Menjaga tubuh tetap terhidrasi selama ini lebih sering dikaitkan dengan kesehatan fisik, seperti menjaga fungsi organ, mengatur suhu tubuh, hingga mencegah dehidrasi. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan memenuhi kebutuhan cairan harian juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis, termasuk suasana hati atau mood.
Penelitian berjudul Habitual Total Water Intake and Dimensions of Mood in Healthy Young Women yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite pada 2015 oleh Colleen X. Muñoz dan tim dari University of Connecticut, Amerika Serikat, menemukan bahwa perempuan muda yang mengonsumsi air lebih banyak setiap hari cenderung memiliki kondisi mood yang lebih baik dibanding mereka yang mengonsumsi air lebih sedikit.
Penelitian Melibatkan 120 Perempuan MudaDalam penelitian ini, sebanyak 120 perempuan sehat dengan usia rata-rata 20 tahun dilibatkan sebagai partisipan. Selama lima hari berturut-turut, mereka diminta mencatat seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Dari catatan tersebut, peneliti menghitung total water intake (TWI), yaitu total asupan air yang berasal dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi, bukan hanya air putih. Selain itu, peneliti juga menghitung asupan kafein, protein, karbohidrat, dan lemak.
Untuk mengetahui kondisi psikologis para peserta, peneliti menggunakan kuesioner Profile of Mood States (POMS), instrumen yang banyak digunakan untuk menilai berbagai dimensi mood, seperti ketegangan (tension), depresi (depression), kemarahan (anger), kelelahan (fatigue), semangat (vigor), kebingungan (confusion), serta skor gabungan Total Mood Disturbance (TMD). Semakin tinggi skor TMD, semakin besar gangguan mood yang dialami seseorang.
Perempuan dengan Asupan Air Lebih Tinggi Memiliki Skor Mood yang Lebih BaikBerdasarkan total asupan air hariannya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok dengan asupan air rendah mengonsumsi rata-rata 1,51 liter per hari.
Kelompok sedang mengonsumsi sekitar 2,25 liter per hari.
Kelompok tinggi mengonsumsi sekitar 3,13 liter per hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan air tertinggi memiliki skor Total Mood Disturbance yang lebih rendah dibanding kelompok dengan asupan air terendah.
Selain itu, mereka juga menunjukkan tingkat depresi, ketegangan, dan kebingungan yang lebih rendah. Peneliti juga menemukan bahwa jumlah asupan air harian berkaitan dengan skor gangguan mood secara keseluruhan.
Bukan Sekadar Dipengaruhi Pola Makan atau OlahragaMeski demikian, para peneliti menyadari bahwa mood dipengaruhi banyak faktor. Oleh karena itu, mereka turut memperhitungkan variabel lain yang diketahui dapat memengaruhi suasana hati, seperti kebiasaan berolahraga, konsumsi kafein, serta asupan protein, karbohidrat, dan lemak.
Memang, kelompok dengan asupan air tertinggi juga tercatat lebih sering berolahraga, mengonsumsi lebih banyak kafein dan karbohidrat, serta lebih sedikit lemak dibanding kelompok lain. Namun setelah seluruh faktor tersebut dianalisis secara statistik, hubungan antara asupan air dan kondisi mood tetap terlihat.
Meski demikian, kontribusi asupan air terhadap variasi mood tergolong kecil. Peneliti memperkirakan sekitar 10 persen variasi kondisi mood dapat dijelaskan oleh perbedaan total asupan air, sementara sisanya kemungkinan dipengaruhi berbagai faktor lain.
Mengapa Asupan Air Bisa Berkaitan dengan Mood?Penelitian ini tidak dirancang untuk menjelaskan mekanisme biologisnya secara pasti. Namun, peneliti mengemukakan beberapa kemungkinan berdasarkan penelitian sebelumnya.
Salah satunya, kekurangan cairan dalam jangka waktu tertentu diduga dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa dehidrasi dapat memengaruhi fungsi sel saraf dan aktivitas otak, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi suasana hati.
Meski demikian, mekanisme tersebut masih bersifat teoritis dan memerlukan penelitian lanjutan.
Tidak Membuktikan Sebab-AkibatHal penting yang ditekankan peneliti adalah bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, penelitian ini hanya menemukan hubungan antara kebiasaan konsumsi air dan kondisi mood, bukan membuktikan bahwa minum lebih banyak air secara langsung membuat seseorang memiliki suasana hati yang lebih baik.
Menurut peneliti, ada dua kemungkinan yang sama-sama masuk akal. Pertama, orang dengan mood yang lebih baik memang cenderung minum lebih banyak air. Kedua, kebiasaan memenuhi kebutuhan cairan harian mungkin berkontribusi terhadap kondisi mood yang lebih positif. Untuk memastikan hubungan sebab-akibat tersebut, masih diperlukan penelitian lanjutan.
Meski begitu, temuan ini menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan cairan harian dapat menjadi salah satu aspek gaya hidup yang layak diperhatikan, tidak hanya untuk menjaga kesehatan fisik, tetapi juga karena berkaitan dengan kondisi mood sehari-hari.






Komentar (0)