Pakar Ingatkan Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Label Mutlak Kondisi Ekonomi Seseorang

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Pemetaan desil kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), dinilai tak bisa dijadikan label mutlak menentukan kondisi ekonomi seseorang atau sebuah keluarga.

Susilo Nur Aji Cokro Darsono Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengatakan, kondisi ekonomi rumah tangga bisa berubah dalam waktu relatif singkat.

Perubahan itu bisa terjadi karena kehilangan pekerjaan, bertambahnya jumlah tanggungan, perubahan pendapatan, hingga munculnya pengeluaran tidak terduga seperti biaya kesehatan.

“Desil sebaiknya tidak dianggap sebagai label mutlak kondisi ekonomi seseorang. Desil dapat menjadi alat untuk melihat posisi sebuah keluarga dalam kelompok masyarakat, tetapi tetap harus dilihat bersama kondisi lainnya. Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis,” kata Susilo di Yogyakarta, Sabtu (22/8/2026) yang dikutip Antara.

Menurutnya, pemetaan kesejahteraan perlu terus dievaluasi dan dibuat adaptif terhadap perubahan kondisi rumah tangga.

“Pemetaan kesejahteraan perlu mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni perbedaan daya beli antarwilayah melalui deflator spasial, tingkat kerentanan ekonomi rumah tangga, serta penggunaan instrumen pengukuran yang sesuai dengan tujuan kebijakan,” ujarnya.

Adapun DTSEN merupakan basis data tunggal yang menggabungkan berbagai sumber data sosial ekonomi, untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Dalam DTSEN, masyarakat dibagi ke dalam 10 kelompok kesejahteraan. Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sementara desil 10 berada pada kelompok paling tinggi.

Pemeringkatan itu salah satunya menggunakan metode Proxy Means Test (PMT), dengan sejumlah indikator yang relatif stabil untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Tapi Susilo mengingatkan, kesejahteraan keluarga tidak hanya ditentukan dari pendapatan.

Kondisi ekonomi juga dipengaruhi kepemilikan aset dan tabungan, jumlah tanggungan, jenis pekerjaan, utang, hingga akses terhadap layanan dasar.

“Karena itu, satu angka desil belum tentu dapat menggambarkan keseluruhan kondisi sebuah keluarga. Terlebih, situasi ekonomi rumah tangga dapat berubah setelah data digunakan dalam proses pemetaan,” katanya.

Susilo menilai desil tetap penting sebagai alat untuk membantu pemerintah memetakan kesejahteraan masyarakat. Tapi angka itu perlu dibaca bersama informasi sosial ekonomi lainnya agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran. “Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis,” katanya. (ant/bil/iss)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Saat Korupsi Masuk Kampus, KPK Bongkar Pemerasan Kursi Maba di Unsoed
• 8 jam lalu
0
thumb
Ormas se-Pati Berkumpul, Deklarasi Tolak Provokasi dan Sepakat Jaga Kedamaian
• 13 jam lalu
0
thumb
Pengembangan Jangka Panjang Jadi Kunci Kematangan Perusahaan Keuangan
• 31 menit lalu
0
thumb
Bertolak ke Kalimantan, Prabowo Minta Temuan Pelanggaran Karhutla Ditindak Tegas
• 5 jam lalu
0
thumb
PBB: Ebola di RD Kongo Picu Kematian hingga 1.250 Kobran dalam 20 Hari
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.