Warga Manggarai Ingin Lepas dari Cap Kampung Tawuran

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Cap sebagai warga doyan tawuran kadung lekat dengan warga di kawasan Manggarai dan sekitarnya. Mereka ingin lepas dari stigma agar hidup lebih baik.

Pengguna KRL spontan menggerutu ketika pecah tawuran antarwarga di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (21/8/2026) pukul 17.00 WIB. Saling serang menggunakan petasan, batu bahkan senjata tajam menghentikan perjalanan kereta.

KAI Commuter dalam keterangan resminya menyampaikan terjadi tawuran warga di sekitar JPL 14 Stasiun Manggarai. Sebanyak 8 perjalanan Bogor tujuan Jakarta Kota dan 6 perjalanan tujuan Bogor tertahan.

Lurah Bukit Duri Muhamad Ngasri menyebut, tawuran terjadi dua kali, pada Kamis (20/8/2026) malam dan Jumat sore. Keributan antarwarga ini dipicu masalah anak kelas 6 SD tertemper kereta ketika hendak menyeberangi rel kereta. Provokasi lantas memecah dua belah pihak yang sama-sama warga setempat.

"Orangtuanya ribut, terus antarwarga ribut. Puncaknya Jumat sore. Ada yang provokasi tawuran ini, dari pihak luar. Bukan hanya warga Bukit Duri saja yang tawuran," kata Ngasri.

Setelah tawuran reda, warga menjalin kesepakatan di Aula Kantor Lurah Bukit Duri pada Jumat malam. Jika kembali ribut maka seluruh bantuan sosial (bansos) yang diterima keluarga pelaku tawuran akan dicabut.

Menurut Ngasri, kesepakatan itu supaya menimbulkan efek jera. Orangtua juga diharapkan tidak lepas tangan. Sebaliknya, aktif mengawasi anak-anaknya dalam pergaulan sehari-hari dan penggunaan media sosial karena bisa menjadi pintu masuk provokasi.

Baca JugaDi Manggarai, Tawuran Bisa Terjadi Kapan Saja 

Selain pencabutan bansos, disiapkan pula sanksi sosial. Pelaku tawuran wajib ikut sistem keamanan lingkungan (siskamling) setiap hari. RT/RW pun diperkenankan menyiapkan sanksi lain sesuai kesepakatan bersama.

Ngasri menambahkan, warga Bukit Duri mengusulkan agar patroli oleh penegak hukum rutin dilakukan, jangan hanya ketika terjadi tawuran. Selain itu, mendorong pemanfaatan kamera pemantau (CCTV) lingkungan dan jam malam di tingkat RW.

"Tawuran kan tidak hanya dibubarkan. Harus dicegah dengan komunikasi antara pemerintah, penegak hukum, pengurus warga, dan tokoh masyarakat. Jangan sampai setelah reda, besok atau lusa tawuran lagi," tutur Ngasri.

Ubah stigma

Selain Bukit Duri, tawuran di kawasan tersebut kerap terjadi antarwarga dari Kelurahan Pegangsaan dan Kelurahan Menteng Atas di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, serta Kelurahan Manggarai dan Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk mengatasi tawuran dari tahun ke tahun. Pada 30 Oktober 2019 di Pasaraya Manggarai, warga dari empat kelurahan di atas berikrar menciptakan kedamaian, menjaga kampung, dan menolak segala bentuk stigma negatif yang selama ini melekat, termasuk julukan sebagai kampung tawuran (Kompas, 30 Oktober 2019).

Pemprov Jakarta kemudian menggelar Manggarai Bershalawat pada 2025 untuk mengurai akar masalah tawuran. Dalam kesempatan tersebut diberikan bantuan peralatan olahraga, hadroh, dan marawis hingga Kartu Jakarta Pintar Plus dan tebus ijazah, serta menyiapkan 4.000 lapangan pekerjaan, misal, pasukan oranye (PPSU) yang syaratnya diturunkan jadi minimal lulusan SD.

Baca JugaJejak Panjang Kekerasan di Balik Bentrokan Maut Jalan Tambak

Selanjutnya, sejak November 2025 dibentuk Satgas Jaga Jakarta. Satu dari sekian tugasnya ialah menangani kerawanan sosial, seperti tawuran, konflik antarwarga, dan kriminalitas.

Ketua RT 011 RW 004 Kelurahan Manggarai, Bayu Andriyanto menyebut, tawuran telah membentuk stigma terhadap wilayah dan warga di dalamnya. Padahal, tidak semuanya terkait dengan seri kekerasan itu dari waktu ke waktu.

