Dari Bengkel ke YouTube, Cara Spesialis Peugeot Jaga Eksistensi

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bengkel spesialis Peugeot menghadapi jumlah pelanggan yang tidak menentu setiap hari. Keadaan tersebut mendorong pemilik usaha mencari pemasukan tambahan, seperti menjual onderdil di e-commerce dan membuat konten YouTube.

Kamil, pemilik bengkel spesialis Peugeot, mengatakan jumlah mobil yang masuk berbeda jauh antara hari kerja dan akhir pekan. Satu sampai dua unit jadi angka yang lazim di hari biasa, sedangkan akhir pekan umumnya lebih ramai.

Sifat usaha yang mengkhususkan diri pada satu merek jadi penyebab utama. Pelanggan yang datang terbatas pada pemilik Peugeot yang jumlahnya di Indonesia kini tidak sebanyak pengguna mobil Jepang atau merek Eropa lain.

“Bengkel spesialis itu pengetahuan, makanya kalau lagi ramai ya ramai banget. Kalau lagi habis ya habis. Kalau hari kerja ya paling satu sampai dua, harus sabar. Kayak hari ini nih sampai sore nggak ada yang datang,” ungkap Kamil kepada kumparan saat ditemui di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Penjualan onderdil di toko online jadi penopang utama saat bengkel sepi. Kamil membuka lapak di berbagai e-commerce untuk menyiasati pendapatan yang tidak menentu dari usaha bengkel spesialis.

Ia menuturkan, barang yang laku kebanyakan komponen fast moving yang memang sudah tersedia di bengkel. Radiator, kaki-kaki, kampas rem, sampai kopling jadi pesanan yang paling sering diterima.

“Saya sekalian online jualannya, mayoritas suku cadang yang saya jual. Jadi kalau bengkel sepi, spare part-nya lumayan. Sehari bisa tiga atau empat kiriman ada,” ucap Kamil.

Kanal YouTube jadi jalur berikutnya untuk pemasukan tambahan bagi Kamil. Unggahan berisi pengerjaan mobil membuat nama bengkel miliknya cukup dikenal pemilik Peugeot di luar Jabodetabek.

Hasilnya terlihat dari konsumen yang datang dari pulau lain. Kamil bilang, salah satu pelanggan datang dengan menyetir mobil dari Bali demi servis besar, usai mengetahui bengkel itu dari tayangan di kanal tersebut.

“Pernah juga sebelum Covid-19 ada yang mobilnya dikirim dari Kalimantan pakai kapal, Peugeot 206. Itu ongkos kirim saja pulang-pergi sudah Rp 5 jutaan," tutur Kamil.

Sekarang permintaan dari luar kota justru sering ditolak. Jarak yang jauh menyulitkan penanganan saat muncul masalah setelah mobil kembali ke daerah asal. Umumnya pengerjaan tersebut hanya dilayani untuk pelanggan yang sudah karib dengan Kamil.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Membaca Setelah Tragedi: Refleksi Kanjuruhan Melalui Videografi, Ingatan, dan Arsip
• 5 jam lalu
0
thumb
Ekspor Tumbuh, Kebutuhan Logistik Internasional Ikut Menguat
• 1 jam lalu
0
thumb
Misteri Kematian Bocah Difabel di Surabaya, Ayah Korban Ungkap Jeratan Tali Sepatu dan Cairan Sabun Colek
• 5 jam lalu
0
thumb
Toko Mewah Dijarah, Bangunan Dibakar, Mengapa Demo di Prancis Memanas?
• 1 jam lalu
0
thumb
Bisnis Matching ISEF Tembus Rp 3,2 Triliun, BI Ungkap Dampak Ekonominya
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.