Grid.ID - Bocah disabilitas dibully hingga tewas di Surabaya. Leher dijerat tali dan mulut penuh sabun.
Kasus meninggalnya Z, bocah berusia 10 tahun dengan down syndrome di Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, menyisakan sejumlah misteri bagi keluarganya.
Berikut kronologi bocah disabilitas dibully hingga tewas di Surabaya. Leher korban dijerat tali dan mulut penuh sabun.
Ayah korban berinisial SAW (53) menduga putranya mengalami perundungan sebelum ditemukan meninggal dunia di teras rumah pada 12 September 2026. Kecurigaan tersebut muncul setelah SAW menelusuri rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di sekitar kediamannya.
Dari rekaman yang diperiksa, ia melihat dua anak datang dan masuk ke rumah Z secara bergantian. Kedua anak tersebut masing-masing berinisial K (10) dan F (10), yang disebut SAW merupakan anak-anak dari lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.
Di tengah berjalannya proses hukum, SAW berharap penyebab dan rangkaian peristiwa yang merenggut nyawa anaknya dapat diungkap secara tuntas. Ia juga meminta agar kedua anak yang diduga memiliki keterkaitan dengan kejadian tersebut mendapatkan pendampingan dan pembinaan hingga beranjak dewasa.
SAW menegaskan bahwa harapannya bukan semata-mata untuk mengetahui kejadian sebenarnya yang menimpa putranya. Ia juga ingin memastikan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan menimpa anak-anak lainnya.
Meski demikian, dugaan mengenai keterlibatan K dan F masih harus ditelusuri lebih lanjut dengan mengacu pada hasil penyelidikan serta keterangan resmi dari pihak kepolisian. Rekaman CCTV Menjadi Petunjuk bagi Keluarga Korban
SAW mengungkapkan bahwa dirinya tidak menyaksikan secara langsung kejadian yang dialami Z. Ketika peristiwa itu terjadi, ia sedang berada di rumah dalam keadaan tertidur setelah mengonsumsi obat. Pada saat bersamaan, istrinya tengah pergi ke pasar untuk berjualan.
Keadaan tersebut baru diketahui setelah sang istri kembali ke rumah. Ia mendapati Z terbaring di teras dengan wajah yang tampak membiru. Melihat kondisi anaknya, ibu korban langsung berteriak meminta bantuan kepada SAW.
"Istri saya teriak-teriak, ‘Bi, anake wes biru, anak wes biru, (Bi, anaknya sudah biru, anaknya sudah biru)’ saya langsung terjaga dari tempat tidur," ujar SAW, Jumat (16/10/2026), dikutip dari Kompas.com.
Baca Juga: Kronologi Ruben Onsu Dilaporkan Atas Dugaan Pencabulan, Kejadian pada 2024 dan Korban Disebut 2 Orang
SAW menuturkan bahwa ketika memeriksa kondisi putranya, ia mendapati tali sepatu terlilit di leher Z. Di sekitar tubuh korban, ia juga menemukan sebuah benda berbahan besi.
Selain itu, terdapat bekas sabun colek di bagian mulut anaknya. Melihat keadaan tersebut, SAW langsung membawa Z ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayangnya, nyawa sang anak tidak dapat diselamatkan.
"Waktu saya kendori (talinya) anak saya tidak bernyawa mungkin," ujarnya.
Kepergian Z membuat SAW berusaha menelusuri berbagai petunjuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di jalan kampung sekitar rumahnya.
Berdasarkan rekaman tersebut, SAW mengaku melihat dua anak memasuki kediamannya secara bergantian. Ia kemudian menduga keberadaan kedua anak itu berkaitan dengan peristiwa perundungan yang menurutnya pernah dialami Z.
"Mereka anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah," ungkapnya.
Rekaman kamera pengawas atau CCTV menjadi salah satu petunjuk yang diperhatikan keluarga korban untuk mengungkap kejadian sebenarnya. Namun, munculnya seseorang dalam rekaman tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa orang yang bersangkutan terlibat dalam tindak pidana.
Untuk memastikan peran masing-masing anak dalam peristiwa itu, diperlukan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Kecurigaan SAW tidak hanya berangkat dari rekaman CCTV. Ia juga mengingat kejadian yang berlangsung sekitar satu minggu sebelum Z ditemukan meninggal dunia.
Menurut penuturan SAW, pada saat itu terdapat seorang anak yang mengalungkan tali tambang ke pundak Z. SAW mengaku sempat menanyakan kepada putranya mengenai asal-usul tali tersebut. Namun, Z tidak mampu menjelaskan dari mana tali itu berasal.
"Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, pengeliihatannya juga tidak jelas," terangnya, dikutip dari Surya.co.id.
Baca Juga: Kronologi Siswi SMK Tasikmalaya Hilang Selama 10 Hari, Diduga Jadi Korban Pengantin Pesanan
Menurut penuturan sang ayah, kondisi Z yang mengidap sindrom Down membuat keluarga menghadapi keterbatasan dalam berkomunikasi dengannya. SAW juga menjelaskan bahwa putranya mengalami gangguan penglihatan sehingga kesulitan menceritakan secara langsung kejadian yang mungkin dialaminya.
Keadaan tersebut membuat keluarga menduga Z pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan sebelum meninggal dunia. Meski demikian, dugaan adanya perundungan terhadap Z tetap perlu dibedakan dari fakta-fakta yang telah terungkap melalui proses penyelidikan.
Untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai peristiwa tersebut, keterangan dari pihak keluarga dan rekaman CCTV perlu didalami lebih lanjut bersama bukti-bukti pendukung lainnya oleh aparat penegak hukum.
SAW menyampaikan bahwa dirinya telah melaporkan peristiwa yang menimpa putranya ke Polrestabes Surabaya. Ia mengklaim bahwa K sudah ditetapkan sebagai tersangka, sementara F hingga saat itu belum menyandang status hukum yang sama.
SAW menduga perbedaan status tersebut berkaitan dengan hubungan F dengan ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Menurut keterangannya, F merupakan anak asuh ketua RT setempat.
Namun, dugaan mengenai penyebab perbedaan status hukum kedua anak tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penjelasan resmi dari kepolisian.
Informasi tentang penetapan tersangka K sejauh ini juga bersumber dari pernyataan SAW. Oleh karena itu, keterangan dari pihak kepolisian diperlukan untuk mengonfirmasi perkembangan penyidikan, status hukum masing-masing anak, serta pertimbangan yang mendasari penanganan perkara.
Di tengah bergulirnya proses hukum, SAW berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu anak. Ia juga menginginkan agar anak-anak yang diduga memiliki kaitan dengan kejadian tersebut memperoleh pembinaan yang sesuai.
"Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak," jelasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan keluarga agar keterlibatan pihak-pihak yang diduga berkaitan dengan peristiwa itu dapat diungkap secara jelas. Selain menginginkan kepastian hukum, keluarga juga berharap adanya pendampingan dan pembinaan bagi anak-anak yang bersangkutan.
Meski demikian, penanganan perkara harus tetap mengacu pada bukti yang ditemukan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan tetap memperhatikan bahwa pihak-pihak yang disebutkan masih tergolong anak di bawah umur. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)