Wall Street Naik Tipis di Tengah Tekanan Jual Pasar Obligasi

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

New York: Wall Street ditutup lebih tinggi pada Jumat, 21 Agustus 2026, meskipun aksi jual di pasar obligasi kembali menguat. Sentimen pasar terdorong oleh lonjakan di sektor material, reli pada saham-saham terkait mata uang kripto, serta data positif mengenai aktivitas bisnis AS.

Namun, saham-saham AS mencatat penurunan mingguan, tertekan oleh lonjakan imbal hasil (yield) Treasury dan kenaikan harga minyak.

Dikutip dari Investing, Sabtu, 22 Agustus 2026, indeks acuan S&P 500 naik 0,4 persen dan berakhir di level 7.674,39 poin, indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi menguat 0,4 persen ke posisi 26.180,46 poin, dan indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average naik satu persen untuk ditutup pada level 53.276,81 poin.

Selama sepekan, S&P turun 1,4 persen, Nasdaq merosot 2,1 persen, dan Dow turun 0,9 persen.  Pergerakan tajam di pasar obligasi Sebagian besar perhatian minggu ini tertuju pada sektor pendapatan tetap (fixed-income). Sebelum hari Rabu, obligasi Treasury AS berjangka waktu lebih panjang khususnya telah mengalami aksi jual—kira-kira sejak keputusan suku bunga Federal Reserve bulan Juli—yang dipicu oleh kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak serta kekhawatiran mengenai besarnya jumlah utang yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan berkapitalisasi pasar sangat besar (mega-cap) untuk mendanai belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI). 

Pada hari Selasa, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,337 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun mencatatkan rekor tertinggi baru dalam 52 minggu di angka 4,748 persen.

Obligasi dengan tenor lebih pendek mencatatkan kinerja yang jauh lebih baik, terbantu oleh data ekonomi terkini yang mengurangi ekspektasi akan kenaikan suku bunga Fed dalam waktu dekat.

Baca Juga :

BI: Uang Beredar Tumbuh 8,3% Juli 2026, Capai Rp10.371,1 Triliun

(Ilustrasi. Foto: iStock)

Kemudian, pada hari Rabu, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan nilai pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang menjadi setidaknya USD4 miliar dari sebelumnya USD2 miliar. Intervensi tak terduga ini memicu reli pada obligasi jangka panjang yang menyebabkan imbal hasil turun. 

Namun, sebagian besar kenaikan tersebut terhapus pada hari Kamis dan Jumat, yang mengindikasikan bahwa para pedagang memandang langkah itu hanya sebagai solusi jangka pendek. Kekhawatiran fiskal yang dipicu oleh berita bahwa utang AS telah melampaui angka USD40 triliun juga turut membayangi sentimen pasar.

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun terakhir tercatat naik 3,6 basis poin menjadi 5,273 persen, sementara imbal hasil tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 4,733 persen. Sektor material dan kripto mendorong pasar Beralih dari pasar obligasi, Wall Street pada hari Jumat mendapat dorongan dari lonjakan sebesar 2,2 persen pada sektor material indeks S&P 500. 

Kenaikan ini didukung oleh harga tembaga yang mencetak rekor bulan ini akibat kombinasi berbagai factor, kelangkaan pasokan, penurunan produksi tembaga olahan dari Tiongkok, ketidakpastian terkait tarif impor tembaga AS, serta permintaan besar-besaran terhadap logam tersebut untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange ditutup pada harga US$14.036,50 per ton, sementara kontrak berjangka tembaga di COMEX naik 1,8 persen menjadi USD6,5823 per pon. 

Saham-saham terkait mata uang kripto juga turut mendorong pasar pada hari Jumat; Robinhood Markets dan Coinbase masing-masing ditutup dengan kenaikan 13,7 persen dan 8,2 persen, serta menempati posisi tiga besar dalam hal persentase kenaikan pada indeks acuan S&P 500. 

Bitcoin dan mata uang kripto lainnya mencatatkan lonjakan permintaan yang signifikan pekan ini menyusul langkah intervensi Departemen Keuangan AS serta seruan Presiden Donald Trump kepada para pembuat kebijakan untuk mengesahkan regulasi yang jelas bagi industri tersebut.

Di sisi lain, agenda ekonomi hari Jumat tergolong padat didukung oleh data awal Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global. Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan aktivitas bisnis AS naik menjadi 56,0 pada bulan Agustus; angka ini melampaui perkiraan sebesar 54,0 dan meningkat dari angka 54,5 pada bulan Juli. 

Pencapaian ini menandai kenaikan tercepat sejak April 2022. Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja kuat aktivitas bisnis di sektor jasa, yang mencatat laju tercepat sejak Desember 2024. Namun, pertumbuhan sektor manufaktur justru menyentuh level terendah dalam lima bulan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pelni Hentikan Sementara Operasional KM Egon dan KM Wilis karena Jalani Docking hingga Akhir Agustus
• 7 jam lalu
0
thumb
Prabowo Berangkat ke Kalimantan Pimpin Penanganan Karhutla
• 3 jam lalu
0
thumb
BNI wondrX 2026 Resmi Dibuka di ICE BSD, Targetkan 80 Ribu Pengunjung
• 18 jam lalu
0
thumb
Rumah di Bima Terbakar, Pasangan Lansia Tewas
• 1 jam lalu
0
thumb
Kembang Goeyang, Restoran Indonesia Peranakan dengan Nuansa Colorful & Modern
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.