Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), tertekan kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan kecerdasan buatan.
IDXChannel – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), tertekan kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mulai menggerus kepercayaan investor.
Pelemahan saham teknologi terjadi menjelang pekan padat laporan keuangan perusahaan, sementara penurunan harga minyak membantu menahan tekanan di pasar keuangan global.
Indeks Nikkei Jepang turun 2 persen setelah terkoreksi 5,4 persen sepanjang pekan lalu.
Tekanan juga melanda pasar saham Korea Selatan, dengan indeks Kospi melemah 1,6 persen setelah anjlok lebih dari 14 persen pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3 persen.
Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek investasi AI, terutama terkait kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutup belanja infrastruktur yang sangat besar.
Ekonom di manajer investasi AMP, My Bui, mengatakan, seperti dikutip Reuters, investor sejak lama mempertanyakan apakah pendapatan dari AI akan cukup untuk mengimbangi investasi awal yang masif.
Selain itu, infrastruktur AI berisiko mengalami penurunan nilai buku seiring bertambahnya usia dan penyusutan aset.
Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan pelebaran selisih imbal hasil obligasi korporasi turut meningkatkan biaya pendanaan.
Kondisi ini membuat perusahaan semakin sulit memperoleh pinjaman, melakukan pembiayaan ulang utang, serta mempertahankan ekspansi infrastruktur AI.
Di tengah tekanan saham teknologi, penurunan harga minyak memberikan sedikit dukungan bagi pasar obligasi dan kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS).
Harga minyak melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mempertimbangkan pelonggaran sejumlah sanksi terhadap Rusia, meskipun keputusan final belum ditetapkan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Sabtu (17/10/2026) bahwa Trump akan membutuhkan waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi dari kebijakan tersebut.
Harga minyak mentah Brent turun 1,6 persen menjadi USD108,06 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,7 persen menjadi USD100,70 per barel.
Namun, risiko geopolitik masih membayangi pasar energi. Iran melaporkan sebuah kapal tanker kembali menabrak ranjau di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 3 basis poin menjadi 5,0645 persen.
Penurunan ini memperpanjang reli obligasi pemerintah AS setelah mencatatkan penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari delapan bulan.
Pergerakan tersebut turut menopang kontrak berjangka saham AS. Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,5 persen, sedangkan Nasdaq menguat 0,8 persen.
Sementara itu, euro melemah di tengah ketidakpastian politik dan keamanan setelah kerusuhan melanda Prancis. Perkembangan tersebut menambah daftar risiko yang dicermati pelaku pasar global pada awal pekan. (Aldo Fernando)






Komentar (0)