Airlangga Buka Suara soal Pembatasan Pertalite bagi Desil 9 dan 10

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah memastikan skema pembatasan subsidi energi tersebut akan diselaraskan dengan kriteria jenis kendaraan bermotor yang digunakan masyarakat.

Airlangga Buka Suara soal Pembatasan Pertalite bagi Desil 9 dan 10. (Foto Rohman/IMG)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons wacana pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite bagi kelompok masyarakat berpenghasilan atas yang masuk dalam kategori desil 9 dan 10.

Pemerintah memastikan skema pembatasan subsidi energi tersebut akan diselaraskan dengan kriteria jenis kendaraan bermotor yang digunakan masyarakat.

Baca Juga:
Masyarakat Berebut Pertalite, Kementerian ESDM Atur Alur Distribusi BBM Subsidi

Meski demikian, penataan skema penyaluran subsidi terus dievaluasi agar belanja fiskal negara tidak dinikmati oleh kalangan yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi.

"Subsidi energi kan sudah diberikan dan terhadap Pertalite maupun Biodiesel tidak naik, sehingga menjadi akses bagi masyarakat. Namun, penyalurannya diprioritaskan kepada jenis mobil-mobil tertentu," ujar Airlangga saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (21/8/2026). 

Baca Juga:
Pemerintah Bakal Perketat Pembelian Pertalite, Desil 9-10 Harus Beralih ke BBM Nonsubsidi

Berdasarkan penetapan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), tingkat kesejahteraan masyarakat dikelompokkan ke dalam 10 fraksi atau desil. Desil 1 mewakili 10 persen kelompok penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah, sedangkan desil 9 dan 10 merupakan kategori masyarakat pada strata ekonomi teratas atau 20 persen paling sejahtera.

Baca Juga:
Bahlil dan Purbaya Saling Puji Usai Bahas Skema Pembatasan Subsidi Pertalite

Dalam rencana penataan subsidi energi, pemerintah mengkaji pengetatan akses BBM penugasan Pertalite agar kelompok desil 9 dan 10 beralih ke BBM nonsubsidi. Langkah ini ditujukan untuk mengendalikan konsumsi kuota BBM nasional serta memastikan anggaran kompensasi energi ratusan triliun rupiah mengalir tepat sasaran kepada masyarakat rentan dan berpenghasilan menengah ke bawah.

Untuk memudahkan pengawasan teknis saat pengisian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), pemerintah memilih pendekatan berbasis spesifikasi dan jenis kendaraan ketimbang verifikasi identitas personal maupun mencermati kelompok ekonomi kelas menengah yang rentan miskin.

Kapasitas mesin dan tipe mobil dinilai menjadi parameter fisik untuk menggambarkan tingkat kemampuan ekonomi pemiliknya.

"Pembatasan subsidi ini berbasis dari jenis kendaraannya, karena tipe kendaraan itu mencerminkan kelompok desil masyarakat. Nanti skema ini akan kita matangkan lagi," ujar Airlangga.

Pemerintah saat ini masih menunggu hasil pemutakhiran data sensus ekonomi BPS sekaligus mematangkan sistem digitalisasi pencatatan di SPBU sebelum kebijakan pembatasan Pertalite diberlakukan secara bertahap.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat ke Rp 17.737 usai Pasar Respons Positif Rencana Pemerintah Pangkas Kuota BBM Subsidi
• 13 jam lalu
0
thumb
Rektor Unsoed Terjaring OTT KPK, Diduga Terkait Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
• 11 jam lalu
0
thumb
Bisa-bisanya Tak Kenal Tempat! Viral Sejoli Bercumbu di Pinggir Jalan Bogor, Warga Sekitar: Kiw Kiw
• 2 jam lalu
0
thumb
Ramai Kejadian Nge-tag Parkir, Pakar Sebut Menyalahi Etika
• 14 jam lalu
0
thumb
Foto: Hikayat Srikandi Nusantara Menggema di Pagelaran Sabang Merauke 2026
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.