GRID.ID – Sudah lebih dari dua dekade berkarier di industri film Indonesia, Teuku Rifnu Wikana, menjadi satu-satunya aktor yang berperan membacakan esai dalam Pameran Maestro Film Indonesia 2026 Asrul Sani.
Teuku Rifnu Wikana lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 3 Agustus 1980. Ia merupakan aktor keturunan Aceh yang juga dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario.
Sebelum dikenal sebagai aktor, Rifnu sempat menjalani beberapa pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia pernah menjadi manajer radio di Pematangsiantar dan kemudian merantau ke Jakarta untuk mengejar karier di dunia seni peran.
Perjalanan Rifnu di layar lebar dimulai melalui film pertamanya, Mengejar Matahari pada 2004. Kesempatan tersebut datang secara tidak terduga ketika ia awalnya hanya mengantar temannya ke lokasi casting, tetapi akhirnya mengikuti proses pemilihan pemeran.
Setelah debut di dunia perfilman, nama Rifnu perlahan semakin dikenal oleh penonton Indonesia. Ia kemudian membintangi sejumlah film, seperti 9 Naga (2006), Mendadak Dangdut (2006), Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007), Otomatis Romantis (2008), hingga Laskar Pelangi (2008).
Semakin dikenal luas lewat perannya sebagai Bakrie dalam film Laskar Pelangi (2008), Rifnu terus menunjukkan kemampuan aktingnya melalui berbagai karakter. Ia kemudian tampil dalam sejumlah film, seperti Sang Penari (2011), Habibie & Ainun (2012), Jokowi (2013), Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), hingga Perempuan Tanah Jahanam (2019).
Rifnu juga dikenal sebagai aktor yang tidak terpaku pada satu jenis karakter. Ia dapat tampil sebagai tokoh serius, ayah penyayang, karakter antagonis, hingga sosok dengan karakter gelap yang membuat penonton ikut terbawa suasana.
Kemampuan akting semakin berkembang melalui berbagai peran yang dimainkan Rifnu dalam film beberapa tahun terakhir. Di film Di Ambang Kematian (2023), ia memerankan Suyatmo, sosok ayah penyayang, sementara dalam Qodrat 2 (2025), Rifnu tampil sebagai Assu’ala, sosok iblis yang menyeramkan.
Di mata penonton, Rifnu pun kerap dikenal sebagai aktor dengan karakter yang terasa kuat. Perannya yang beragam membuat penonton tidak hanya mengingat wajahnya, tetapi juga kehebatannya dalam bermain peran.
Kemampuan akting Rifnu juga membawanya meraih berbagai penghargaan. Salah satu pencapaian terbesar datang lewat film Night Bus, ia meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik sekaligus Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Rahabi Mandra di Festival Film Indonesia 2017.
Tidak hanya berakting, Rifnu juga terlibat dalam proses kreatif berbagai film. Salah satunya film Night Bus (2017), Menutup Malam Dengan Harapan (2021), hingga Ray of Light (2022). Prestasi ini menjadikannya tidak hanya berada di depan kamera tetapi juga berkembang ke balik layar.
Kini, Teuku Rifnu Wikana masih aktif dalam berbagai proyek perfilman Indonesia. Keterlibatannya dalam Pameran Maestro Film Indonesia 2026 pun menjadi salah satu momen yang memperlihatkan konsistensinya dalam dunia seni dan perfilman Tanah Air. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)