Jakarta (ANTARA) - Penyebaran virus influenza tipe A khususnya subtipe A (H1N1) dan A (H3N2) pada anak-anak berlangsung cepat karena sistem imunitas mereka yang masih berkembang dan interaksi fisik yang intensif di lingkungan sekolah maupun tempat bermain.
Penularan terjadi terutama melalui droplet (percikan pernapasan) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Selain itu, virus ini mampu bertahan sementara di permukaan benda seperti mainan, gagang pintu, atau alat tulis, sehingga transmisi kontak tidak langsung sering terjadi ketika anak menyentuh benda terkontaminasi lalu memegang hidung, mata, atau mulut.
Anak-anak yang terinfeksi juga melepaskan virus (viral shedding) dalam durasi lebih panjang dibanding orang dewasa, menjadikan mereka agen penyebar utama di lingkungan keluarga.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) hingga akhir September 2026 (minggu ke-38), aktivitas influenza di Indonesia mengalami peningkatan musiman seiring dinamika pancaroba dan tingkat mobilitas:
Strategi pencegahan influenza tipe A pada anak
Pencegahan infeksi virus influenza tipe A pada anak memerlukan pendekatan multi-lapis yang menggabungkan proteksi medis spesifik serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS):
Baca juga: Lima langkah sederhana untuk mencegah penularan influenza A
Penularan terjadi terutama melalui droplet (percikan pernapasan) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Selain itu, virus ini mampu bertahan sementara di permukaan benda seperti mainan, gagang pintu, atau alat tulis, sehingga transmisi kontak tidak langsung sering terjadi ketika anak menyentuh benda terkontaminasi lalu memegang hidung, mata, atau mulut.
Anak-anak yang terinfeksi juga melepaskan virus (viral shedding) dalam durasi lebih panjang dibanding orang dewasa, menjadikan mereka agen penyebar utama di lingkungan keluarga.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) hingga akhir September 2026 (minggu ke-38), aktivitas influenza di Indonesia mengalami peningkatan musiman seiring dinamika pancaroba dan tingkat mobilitas:
- Spesimen terdeteksi: Kemenkes mencatat sebanyak 1.527 spesimen positif influenza dari total 8.757 spesimen yang diperiksa melalui surveilans Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di berbagai fasilitas kesehatan.
- Tingkat positif (positivity rate): Pada pemantauan minggu ke-38 tahun 2026, positivity rate pemeriksaan sentinel mencapai 56 persen (148 positif dari 265 spesimen). Kemenkes menegaskan angka ini mewakili proporsi sampel laboratorium teruji, bukan persentase populasi umum.
- Dominasi subtipe: Subtipe virus A(H1N1) mendominasi temuan kasus nasional. Sementara subtipe A(H3N2) subklade K (super flu) hanya mencatatkan 22 kasus sepanjang 2026 menurun signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencatatkan 166 kasus.
- Kasus pada Anak: Pada kelompok usia anak 0-4 tahun dan 5-9 tahun, Kemenkes mencatat transmisi berada dalam pola musiman yang terkendali, jauh lebih rendah dibanding tren peningkatan tahun sebelumnya. Kemenkes mengategorikan aktivitas SARI di rumah sakit tetap berada di level rendah (zona kuning).
Strategi pencegahan influenza tipe A pada anak
Pencegahan infeksi virus influenza tipe A pada anak memerlukan pendekatan multi-lapis yang menggabungkan proteksi medis spesifik serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS):
- Vaksinasi influenza tahunan: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pemberian vaksin flu tahunan bagi anak mulai dari usia 6 bulan. Vaksinasi rutin sangat efektif menurunkan risiko komplikasi berat dan rawat inap.
- Edukasi kebiasaan mencuci tangan: mengajari anak untuk rutin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, atau sehabis memegang mainan di area publik. Hand sanitizer berbasis alkohol dapat menjadi alternatif saat di luar rumah.
- Penerapan etika batuk dan bersin: melatih anak untuk menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku (bukan dengan telapak tangan) ketika batuk atau bersin untuk mencegah penyebaran droplet.
- Penggunaan masker dan isolasi mandiri: apabila anak menunjukkan gejala flu (batuk, pilek, atau demam), gunakan masker medis jika harus keluar rumah dan dianjurkan untuk beristirahat di rumah sampai bebas demam setidaknya 24 jam tanpa obat penurun panas agar tidak menularkan ke teman di sekolah.
- Sanitasi lingkungan dan benda sering disentuh: rutin membersihkan mainan, gagang pintu, meja belajar, dan alat elektronik secara berkala menggunakan cairan disinfektan untuk memutus jalur transmisi kontak tidak langsung.
- Penguatan imunitas tubuh: memastikan kecukupan asupan nutrisi bergizi seimbang, kecukupan cairan, serta waktu tidur yang optimal sesuai kelompok usia anak.
Baca juga: Lima langkah sederhana untuk mencegah penularan influenza A






Komentar (0)