HARIAN.FAJAR.CO.ID, TEHERAN—Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman pembalasan yang menghancurkan terhadap Israel jika infrastruktur energinya diserang.
Mereka memperingatkan bahwa wilayah pendudukan akan diubah menjadi “tanah hangus” dan penduduknya akan dipindahkan ke Semenanjung Sinai, Mesir.
“Setiap agresi terhadap infrastruktur energi Iran—meskipun nantinya akan segera diperbaiki oleh para ilmuwan muda—akan mengubah wilayah pendudukan tersebut menjadi tanah hangus selamanya dan membuat para perampasnya terusir ke Semenanjung Sinai. Dunia akan melihat apa yang akan terjadi!” ujar juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, sebagaimana dikutip dalam sebuah unggahan oleh IRNA English di platform X.
Ancaman untuk memindahkan penduduk Israel ke Sinai ini muncul dalam retorika yang dilaporkan pada Minggu malam, 18 Oktober, di tengah meningkatnya ketegangan dalam perang antara AS-Israel melawan Iran—konflik yang bermula sejak serangan pada 28 Februari 2026.
Pernyataan tersebut tidak menyebutkan target spesifik di Israel ataupun memberikan kerangka waktu kapan tindakan balasan akan dilakukan.
Pernyataan ini merupakan peringatan terhadap kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, bukan konfirmasi bahwa serangan semacam itu telah terjadi.
Ancaman ini muncul seiring dengan semakin rentannya fasilitas energi dan jaringan transportasi terhadap serangan selama konflik berlangsung.
Sebuah investigasi Reuters yang diterbitkan pada 15 Oktober menemukan bahwa Iran beserta kelompok-kelompok sekutunya telah melancarkan setidaknya 135 serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal terhadap 84 lokasi infrastruktur vital di negara-negara Teluk sejak perang dimulai.
Target-target tersebut mencakup fasilitas minyak di negara-negara Teluk, termasuk kompleks gas alam cair Ras Laffan di Qatar serta infrastruktur pipa minyak di Arab Saudi.
Konflik ini juga telah mengganggu pasar energi global dan menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—sebuah jalur perairan strategis yang biasanya dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dunia.
Sebuah laporan dari Associated Press pada 13 Oktober menggambarkan meningkatnya ancaman terhadap pelayaran komersial di sekitar selat tersebut, termasuk serangan terhadap kapal-kapal serta upaya Iran untuk membatasi pergerakan maritim.
Dikutip dari Gulf News, peringatan dari Mohebbi ini juga dimuat oleh berbagai media lain, termasuk Press TV, lembaga penyiaran negara Iran. (amr)






Komentar (0)