Karhutla Terjadi di Semua Provinsi di Kalimantan, Apa Penyebabnya?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di seluruh provinsi di Kalimantan. Api berkobar di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Baru setengah tahun berlalu, luas kebakaran di Kalimantan tahun 2026 sudah melebihi luas karhutla tahun 2025.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan baru mencatat indikasi luas karhutla di seluruh Kalimantan sepanjang Januari-Juni 2026. Dari data itu saja, luas lahan terdampak karhutla sudah terlihat semakin meluas dari tahun sebelumnya.

Sepanjang Januari-Juni 2026, lahan terbakar di lima provinsi Kalimantan tercatat mencapai 57.081,33 hektar. Angka itu sudah melampaui lahan terbakar di Kalimantan sepanjang 2025 seluas 55.717,27 hektar.

Aparat turun tangan. Di Kaltim, misalnya, Kepolisian Resor Berau menangkap seorang pria berinisial BS yang menyebabkan karhutla seluas 12 hektar di Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan.

Dari pemeriksaan kepolisian, tersangka BS mengaku menyalakan api di lima titik. Ia diperintah seorang pemilik lahan perorangan. 

“Awalnya, BS disuruh menyiapkan tanah untuk ditanami kelapa sawit dengan cara dibakar, dengan alasan praktis untuk menyuburkan tanah,” kata Kapolres Berau Ajun Komisaris Besar Ridho Tri Putranto, Jumat (21/8/2026).

Ia mengatakan, masyarakat diminta tidak menggunakan metode pembakaran dalam membuka lahan, termasuk untuk kepentingan pertanian maupun perkebunan. Apa lagi, kata Ridho, kondisi cuaca pada 2026 berpotensi meningkatkan risiko penyebaran api.

Cara masyarakat adat bakar lahan

Metode membakar lahan sebenarnya sudah lama dipraktekkan masyarakat tradisional di Kalimantan untuk membuka lahan dan berkebun. Namun, mereka punya cara spesifik dan detail agar api tak menjalar ke lahan lain yang menimbulkan karhutla.

Pada Juni 2025, Kompas berkesempatan melihat peladang dan pekebun membuka lahan di Desa Sekuan Makmur, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Mula-mula, mereka bergotong royong membuat batas api atau besiat.

Caranya, di setiap sisi lahan yang akan dibakar dibersihkan dari berbagai tumbuhan. Dengan demikian, lahan yang akan dibakar tidak tersambung dengan lahan lain. Batas api dibuat sekitar 1-2 meter.

Setelahnya, mereka memotong berbagai tumbuhan liar dan semak belukar. Rumput-rumput pun mereka cabut sampai akar. Semak dan tumbuhan liar itu kemudian ditumpuk di beberapa titik.

“Kemudian, tumpukan itu kami bakar. Saat membakar, kami juga mempertimbangkan arah angin agar tak membahayakan warga dan api tidak terbang menjalar ke mana-mana,” ujar Warta (47), warga Dayak Deah di Kecamatan Muara Komam.

Benar saja. Sekalipun angin berembus, sebesar apa pun api yang ditimbulkan, tak ada api yang menjalar ke hutan atau lahan di sekitarnya. Warga lain berjaga di setiap sudut. Seandainya ada bara api yang menjalar, mereka akan siram dengan air atau pukul dengan daun basah.

Mereka pun membakar lahan secara bertahap. Satu hektar lahan mereka bisa bersihkan dan bakar dalam beberapa hari, tidak serta merta dibakar begitu saja.

Proses pembakaran lahan ini menjadi proses penting. Tanah di Kalimantan tak sesubur tanah di Jawa atau Sulawesi yang punya banyak gunung api aktif.

Kalimantan tak punya gunung api aktif. Proses pembakaran lahan, kata Warta, penting untuk kesuburan tanah.

Artikel ilmiah ”Biomass ashes and their phosphorus fertilizing effect on different crops” (2010) menyebutkan materi abu dari pembakaran daun dan batang pohon dapat menjadi sumber fosfor bagi tumbuhan. Fosfor berfungsi membantu terbentuknya proses fotosintesis dan perkembangan akar.

Baca JugaMembakar Lahan dan Berpindah, Cara Berladang Warga Dayak yang Ditekan Zaman

Proses pembukaan lahan dan pembakaran ini dilakukan pada Juni-Agustus. Prosesnya memang memakan waktu karena tergantung cuaca panas untuk proses pengeringan. Selain itu, seluruh prosesnya dilakukan manual, hanya dengan tangan dan parang, tidak menggunakan alat berat.

“Kami tidak mungkin membakar lahan yang menyebabkan bencana, seperti asap atau kebakaran besar. Kami membuka lahan untuk hidup, untuk tanam padi dan makan. Kami hati-hati sekali,” ujar Warta.

Sebabkan kabut asap

Karhutla di Kalimantan telah menyebabkan kabut asap hingga melintasi batas negara Malaysia. Dalam keterangan tertulis, Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak, Malaysia, mengumumkan bahwa Indeks Pencemaran Udara (IPU) di sejumlah wilayahnya berada dalam kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir. 

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan terhadap anak, mereka menginstruksikan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di wilayah Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong.

”Berlaku efektif mulai 20 hingga 21 Agustus 2026. Penutupan ini melibatkan 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa,” demikian keterangan JPN Sarawak, Kamis (20/8/2026).

