Baru beberapa saat pameran dibuka, Paviliun Indonesia di Tokyo Big Sight sudah dipenuhi pengunjung. Warga Jepang dan pengunjung dari sejumlah negara rela antre untuk mencicipi kopi Indonesia di World Specialty Coffee Conference and Exhibition (SCAJ) 2026, Rabu (14/10).
Nizam Pasha, roaster asal Indonesia yang baru pertama kali berpartisipasi di SCAJ, ikut melayani pengunjung di balik meja seduh.
“Baru hari pertama tapi sudah ramai banget. Enggak nyangka banget ternyata warga-warga Jepang tuh senang banget dan apresiasi banget sama kopi-kopi Indonesia.” ujarnya.
Menurut Nizam, pengunjung ingin mencoba semua jenis kopi mulai dari arabica, robusta, sampai liberica, dengan berbagai varietas dan proses pengolahan. “Semuanya antusias banget mau nyobain,” ucapnya.
Kopi-kopi itu dibawa sekitar 20 UMKM binaan Bank Indonesia (BI), yang hadir ke pameran SCAJ di Tokyo untuk mencari pembeli.
BI Bantu UMKM Masuk Pasar EksporDeputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, mengatakan pihaknya serius mendorong kopi ke pasar ekspor. Dari 200-an UMKM kopi binaan BI di seluruh Indonesia, sekitar 20 dibawa ke SCAJ setelah dikurasi sesuai selera pasar Jepang.
“Kita cari yang terbaik dan kita bawa di sini. Kita harapkan bisa meningkatkan ekspor dari kopi ini,” kata Ricky di lokasi pameran.
Ia menyebut pasar ekspor yang terbuka akan menaikkan taraf hidup petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ini sejalan dengan mandat baru BI dalam UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) agar turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ricky, kopi Indonesia punya keunggulan dibanding kopi negara lain, yaitu rasanya sangat beragam. Tapi itu saja belum cukup.
“Untuk berhasil di pasar seperti Jepang, produsen kita juga harus memahami apa yang dicari konsumen dan pembeli. Kualitas yang konsisten, pasokan yang andal, presentasi yang baik, dan hubungan bisnis yang kuat. Itulah mengapa partisipasi kita di SCAJ penting,” jelasnya.
Untuk itu, BI membantu UMKM meningkatkan kapasitas dan kualitas produk, membuka akses keuangan dan akses pasar, serta menggelar business matching yang mempertemukan penjual dengan pembeli.
Potensi Peningkatan EksporDalam kesempatan yang sama, Ricky menyebut Jepang sebagai mitra dagang strategis. Negeri matahari terbit adalah tujuan ekspor nonmigas terbesar keempat bagi Indonesia.
Menurut dia, hubungan kedua negara sudah kuat, tetapi masih bisa diperluas terutama dengan menghubungkan lebih banyak UMKM ke pasar Jepang.
“Kopi merupakan salah satu produk yang menjadi keunggulan istimewa dari Indonesia,” kata Ricky.
Data International Trade Centre (ITC) Trade Map yang dikutip Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai ekspor kopi Indonesia mencapai USD 929,1 juta pada 2023. Angkanya naik jadi USD 1,64 miliar pada 2024 dan USD 2,51 miliar pada 2025. Namun di Jepang, porsinya masih kecil.
Pada 2025, Jepang mengimpor kopi dengan nilai sekitar USD 2,55 miliar, naik hampir 49 persen dari tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, nilai ekspor kopi Indonesia baru sekitar USD 67,37 juta.
Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) BI, Kurniawan Agung, menyebut pangsa nilai kopi Indonesia di Jepang baru sekitar 2,6-2,7 persen.
“Artinya peluang untuk memperbesar masih sangat luas,” ucapnya.
Harga juga jadi daya tarik memperluas pasar ke Jepang. Menurut catatan BI, kopi Indonesia dijual ke Jepang dengan harga rata-rata USD 6.687 per ton atau sekitar USD 6,69 per kg.
Harga ini tertinggi di antara negara tujuan utama, sedangkan harga jual rata-rata nasional di angka USD 4.916 per ton atau sekitar USD 4,92 per kg.
Dengan data-data itu, BI berharap SCAJ yang berlangsung 14-17 Oktober 2026 bisa memperluas pasar dan eksposur UMKM kopi spesialti dan kakao di Jepang.
Kurasi KetatKurniawan mengatakan, ini kali keempat BI ikut SCAJ sejak 2023. Setiap tahun UMKM yang dibawa harus lolos kurasi. Proses dimulai ketika para UMKM mengirim sampel produk, lalu 46 kantor perwakilan BI menilai manajemen dan kualitas kopinya.
Yang dilihat antara lain konsistensi mutu dan skor cupping, yaitu penilaian kebersihan, bentuk biji, aroma, dan rasa. Kopi yang dibawa harus memiliki skor di atas 80.
Di dalam negeri, kurasi berjalan sekitar sebulan. Dari sekitar 200 produk, tersisa 35-40. Daftar itu lalu disaring lagi oleh mitra BI di Jepang, Indonesia House of Beans (IHoB) Tokyo dan Osaka, yang lebih tahu selera pasar setempat.
“Kita juga enggak mau bawa terlalu banyak yang bukan sesuai selera pasar,” kata Kurniawan.
Setelah lolos, kopi dicocokkan dengan segmen pasar. Kopi dari Aceh sampai Papua menawarkan rasa yang berbeda, dan jenisnya pun beragam, dari arabica, robusta, sampai liberica.
Liberica, misalnya, ditawarkan bagi penikmat kopi yang bermasalah dengan asam lambung. “Kita pengin total football, semua segmen kita masuki,” kata Kurniawan.
Meski demikian, Kurniawan mengingatkan strategi sebagus apa pun bisa gagal kalau mutu di lapangan tidak terjaga. Sampel yang dijanjikan ber-grade A harus tiba dengan grade yang sama. “Jangan sampai buyer kecewa,” ucapnya.
Keragaman Rasa Jadi PembedaSalah satu pembeli yang hadir, Yozo Otsuki, sudah sekitar empat tahun membeli kopi Indonesia. CEO Kurasu itu mengaku total pembeliannya baru sekitar satu ton, tetapi jumlahnya naik tiap tahun. Kopinya disajikan di seluruh gerai Kurasu, baik di Jepang maupun di Singapura, Thailand, UAE, China, hingga Indonesia.
Yozo melihat potensi besar kopi Indonesia dari keragaman rasanya. Kopi Indonesia umumnya dihasilkan petani kecil di lahan kecil, jadi karakternya unik.
“Sayangnya, saat ini kami baru bekerja sama dengan satu produsen. Ada banyak peluang untuk memperluas jangkauan,” kata Yozo.
Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menyatakan lebih dari 90 persen kopi Indonesia dihasilkan petani lokal, bukan industri besar, dan perempuan berperan cukup besar di dalamnya.
Ia berharap UMKM yang ikut SCAJ bisa bertemu lebih banyak pembeli dan roaster Jepang.
Supaya hubungan bisnis yang terjalin di pameran tidak berhenti begitu acara selesai, BI pun meluncurkan situs IHoB di pameran tersebut. Situs itu dibuat untuk menghubungkan secara langsung produsen dengan pembeli di Jepang.
“Ketika suatu UMKM menerima pesanan berulang dari Jepang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha. Manfaat itu menjangkau para petani, pekerja, keluarga, dan komunitas yang berada di balik produk tersebut. Itu sebabnya akses pasar menjadi sangat penting,” tutup Ricky.






Komentar (0)