“Manggarai terus mendapatkan cap sebagai kampung tawuran. Di sini banyak warga yang bekerja, anak-anak sekolah, pedagang, dan masyarakat yang setiap hari menjalankan aktivitasnya dengan baik,” ucap Bayu pada Sabtu (22/8/2026).

Bayu yang juga tokoh masyarakat setempat mengatakan, stigma berpengaruh terhadap cara orang luar memandang warga setempat. Salah satu yang dikhawatirkan adalah anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan ataupun peluang ekonomi lain karena pandangan negatif suka tawuran.

"Jangan sampai mereka (generasi muda) menanggung akibat dari stigma yang muncul karena pandangan yang tidak tepat,” kata Bayu.

Menurut Bayu, persoalan tawuran harus ditangani secara serius dari akarnya. Akan tetapi, perlu dibedakan antara tindakan individu atau kelompok tertentu dengan masyarakat secara keseluruhan.

Baca JugaMelebur Tawuran di Sasana Tinju Pasar Rebo

Mereka tak membela tawuran. Warga, pemuda, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan terus berupaya untuk menjaga kampung sekaligus meluruhkan stigma tersebut.

"Kami tidak mau dikenal karena sejarah tawuran, tetapi kehidupan warga yang beragam dan hal baik lainnya," kata Bayu.

Baca JugaPerayaan Kebebasan di Kolong Jalan Layang Slipi

Harapan serupa diutarakan Ketua RT 004 RW 012 Kelurahan Manggarai, Khoirur Rozikin. Warga berupaya menjaga kampungnya sambil berbenah agar lepas dari bayang-bayang gemar tawuran.

Iyung begitu sapaan karibnya mengutarakan bahwa titik-titik yang selama dikenal sebagai lokasi tawuran di kawasan tersebut adalah kolong Manggarai, depan Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, Pintu Air Manggarai, dan area belakang Stasiun Manggarai.

“Dari dulu memang titiknya di situ, tetapi jangan setiap tawuran dikaitkan dengan warga Manggarai,” kata Iyung.

Tokoh pemuda setempat ini menambahkan, mereka memperbaiki diri agar lepas dari anggapan kampung tawuran. Salah satunya masukan warga kepada pemerintah soal angka pengangguran dan kurang optimalnya ruang publik untuk olahraga atau kegiatan sosial.

"Kami butuh perhatian. Saluran untuk ekspresi diri. Kalau terpenuhi pasti pikirannya menata hidup lebih baik," ujar Iyung.

Saluran energi

Gubernur Jakarta Pramono Anung secara terpisah pada Sabtu ini menyatakan, tidak ingin menyelesaikan tawuran setengah-tengah atau hanya setiap ada kejadian. Tawuran harus dibereskan dari akar masalahnya, seperti saluran energi warga terutama anak muda.

"Saya lebih ingin menyelesaikan bukan dengan cara bersifat kasuistis, hanya sesaat saja, tetapi yang paling utama dan terutama adalah bagaimana anak-anak muda itu energinya tersalurkan secara lebih baik dan mereka kemudian bisa saling menghormati, berkomunikasi dengan baik," ucap Pramono.

Ia mencontohkan, sasana tinju di kolong flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur sejak awal tahun 2026. Fasilitas itu bukan sekadar untuk olahraga, tetapi saluran energi guna mengurangi tawuran.

Menurut Pramono, sasana tinju, lapangan bulu tangkis, futsal, sepak bola mini, dan lainnya akan dibangun untuk kegiatan warga di banyak lokasi. Manggarai, misalnya, sedang masif pembangunan angkutan umum, yakni LRT Jakarta dan penataan Stasiun Manggarai. Pembangunan tersebut akan diikuti dengan pemenuhan kebutuhan warga, baik berolahraga, berkesenian, berkebudayaan, dan sebagainya.

"Saya meyakini untuk menyelesaikan tawuran tidak semata-mata kemudian hanya bersifat jangka pendek. Saya ingin menyelesaikannya lebih mendasar dan jangka panjang," kata dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Alasan Persija Jakarta Lepas Mariano Peralta ke Persib Bandung Terjawab: Bomber Timnas Swedia Alexander Jeremejeff Jadi Pilihan Shin Tae-yong
• 20 jam lalu
0
thumb
BMKG Terus Lakukan Survei Pascagempa NTT untuk Perkuat Mitigasi Risiko
• 3 jam lalu
0
thumb
Pasar Kripto Bangkit Lagi, Bitcoin Melesat Hampir 23%
• 7 jam lalu
0
thumb
Tertinggi dalam 7 Tahun, Nilai Investasi Hotel di Asia Pasifik Melonjak 54 Persen di Semester I-2026
• 16 jam lalu
0
thumb
Film Animasi Niu Lai Malah Rajai Box Office China
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.