VIVA –Sering terbangun pada pukul 02.00 atau pukul 03.00 pagi? Bangun di waktu tersebut sebenarnya bukan hal yang jarang terjadi. Kebanyakan dari mereka terbangun di waktu tersebut karena jam tidur mereka lebih awal.
Ada dari mereka yang terbangun di waktu tersebut lantaran ingin menjalankan ibadah solat sunah. Namun jika dilihat dari sisi kesehatan, apa yang menyebabkan seseorang bangun di waktu tersebut?
Melansir laman Healthline, Sabtu 22 Agustus 2026, ada banyak alasan seseorang bisa terbangun pada pukul 02.00 atau pukul 03.00 pagi. Anda mungkin lebih sering terbangun ketika sedang mengalami stres. Kebiasaan terbangun pada waktu tersebut juga bisa menjadi salah satu tanda insomnia.
Menentukan penyebab gangguan tidur seperti ini terkadang tidak mudah. Namun, beberapa faktor berikut mungkin bisa menjelaskan mengapa Anda sering terjaga pada pukul 02.00 atau pukul 03.00 pagi.
1. Stres
Jika kebiasaan terbangun pada waktu tersebut baru terjadi belakangan ini, stres bisa menjadi salah satu hal pertama yang perlu diperhatikan. Ketika merasa stres, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatik sehingga Anda bisa tiba-tiba terbangun di tengah malam.
Saat itu, detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat. Perubahan yang terjadi pada tubuh tersebut kemudian bisa membuat Anda sulit untuk kembali tidur.
Tingkat stres juga bisa meningkat ketika ada sesuatu dalam hidup yang membuat Anda cemas atau khawatir. Hal ini dapat berkaitan dengan perubahan atau ketidakpastian dalam pekerjaan, hubungan, kondisi kesehatan, maupun masalah keuangan.
Jika stres berlangsung dalam waktu lama, sebaiknya bicarakan kondisi tersebut dengan dokter. Terapi maupun perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi tingkat stres.
2. Insomnia
Insomnia merupakan gangguan tidur yang dapat didiagnosis ketika seseorang mengalami kesulitan untuk kembali tidur setelah terbangun pada malam hari secara berulang.
Sebagian besar masyarakat pernah mengalami masalah tidur, tetapi insomnia kronis memiliki kriteria tertentu. Kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur yang terjadi setidaknya 3 malam dalam seminggu selama 3 bulan atau lebih, disertai dampak pada aktivitas di siang hari, dapat dikategorikan sebagai insomnia kronis.
Salah satu penelitian menemukan bahwa sekitar 10 hingga 20 persen populasi mengalami insomnia, dan angkanya dapat meningkat hingga 40 persen pada kelompok usia lanjut.






Komentar (0)