yang turun 0,47% atau 7,48 poin ke level 1.600,28.
Di Asia Tenggara, indeks SET Thailand terkoreksi 0,18% atau 2,87 poin ke posisi 1.573,01. Instrumen SPDR Straits Times Singapura juga tercatat melemah 0,45% ke level 5,48.
Berbeda dengan mayoritas bursa yang melemah di kawasan tersebut, indeks PSEi Composite Filipina masih bergerak di zona hijau. Indeks ini naik 0,35% atau 20,31 poin ke level 5.803,01, meskipun terdapat indikasi volume perdagangan yang tidak wajar berdasarkan data pantauan pasar.
Koreksi IHSG yang mencapai lebih dari 5% pada awal perdagangan menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan tersebut mencerminkan tekanan jual yang kuat di pasar saham domestik, di tengah pergerakan bursa regional yang belum menunjukkan arah seragam.
Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan transaksi sepanjang sesi perdagangan, termasuk kemungkinan langkah stabilisasi pasar serta faktor-faktor yang memicu tekanan jual di Bursa Efek Indonesia (BEI). Prediksi IHSG IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street serta kekhawatiran terhadap potensi perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik.
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 5.060 dan 4.935, dengan resistance di level 5.310 dan 5.435. Proyeksi tersebut mencerminkan masih besarnya risiko tekanan jual di tengah ketidakpastian pasar global dan sentimen terhadap pasar saham Indonesia.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, indeks utama Wall Street ditutup melemah seiring berlanjutnya aksi jual pada saham sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Kenaikan harga minyak mentah juga memicu kekhawatiran investor terhadap potensi peningkatan inflasi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,34% atau 175,28 poin ke posisi 52.002,41. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,09% atau 84,62 poin ke level 7.659,44.
Tekanan juga terjadi pada saham produsen cip di tengah kekhawatiran mengenai persaingan dari produsen asal Tiongkok. Sejumlah saham yang mengalami pelemahan signifikan antara lain Micron Technology sebesar 5,63%, Advanced Micro Devices (AMD) sebesar 5,95%, dan Sandisk sebesar 6,85%.
Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,51% menjadi USD101,41 per barel, sedangkan Brent menguat 3,72% ke level USD109,86 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global.
Indikator risiko pasar juga menunjukkan peningkatan. Indeks volatilitas CBOE (VIX) naik 21,45% ke level 19,99. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat 0,11 poin persentase menjadi 7,36%, sedangkan premi risiko kredit Indonesia tenor lima tahun (CDS 5Y) naik 3,04% ke posisi 97,54.
Di pasar komoditas, harga emas terkoreksi tipis 0,14% menjadi USD4.165,58. Sebaliknya, harga sejumlah komoditas industri dan perkebunan bergerak menguat, termasuk timah yang naik 0,50% menjadi USD50.356,93, nikel menguat 0,97% ke USD15.164,28, serta minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang naik 2,46% ke level 4.536.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin IHSG Anjlok 5,13% ke Bawah Level 5.000, Bursa Asia Bergerak Variatif Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/8Kyxy9Ek-ihsg-anjlok-5-13-ke-bawah-level-5-000-bursa-asia-bergerak-variatif
(SAW)






Komentar (0)