jpnn.com, JAKARTA - Peneliti Senior Citra Institute Efriza menilai Partai Gerindra masih akan memprioritaskan Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pilpres 2029, meskipun elektabilitas Dedi Mulyadi atau KDM disebut lebih tinggi dalam survei SMRC.
Menurut Efriza, peluang Prabowo untuk memperoleh dukungan internal Gerindra tetap besar selama dirinya masih memiliki keinginan untuk kembali bertarung dalam pemilihan presiden.
BACA JUGA: Survei IPO: Prabowo Belum Aman dari Kejaran KDM dan Anies
“Gerindra rasanya harga mati untuk memberikan dukungan dan memprioritaskan Prabowo untuk dua periode, apalagi jika Prabowo sendiri masih memiliki keinginan maju, maka dukungan internal partai tetap solid,” kata Efriza kepada JPNN.com, Minggu (18/10).
Dia menilai tingginya elektabilitas KDM memang menjadi modal politik penting. Namun, kondisi tersebut belum tentu membuat Gerindra mengubah pilihan politiknya.
BACA JUGA: KDM Usul 70 Persen Pajak Tambang Kembali ke Desa, Ini Alasannya
Efriza melihat salah satu skenario yang mungkin dipertimbangkan ialah memasangkan Prabowo dengan KDM dalam satu paket calon presiden dan calon wakil presiden.
“KDM meski tinggi elektabilitasnya sebagai capres, namun ditengarai ia ditempatkan sebagai cawapres dari Prabowo,” ujarnya.
BACA JUGA: KDM Teken MoU dengan Ketum PB Mathlaul Anwar Jazuli Juwaini, Siapkan Beasiswa untuk Puluhan Ribu Siswa
Meski demikian, skenario tersebut tetap bergantung pada dinamika politik dan kesediaan partai-partai lain yang tergabung dalam barisan pendukung Prabowo.
Efriza menilai tantangan Gerindra bukan hanya menentukan pasangan calon, melainkan juga menjaga dukungan koalisi agar tetap solid.
Dia memperkirakan keputusan Gerindra nantinya tidak semata-mata ditentukan oleh hasil survei, tetapi juga oleh kalkulasi politik Prabowo.
“Yang lebih memungkinkan adalah keputusan Partai Gerindra tergantung dari hitung-hitungan Prabowo semata,” tutur Efriza.
Diketahui, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) membeberkan survei terbaru berjudul Elektabilitas Presiden Prabowo yang dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026.
Lembaga itu mengukur tren elektabilitas bebeberapa tokoh potensial untuk maju pada Pilpres 2029.
Satu di antaranya, SMRC menghitung tren elektabilitas Presiden RI Prabowo Subianto yang mengalami penurunan tajam.
"Elektabilitas Prabowo menurun," demikian pernyataan lembaga tersebut dalam survei teranyar mereka yang diumumkan Sabtu (17/10).
Eks Menhan RI itu tercatat memiliki elektabilitas sebesar 34,9 persen dalam temuan SMRC pada November 2025 dengan survei melalui telepon.
Elektabilitas Prabowo kemudian turun sedikit dalam survei SMRC yang dilaksanakan periode Februari-Maret 2026 dengan 33,3 persen.
Tren penurunan makin terlihat dalam temuan SMRC pada Juli 2026. Prabowo tercatat memiliki elektabilitas 14,5 persen.
Elektabilitas Prabowo tak kunjung membaik berdasarkan temuan SMRC, karena kembali merosot ke angka 9,8 persen berdasarkan survei Oktober 2026.
Sebaliknya, elektabilitas Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi meningkat berdasarkan temuan SMRC.
"Elektabilitas Dedi Mulyadi naik," demikian pernyataan lembaga tersebut.
Dedi tercatat memiliki elektabilitas 19,7 persen ketika SMRC melaksanakan survei pada November 2025 melalui telepon.
Tren elektabilitas eks Bupati Purwakarta itu meningkat menjadi 23,3 persen berdasarkan survei Februari-Maret 2026.
Elektabilitas Dedi kembali meningkat saat survei Juli 2026 dengan 35,0 persen dan Oktober 2026 menjadi 35,5 persen. (kkp/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Kenny Kurnia Putra





Komentar (0)