Jakarta, VIVA – Pasar investasi hotel Asia Pasifik mencatat kinerja semester I terkuat dalam tujuh tahun, di tengah tekanan global, volatilitas ekonomi, dan sentimen investor yang selektif.
Chief Executive Officer (CEO) JLL Hotels & Hospitality Group Asia Pasific, Nihat Ercan memaparkan, data dan analisis JLL mencatat bahwa pasar hotel menunjukkan performa yang solid pada paruh pertama 2026, dengan volume transaksi mencapai US$6,8 miliar atau naik 54 persen dibandingkan semester I-2025.
“Di luar expektasi, minat investasi di sektor hotel terus menunjukkan tren positif yang menegaskan daya tarik aset perhotelan di Asia Pasifik," kata Nihat dalam keterangannya, Jumat, 21 Agustus 2026.
- Instagram The Quincy Hotel
"Fundamental pasar yang solid dan aktivitas transaksi yang kuat di kawasan ini, turut mendorong investor untuk lebih selektif dengan mengutamakan kepastian dalam berinvestasi dan mengkaji peluang sebelum mengalokasikan modal,” ujarnya.
Menurut JLL, kinerja pasar di kawasan Asia Pasifik bervariasi, dengan tiga pasar utama yang menjadi penggerak pertumbuhan aktivitas investasi pada semester I-2026.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah mengatakan, Jepang memimpin kawasan dengan nilai transaksi mencapai US$1,9 miliar, tumbuh 75 persen secara tahunan. Aktivitas investasi ditandai oleh tiga transaksi portofolio utama, yakni akuisisi JPN Kanagawa Hotel Portfolio oleh AB Capital, pembelian JPN Pelican Hotel Portfolio oleh Tosei, serta akuisisi Sapporo Real Estate oleh KKR & PAG.
Tiongkok mencatat volume transaksi sebesar US$1,5 miliar, meningkat signifikan 224 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Aktivitas di pasar sekunder mendominasi kuartal II-2026, dimana lelang turut meningkatkan aktivitas transaksi.
"Terutama untuk properti yang mengalami tekanan finansial dan aset yang nilainya berada di bawah harga pasar, seperti misalnya penjualan sembilan aset oleh R&F Group," kata Farazia.
Australia mencatat transaksi senilai US$901 juta, meningkat 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu didorong oleh investor swasta, family office, dan pemilik-operator, yang bersaing mendapatkan aset kelas menengah di kawasan metropolitan dan regional. Sementara itu, investor ekuitas swasta dan pengelola dana lebih berfokus pada properti di kawasan pusat bisnis (CBD) dan aset premium.






Komentar (0)