Di Kalbar, provinsi dengan karhutla terluas di Kalimantan, siswa sudah sekolah dari lebih dari seminggu terakhir. Asap mengepung wilayah perkotaan dan mengancam kesehatan warga, termasuk anak-anak dan lansia yang masuk kategori rentan.

Kendati sekolah menerapkan belajar daring, sejumlah guru tetap harus ke sekolah dan terpapar asap karhutla saat perjalanan ke sekolah.

“Jarak rumah saya ke sekolah sekitar delapan kilometer. Saya pakai masker saat naik sepeda motor, sehingga risiko menghirup asap tetap ada,” kata Benus Syamsiar (43), guru Bahasa Inggris di SMP Bruder Kota Pontianak, Kalbar.

Titik api di konsesi

Penyebab asap karhutla di Kalimantan bisa ditelaah dengan melihat titik panas atau hotspot yang mengindikasikan terjadinya karhutla. Analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menunjukkan, sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026 terdapat 118.420 titik panas di seluruh Indonesia.

Secara keseluruhan, pada periode tersebut, Pulau Kalimantan mencatat 34.262 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 33.837 hektar. Sebagian besar titik panas yang terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi, yang menunjukkan tingginya potensi kejadian kebakaran.

Baca JugaAsap Karhutla Kalimantan Terbang hingga Malaysia, Ratusan Ribu Anak Tak Aman Sekolah

Temuan penting dalam analisis Walhi menunjukkan, 25.524 titik panas atau sekitar 74 persen dari total titik panas di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan.

Sebanyak 10.739 titik panas berada di dalam hak guna usaha perkebunan kelapa sawit, 7.880 titik panas di konsesi pertambangan, dan 6.905 titik panas berada di konsesi perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).

“Lagi-lagi data ini membuktikan bahwa akar persoalan karhutla adalah gagalnya negara memastikan perlindungan ekosistem penting, seperti gambut dan hutan, serta lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan penjahat lingkungan,” kata Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian.

Menurut Walhi, karhutla di Kalimantan yang melanda setiap tahun bukan semata akibat musim kemarau. Ia menyoroti tata kelola perizinan yang memakan banyak lahan sehingga mengalihfungsikan lahan gambut hingga kawasan hutan penting.

Lahan gambut merupakan jenis lahan basah yang terbentuk dari timbunan sisa tanaman, akar, dan bahan organik yang membusuk secara tidak sempurna. Dengan karakteristik tersebut, secara alami lahan gambut yang terjaga akan selalu basah, termasuk saat musim kemarau.

Namun, alih fungsi lahan gambut kerap mengubah karakter tersebut. Kanal-kanal baru sering dibangun untuk kepentingan perkebunan skala luas, termasuk proyek strategis nasional. Imbasnya, sebagian area gambut mengering secara masif karena air di dalamnya dialirkan melalui kanal-kanal tersebut.

Saat terjadi kebakaran, lahan gambut yang telah beralih fungsi ini sulit dipadamkan. Kerap kali api padam di permukaan, tapi di dalam lahan gambut bara api tetap menyala pada kedalaman tiga meter atau lebih. Hal ini yang kerap menimbulkan asap hingga ke pemukiman.

Walhi menuntut pemerintah segera mengevaluasi secara menyeluruh pemegang izin yang areanya terjadi karhutla. Mereka meminta pemerintah memproses hukum pemegang izin yang terbukti lalai atau sengaja membiarkan terjadinya karhutla dan kabut asap.

“Dugaan kami, kejadian karhutla tahun ini akan meningkat lebih 20 persen dari sebelumnya. Masyarakat Kalteng belum merdeka dari kabut asap akibat rusaknya tata kelola gambut oleh negara,” kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalteng Janang Firman Palanungkai.

Langkah pemerintah

Kemenhut mencatat, telah mengerahkan tim gabungan selama 48 hari untuk penanganan karhutla. Sebanyak 12.880 personel gabungan dikerahkan.

Operasi dilakukan melalui pemadaman langsung dari darat dan udara. Kemenhut mencatat, Operasi Modifikasi Cuaca telah dilaksanakan sebanyak 45 kali penerbangan dengan total 45 ton bahan semai. 

Operasi ini dilakukan dengan menyemai bahan pada awan. Ini diharapkan meningkatkan peluang terjadinya hujan guna membantu mengurangi asap dan memadamkan api di lahan terbakar.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan di Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, meminta pengelola lahan, termasuk perusahaan, mencegah kebakaran.

“Pada saat yang sama, perusahaan, pengelola kawasan, pemerintah daerah dan desa, serta masyarakat di wilayah rawan perlu meningkatkan penjagaan,” katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ungkap Kondisinya, Ruben Onsu Sebut Bagai Jatuh Tertimpa Tangga
• 8 jam lalu
0
thumb
Bagaimana Modus Korupsi Rektor Unsoed yang Baru Ditangkap KPK?
• 8 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian: Antam Stagnan, UBS Turun
• 9 jam lalu
0
thumb
Kabut Asap RI Kepung Negara Tetangga, Ratusan Sekolah Ditutup
• 19 jam lalu
0
thumb
Berlari Bersama Ganjar Pranowo di Ajang Soekarno Run Toraja 2026
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.